
Akhirnya penghujung tahun telah tiba. Aku berencana menghabiskan malam tahun baru dengan pesta barbeque bersama Mas Ramlan dan teman-teman yang lain. Kali ini Fania dan Ferdi tidak ikut karna mereka sudah punya rencana sendiri. Setiap kali ketika tahun baru akan tiba, aku kembali teringat akan kenangan Rudy. Aku teringat bagaimana Rudy sudah tak mempedulikanku lagi. Haiyah, sudahlah semua sudah berlalu dan aku harus terus menjalani hidupku.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku bersiap-siap dan mengemas barang-barang keperluanku. Karna aku tak tahu tempat pesta barbeque kali ini ada dimana, aku pun meminta Bocil untuk menjemputku. Bocil adalah temanku yang sudah seperti saudaraku sendiri karna hampir tiap hari dia datang ke rumahku.
"Fanda, ayo buruan!" kata Bocil sambil menggedor pintu kamarku.
"Bentar, Cil. Gue lagi dandan."
"Dasar cewek ribet banget mau keluar harus dandan segala. Ayo buruan kalo nggak gue tinggal nih!"
"Berisik banget sih lu, Cil." kataku sambil melempar bantal pada Bocil.
"Keburu malem, Nda. Gue udah laper banget."
"Ya ampun sana ambil makanan di dapur buat ganjel perut."
"Nggak ah bosen gue. Gue lagi pengen ayam bakar."
"Dasar gaya lu, Cil. Ayo berangkat sekarang."
Kami pun berangkat menuju tempat tujuan kami. Kali ini kami mengadakan pesta di rumah Andre. Aku belum pernah ke sana sebelumnya. Andre pernah bilang rumahnya begitu jauh dari kota dan berada di tengah hutan. Sepanjang perjalanan ke rumah Andre, aku hanya melihat perkebunan. Awalnya kami memang melewati sebuah kampung namun setelah itu aku mulai melewati jalan yang penuh dengan pepohonan durian dan tidak ada lampu sama sekali. Perjalanan melewati pepohonan durian itu cukup jauh. Aku pun mulai bertanya-tanya, *Apa bener ini jalan menuju ke rumah Andre?
"*Cil cil bentar deh. Ini beneran jalan ke rumahnya Andre? Kok serem sih*?" kataku penasaran.
"Ya bener lah. Elu takut?" jawab Bocil menggodaku dan menghentikan motornya lalu mematikan mesin motornya hingga tak ada cahaya sama sekali.
"Gue bukannya takut, Cil. Kok jauh amat sih?"
"Sebenernya gue lewat jalan alternatif, Nda. Kalo lewat jalan gede bakal lebih jauh lagi. Tapi lu tenang aja kalo udah siang lewat jalan sini uhh.. syahdu banget deh."
"Emang iya?"
"Iya lah. Besok gue ajak lu jalan-jalan lewat sini."
"Oke siap deh*."
Kami pun melanjutkan perjalanan kami. Hanya perlu waktu 10 menit, kami pun sampai di rumah Andre. Teman-teman yang lain sudah sampai di sana dan mulai mempersiapkan bumbu untuk barbeque.
"Eh ini udah hampir siap loh. Coba nyalain apinya yah." kata Nia menyuruh pacarnya untuk membuat api.
"Oke ini udah hampir jadi apinya, Bu." jawab Tono.
Setelah api jadi, Tono dan Nia mulai membakar ayam. Sedangkan Andre menyiapkan minum untuk kami semua. Mas Ramlan mulai mengambil gitar dan yang lainnya ikut bermusik dan bernyanyi menambah syahdu pesta barbeque kami. Setelah ayam matang, kami semua mulai makan dan bercanda satu sama lain. Karna berada di kampung, kami tidak bisa ikut memeriahkan malam tahun baru itu dengan kembang api. Kami hanya mengakhiri malam itu dengan ngopi dan bermusik bersama.
Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Kami pun bersiap-siap dan berpamitan pada orangtua Andre. Sebelum pulang, Ibu Andre menyuruh kami semua untuk sarapan sebelum pulang. Bahkan saat kami akan pulang, Ibu Andre memberi kami masing-masing sekantong salak.
"Mas mbak ini dibawa ya salaknya buat di rumah." kata Ibu Andre.
"Aduh makasih bu jadi ngerepotin ini." jawab Mas Ramlan dengan sungkan.
"Nggak apa-apa. Ini bapaknya Andre abis panen." kata Ibu Andre sambil menyodorkan pada kami.
"Makasih ya, Bu. Kita udah ngerepotin malah dikasih oleh-oleh gini." Kataku sambil membawa sekantong salak.
"Iya sama-sama mbak. Jangan kapok main kesini ya."
"Iya bu. Kami pamit dulu ya. Makasih, Ndre. Gue pamit ya."
"Gue juga pamit ya, Ndre. Makasih bu oleh-olehnya." kata Mas Ramlan.
"Iya sama-sama mas." jawab Ibu Andre.
"Hati-hati ya bro." sahut Andre.
Sepanjang perjalanan pulang, kami sengaja berjalan-jalan menyusuri jalan yang dipenuhi pohon pinus. Suasananya masih sepi dan begitu asri. Aku begitu menikmati pagi itu ditambah dengan candaan-candaan kami. Walau cuaca pagi itu sedikit mendung dan gerimis, tak menyurutkan kebahagiaan kami. Aku begitu senang memiliki teman yang super asik ini.
Sekitar pukul 10 pagi, aku dan Bocil pun sampai di rumahku. Capek tapi hari itu cukup menyenangkan. Bocil langsung tiduran di sofa, sedangkan aku sendiri langsung ke kamar dan membersihkan diri. Setelah mandi, aku keluar kamar untuk membuat secangkir kopi untuk menghangatkan diri.
"Hei Cil, mandi sono. Kucel banget muka lo." kataku sambil melempar boneka Teddy pada Bocil.
"Ntar lah ngantuk gue." jawab Bocil sambil memeluk boneka Teddy.
"Ya udah terserah lo mana sini remotnya."
"Lu ngopi kok nggak bikinin gue sekalian sih, Nda."
"Elunya aja tidur. Bikin aja sendiri."
"Ogah. Mager gue. Mbak Asih kemana?"
"Lagi belanja. Udah sono bikin aja sendiri sama cuci muka lu."
Baru sebentar nonton TV, aku merasa mataku begitu berat. Aku pun pergi ke kamar dan tidur. Suasana yang mendung menambah nyenyak tidurku.