
Beberapa hari aku begitu terpuruk di dalam kamar. Aku tak bersemangat untuk bekerja. Aku terlihat begitu menyedihkan. Banyak sak kali notifikasi pesan dari teman-temanku namun tak satupun yang kutanggapi. Aku hanya berharap Rudy menghubungiku. Pikiranku kala itu terbelah menjadi dua. Di satu sisi aku begitu mengharap Rudy kembali dan di sisi lain aku begitu takut Rudy bersama perempuan lain.
Kurang lebih tiga hari sudah sejak aku dan Rudy berpisah. Aku mulai membalas semua pesan dari teman-temanku. Aku mulai terbuka dan mencoba membuka diriku untuk menghadapi kehidupan. Cinta boleh saja berakhir tapi hidupku masih harus terus berjalan. Meski terkadang aku kembali bersedih setiap kali teringat akan Rudy, aku mencoba untuk tetap tegar. Aku duduk di ayunan melihat gallery fotoku bersama Rudy. Aku mengingat lagi kisah kami dari awal. Begitu banyak cerita yang sudah kami ciptakan selama kurang lebih dua tahun ini. Suka duka sudah kami lewati bersama. Meski rasa kecewa yang pernah Rudy perbuat padaku dulu masih tersisa. Hal itu kini sudah menjadi kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan.
Di tengah lamunanku, aku dikagetkan dengan suara ponselku. Saat melihat notifikasi, aku melihat sebuah pesan dari Rudy. Bagai mendapat lotre, aku melompat kegirangan. Aku langsung saja membuka pesan itu.
***Fanda, tolong maafkan aku yang sudah tidak percaya kamu dan menyia-yiakanmu selama ini. Kini aku sudah sadar bahwa aku benar-benar mencintai kamu Fanda. Kamu yang aku mau. Maafkan aku yang selalu bersikap kasar dan selalu ngomong kasar karna egoku. Fanda sayang, aku benar-benar minta maaf.
Aku hanya ingin peluk kamu sekarang Rud.
Aku ke rumah kamu sekarang ya.
Iya aku tunggu***.
Aku begitu girang menanti Rudy datang ke rumah. Segera aku mandi dan berdandan rapi untuk menyambut Rudy. Aku ingin berpenampilan sempurna dihadapan Rudy setelah sebelumnya selama beberapa hari aku tak pernah mengurus diriku sendiri.
Tak perlu waktu lama, Rudy pun akhirnya sampai di rumahku. Aku langsung saja berlari menemuinya dan memeluknya dengan begitu erat. Aku ingin melepas rinduku padanya. Rudy pun membalas pelukanku.
"Aku mohon jangan tinggalin aku lagi." kataku sambil mencoba menahan air mataku dan terus memeluknya.
"Iya sayang. Aku yang harus banyak-banyak minta maaf sama kamu sama Ayah Ibu kamu, Fanda. Eh tapi ngomong-ngomong badan kamu kok panas sih yank? Kamu demam ya? Pasti karna kepikiran ya. Maaf ya sayang." kata Rudy sambil membelai rambutku.
"Nggak apa-apa kok, aku udah merasa lebih baik sekarang karna kamu ada disini." aku masih tak melepaskan pelukanku.
"Minum obat dulu ya."
"Nggak mau. Cukup dengan pelukan kamu aja udah cukup kok. Tolong bertahan seperti ini untuk beberapa saat."
"Baiklah. Terserah kamu aja deh." Rudy kembali memelukku erat.
Kami pun terdiam untuk beberapa saat dan hanyut dalam dekapan. Rudy terus memandangku dengan mata memerah menahan air matanya. Dia mengusap pipiku dan membelai rambutku kemudian kembali memelukku erat. Aku merasa punggungku seperti basah oleh tetesan air. Ternyata Rudy tak bisa menahan air matanya lagi. Aku melihat sejenak Rudy menitikan air matanya. Raut mukanya begitu hancur dan begitu bersedih.
"Apa yang membuatmu seperti ini Rud?"
"Aku benar-benar menyesal udah nyia-nyiain kamu Fanda. Aku baru sadar bahwa kamu begitu berarti untukku. Selama kita putus aku seperti jadi gila. Aku begitu kalut dengan keadaan di antara kita. Kawan-kawan menasehatiku dan mencoba membuka pikiranku. Aku sadar selama ini kamu selalu ada untukku namun aku terlalu sibuk dengan kesenanganku hingga lupa denganmu. Aku minta maaf Fanda meski kini mungkin kamu tidak akan lagi percaya dengan kata maafku. Aku bener-bener nyesel Fanda. Maaf... Aku minta maaf."
"Aku selalu maafin kamu Rudy. Aku selalu berusaha untuk ada untukmu selalu namun sering kali kamu lupa akan kehadiranku. Semua itu tidak aku permasalahkan selagi aku bisa selalu bersamamu karna aku benar-benar cinta sama kamu dan kamu tau itu."
"Iya Fanda. Maaf karna selama ini aku selalu lupa akan kehadiranmu."
"Sudahlah tak perlu diungkit lagi. Ayo kita mulai lagi dari awal dan berjanji untuk seterusnya, kita belajar dari kesalahan kita sebelumnya. Kita adalah pasangan jadi jangan lagi ada yang disembunyikan. Kita bisa saling berbagi dan melengkapi seperti awal kita bersama."
