
Sejak kejadian Andika mencium pipiku, sejak itu pula aku dan Andika mulai terbuka tentang hubungan kami. Meski hubungan kami masih dalam status Teman tapi Mesra, namun kami sudah menyepakati janji untuk memiliki hubungan yang lebih serius dari ini.
Tiap hari aku selalu lebih dekat dengan Andika. Ngobrol, bercanda, berbagi cerita suka duka bersama. Semua hal selalu kita lewati bersama. Aku sudah meyakini bahwa Andika adalah pilihan terakhirku untuk masa depanku. Cinta datang tak pernah diundang. Aku bisa mengerti sekarang, sekeras apapun kita mengejar cinta jika hal itu bukan takdir kita maka semua itu hanya akan menjadi hiasan dalam perjalanan hidup ini. Memimpikan kesempurnaan dalam cinta bukan perkara penampilan, kesempurnaan cinta itu ada jika kita bisa menerima dan saling memahami. Selama ini aku hanya memimpikan kesempurnaan cinta itu dari penampilan saja tanpa melihat ke dalam hatinya. Hal itulah yang membuatku selalu terluka karna cinta.
Suatu hari Andika ingin mengajakku pergi keluar untuk bisa lebih mengenal lagi.
"Fanda, Sabtu besok keluar yuk. Aku ajak kamu jalan-jalan atau ke cafe buat makan gitu. Mau ya?"
"Boleh. Emang mau ngajak jalan-jalan kemana?"
"Kemana aja asal sama kamu." jawab Andika sambil mengedipkan mata genitnya.
"Iya oke. Kamu jemput aku ya."
"Iya pasti dong. Apa sih yang nggak buat yayang bebebku."
"Genit."
"Genitnya sama kamu nggak apa-apa lah."
\*\*\*
Cuaca Sabtu malam itu seperti mendukung kami untuk bertemu. Langit begitu terang, bintang-bintang terlihat berkedip-kedip seakan ikut berbahagia seperti hatiku saat itu. Sekitar pukul 7 malam, Andika menjemputku di rumah. Aku sudah bersiap untuk pergi, tiba-tiba Bocil datang membawa pasukannya ke rumahku.
"Lu mau kemana, Nda?" tanya Bocil.
"Kencan lah. Emang elu tiap malam Minggu pasti kesini numpang ngopi doang." ejekku.
"Sialan lu, Nda. Kalo pulang bawain roti bakar dong. Oke ya Dik."
"Ogah. Nggak nggak. Udah ngopi numpang gue harus rugi buat beliin roti bakar. Rugi bandar gue." kataku sambil naik ke motor Andika.
"Ah pelit lu." jawab Bocil.
"Bodoamat. Elu aja nggak modal. Udah ah gue mau keluar, awas aja lu pada berantakin rumah gue."
"Iya iya siap tuan putri. Udah sana pacaran dulu. Hus huss."
Andika mulai melajukan motornya. Sepanjang jalan Andika menggenggam tanganku.
"Si Bocil emang sering ke rumah kamu ya?" tanya Andika.
"Iya, udah kayak kakak aja sih sebenernya. Soalnya dia udah dapet mandat dari bokap buat jagain rumah sama jagain aku." kataku menjelaskan pada Andika.
"Kok bisa? Gimana ceritanya?" kata Andika penasaran.
"Ya waktu itu Bocil, Fania dan kawan-kawan sering banget ke rumah. Kebetulan bokap pulang beberapa hari, ketemulah sama bocil tiap hari. Dan sejak itu bokap nitip rumah sama aku ke Bocil."
"Oh gitu. Tapi kalo boleh jujur, aku nggak suka tiap hari kamu di rumah sama cowok yang notabene bukan siapa-siapa kamu. Ya walau dia udah dapet mandat, langsung dari bapak kamu tapi dia kan orang lain. Isi hati orang kan nggak ada yang tau. Aku cuma khawatir aja, lagian kamu kan cewek. Nggak ada ortu di rumah."
"Iya nggak nginep. Cuma kan kurang pas aja ada orang lain, cowok lagi, di rumah kamu ampe malem-malem gitu."
"Nanti aku coba ngomong sama bokap deh biar Bocil nggak terlalu sering ke rumah. Kalo aku yang ngomong langsung ke Bocil malah aku yang nggak enak."
"Iya iya. Eh ngomong-ngomong udah laper belum?" tanya Andika.
"Emm.. Lumayan sih."
"Makan yuk. Kamu mau apa?"
"Apa aja deh. Ngikut kamu aja."
"Jangan ngikut-ngikut mulu nanti kalo aku kasih racun kamu mau ngikut?"
"Iya aku ngikut, tapi sebelum itu kamu aku kasih racun duluan biar kita bareng-bareng koidnya. Hahaha."
"Kamu ini.. ih bikin gemes tau." kata Andika sambil menggenggam tanganku dengan keras.
Tak terasa kami sudah sampai ke Cafe yang dimaksud Andika. Jarak Cafe dan rumahku sebenarnya lumayan cukup jauh, namun karna di sepanjang jalan kami selalu mengobrol dan bercanda, jarak pun jadi terasa dekat. Saat masuk ke Cafe, kami sudah disambut oleh saudara Andika, dia adalah manager dari Cafe tersebut.
"Fanda, ini kenalin sodaraku, dia manager disini." kata Andika sambil memperkenalkan saudaranya.
"Oh Hai. Aku Fanda." kataku sambil menjabat tangan.
"Salam kenal. Aku Raka. Wah ini nih calon kamu mbah yang kamu ceritain itu?" kata Raka.
"Iyalah. Nggak salah kan pilihan gue, Ka?" jawab Andika sambil merangkulku.
"Kamu ini nggak pernah salah pilih pasangan mbah. Oh ya kalian mau pesan apa?"
"Wah kita langsung dilayani sama Pak Manager nih*?" kataku sambil melihat menu.
"Karna kalian tamu spesial malam ini*." sambung Raka.
Aku dan Andika mulai memesan makanan. Setelah Raka mencatat pesanan kami, dia langsung berlalu untuk membuatkan pesanan kami.
"Kamu seneng nggak malem ini?" tanya Andika sambil merangkulku.
"Seneng banget."
"Beneran?" tanya Andika memastikan jawabanku.
"Iya dong." kataku sambil memandang wajah Andika.
"Aku makin nggak sabar buat seriusan sama kamu, Fanda."
Aku hanya membalas perkataan Andika dengan senyuman karna aku begitu terharu sampai tidak bisa berkata apa-apa.