My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Maaf



Ini sudah saatnya aku bersikap tegas menentukan pilihan. Masalah hati tidak bisa dipaksakan. Selama ini aku tidak pernah mencintai Fery. Rasa nyaman bukan berarti rasa untuk mencintai. Aku harus jujur pada Fery dan mengatakan yang sebenarnya.


Hari itu pikiranku begitu kacau. Kerja pun juga tidak bisa fokus. Dibalik kegelisahanku, Andika selalu setia menghiburku dengan segala candaannya.


"Kenapa yank beb? Kok gelisah gitu?"


"Bingung mau gimana."


"Pasti si Fery ya? Kenapa kamu nggak bilang aja yang sebenarnya? Kenapa harus selalu menunggu?"


"Aku cuma nggak mau bikin dia sakit hati... tapi pada akhirnya aku tetap nyakitin dia juga."


"Semua tergantung hati kamu untuk memilih. "Aku nggak pernah maksa kamu juga untuk bersamaku. Walau ada banyak harapan untuk memilikimu seutuhnya." kata Andika sambil sedikit melirikku dan tersenyum lebar.


Jam istirahat tiba, Fery mencoba menemuiku namun aku terus menghindarinya. Sebelum berlalu, Fery berkata padaku.


"Fanda, sebenarnya kamu kenapa? Apa kesalahanku tidak bisa kamu maafkan?"


"Kamu nggak salah kok. Aku yang salah."


"Lalu kenapa kamu selalu menghindariku? Bahkan kamu justru lebih akrab sama si Andika."


"Aku permisi dulu ya. Aku ada perlu."


"Nanti pulang sama aku ya. Ada yang mau aku omongin."


"Liat nanti ya." kataku sambil berlalu meninggalkan Fery.


Tiba waktunya jam pulang, aku merasa gelisah. Yang kupikirkan saat itu hanya ingin terus bersama Andika. Aku tak ingin lagi berhubungan dengan Fery, namun mulut ini rasanya berat untuk berkata jujur pada Fery. Aku pun sengaja keluar pabrik paling akhir untuk menghindari Fery. Tak disangka, Fery dengan keras hati sudah menungguku di depan kantor.


"Ayo Fanda."


"Bentar ya aku absen dulu."


"Oke aku tunggu."


Andai aku bisa menghilang, aku ingin sekali menghilang saat itu hanya untuk menghindari Fery. Kenapa sekarang aku jadi seorang pengecut yang tak bisa berterus-terang? Sebenarnya ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan kebenarannya pada Fery. Namun aku malah memilih jalan yang justru menyulitkan diriku sendiri. Saat itu sudah tak ada jalan lagi untuk menghindar. Aku pun pulang bersama Fery untuk mengungkapkan semuanya. Siap tidak siap, aku harus bisa siap dengan segala yang sudah kuperbuat.


Fery mengajakku ke alun-alun kota. Kami duduk dibawah pohon dan mulai berbicara mengenai hubungan kami.


"Fanda, apa hubungan kita masih bisa lanjut?" kata Fery sambil terus menatapku seakan mencari jawaban jauh ke dalam hati dan pikiranku.


"Kenapa, Fanda? Apa itu karna kesalahanku yang sudah begitu lancang?"


"Bukan."


"Lalu kenapa, Fanda?"


"Karna aku nggak bisa sama kamu, Fery."


"Apa itu karna Andika?"


Aku hanya terdiam mendengar pertanyaan Fery. Aku tak mampu menyangkal bahwa memang kehadiran Andika telah mempengaruhi hubunganku dengan Fery.


"Kamu tau kalo aku tulus sayang sama kamu, Fanda. Aku bener-bener cinta sama kamu."


"Tapi maaf, Fer. Aku nggak bisa lagi sama kamu. Maaf karna aku terlalu membuka harapan untuk kamu. Hal ini cukup rumit untuk aku jelaskan. Tapi yang jelas mulai saat ini lebih baik kita sudahi aja. Aku nggak mau untuk selanjutnya aku bakal lebih nyakitin kamu, Fer."


"Apa kamu tau, Fanda. Aku sudah bilang sama ortu aku kalo aku mau serius sama kamu. Dan dari kemaren aku minta kamu ikut ke rumah itu karna ortu pingin ketemu sama kamu."


"Ternyata bener apa yang orang-orang bilang, hubungan ini hanya akan membuatku melukai hati kamu, Fery. Aku sudah salah menyikapi suasana yang tercipta di antara kita."


"Jika sudah begini harus bagaimana lagi? Aku tetap akan sayang sama kamu, Fanda."


"Fery, di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa kita hindari. Hal itu adalah takdir dan perasaan. Kita tidak bisa menghindari takdir dari Tuhan dan juga kita tidak bisa menghindari perasaan dari dalam hati kita. Jika boleh jujur, selama ini aku tidak memiliki rasa spesial itu untuk kamu, Fer. Aku hanya terlalu senang dengan keadaan. Maaf, Fery aku tidak bisa memaksakan hal itu."


"Jika itu yang kamu mau aku bisa menerimanya. Tapi aku tidak akan pernah melupakan hal ini, Fanda."


"Maaf, aku hanya tidak ingin ini terus berlarut-larut dan membuatmu terluka nantinya."


"Tapi apa boleh aku bertemu dengan ortumu atau setidaknya aku bisa memberitahu mereka bahwa aku tidak bisa menjagamu lagi mulai saat ini."


"Nanti biar aku sampaikan."


"Enggak! Aku datang baik-baik, pergi juga harus baik-baik. Anggap aja ini sebagai salam perpisahan."


"Ya sudah terserah kamu aja."


Rasanya cukup lega, akhirnya aku bisa mengatakan yang sebenarnya pada Fery. Meski aku tak sepenuhnya mengakui bahkan kehadiran Andika sudah mengakhiri hubunganku dengan Fery. Aku pun masih membela diriku sendiri karna sejak awal sebelum semuanya ini terjadi, aku sudah mulai penasaran dengan Andika. Bahkan aku sendiri tidak menyadari bahwa dari hal itu sudah tumbuh benih-benih cinta dalam hatiku.