"Aku berjanji untuk kita. Terima kasih Fanda kamu bersedia memberiku kesempatan kedua untukku memperbaiki semuanya."
"Iya sayang."
Setiap akhir pekan Rudy selalu mengajakku untuk sekedar menghabiskan waktu bersama atau untuk berlibur ke tempat wisata. Rudy selalu meluangkan waktunya untuk memberiku kejutan. Setiap kali bertemu, dia selalu memberiku hadiah kecil. Dia bilang itu aku sebagai pengganti setiap kesalahannya dulu. Rudy kembali memanjakanku dengan sikap-sikap romantisnya. Kali ini aku kembali melihat ada kehadiranku di dalam setiap langkah Rudy. Aku selalu berharap kali ini tidak akan pernah berakhir lagi.
Suatu hari, Rudy mengajakku pergi berlibur ke sebuah tempat wisata bersama teman-temannya. Katanya Rudy, kita akan mencari spot-spot keren untuk fotografi. Aku pun menyetujuinya. Sembari bersiap-siap, Rudy mengecek keadaan mobil dan memanaskan mesin.
"Sayang, ayo buruan ini udah siang." kata Rudy dari garasi.
"Iya ini udah selesai kok. Ayo berangkat."
"Kok santai banget sih bajunya."
"Loh kita kan cuma mau refreshing aja kan?"
"Iya sih. Bawa baju yang bagus gih. Nanti kamu jadi model pemotretan yank sama aku juga. Aku mau punya foto tema yang bagus sama kamu."
"Oke deh aku bawa baju beberapa. Tunggu bentar ya."
"Iya oke yank. Jangan yang terlalu seksi ya. Aku nggak mau banyak cowok liatin kamu nanti."
"Iya cerewetku."
Aku pun kembali ke kamar dan mengambil beberapa dress. Setelah mengemas beberapa barang, kami pun berangkat menemui teman-teman Rudy yang lain. Ternyata teman-teman Rudy juga membawa pasangan masing-masing. Setelah berkumpul, kami pun mulai berangkat menuju tempat tujuan. Perjalanan cukup jauh dari kota. Di dalam mobil, aku dan Rudy begitu asik bernyanyi. Tanpa sadar, kami pun sampai ke tempat tujuan. Sebelum mencari spot-spot keren untuk berfoto, kami mencari warung untuk makan siang. Sembari menunggu pesanan kami datang, salah seorang teman Rudy yang bernama Dani mencoba menyetting kameranya sementara temannya yang satunya lagi memeriksa perlengkapan kamera, sedangkan Rudy mencoba mengajakku berkeliling sambil terus menggodaku.
Dan setelah kami semua selesai makan siang, aku mulai berganti pakaian bersama yang lain. Diperjalanan menuju spot foto yang ditentukan, Rudy mencoba menutupi tubuhku dengan jaketnya.
"Aku nggak suka cowok lain lietin kamu yank." kata Rudy sedikit berbisik padaku.
"Makanya sini peluk aku biar mereka tau kalo aku punya kamu yank." jawabku sambil mengulurkan tanganku
Rudy pun memelukku dengan begitu mesra. Dia masih terus saja menggodaku dengan segala candaannya. Melihat aku dan Rudy begitu asyik sendiri, Dani dan Iko hanya tersenyum pada kami dan tak berani mengganggu. Saat sampai di lokasi, Dani dan Iko mulai mempersiapkan kamera dan mencari angle yang tepat untuk pemotretan. Rudy pun ikut membantu mempersiapkan segala keperluannya.
"Oke udah siap. Ayo Rudy sama Fanda coba foto duluan." kata Dani mempersilahkan kami untuk bersiap.
"Oke bos." jawab Rudy bersemangat dan menggandeng tanganku.
Dani mulai mengarahkanku dan Rudy untuk berpose.
"Cemestry kalian udah bagus tinggal pose aja sesuai kemauan kalian." kata Dani sambil mulai memotret kami.
Aku dan Rudy berpose dengan berbagai gaya seperti sedang melakukan pemotretan Prewedding. Aku merasa Dani begitu banyak memotret kami. Bahkan aku tahu sejak dari awal Dani sudah memotret candid. Puas berfoto bersama, Rudy meminta Dani untuk memotretnya. Selanjutnya Dani pun memintaku untuk menjadi modelnya. Pasangan yang lain pun mendapat gilirannya berfoto termasuk Dani dan pacarnya. Kami mencoba berkeliling di sekitar tempat wisata dan menemukan spot untuk berfoto. Lagi-lagi Dani memintaku dan Rudy untuk bergaya. Sepertinya kali ini aku dan Rudy sengaja menjadi model pemotretan.
Setelah matahari mulai terbenam, kami smua mulai bergegas untuk pulang. Aku merasa cukup lelah hari ini. Meski aku hanya melakukan pemotretan untuk sekedar senang-senang saja. Aku cukup puas dan bahagia bisa kembali bersama Rudy. Hari itu cukup untuk membuktikan bahwa Rudy masih begitu mencintaiku.