My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Kiss



Aku dan Andika sudah tak segan-segan lagi untuk bersama. Kami jadi lebih bebas untuk bercanda atau sekedar mengobrol. Tiap hari di pagi hari, Andika selalu membawakanku sarapan. Dia sudah paham bahwa aku memang tak pernah sempat sarapan di rumah hingga ia selalu saja membawakan sarapan untukku. Saat jam makan siang pun kami sering membeli satu porsi nasi goreng untuk berdua.


"Yank beb, suapin dong sekali-kali biar romantis gitu." kata Andika dengan nada manja.


"Lebay ah!"


"Loh kok lebay? Nggak ada masalah kan kamu nyuapin aku makan? Kalo kamu nyuapin orangutan mungkin sedikit aneh." kata Andika sambil memegang daguku.


"Ya udah sini aku suapin."


"Nah gitu dong. Ini baru yayang bebebku."


Kedekatanku dengan Andika membuat Fania curiga akan adanya hubungan spesial di antara aku dan Andika. Beberapa kali Fania menanyakan tentang hal itu padaku, namun aku selalu mengelak. Bahkan ketika Fania menanyakan pada Andika pun, Andika selalu menjawabnya dengan candaan khasnya.


Tiap jam istirahat Andika dan yang lainnya selalu menyempatkan waktu untuk bermusik menghilangkan rasa lelah. Hal itu menjadi kebiasaan untuk menghibur diri. Bahkan Andika selalu menyanyikan lagu untuk mengungkapkan isi hatinya padaku. Bagiku itu sangatlah romantis dan membuatku klepek-klepek. Bagaimana tidak, seorang wanita dinyanyikan lagu romantis ditambah alunan gitar semakin menyentuh hatiku. Aku sering ikut bernyanyi bersama semua orang walaupun suaraku pas-pasan.


"Fanda kamu pengen nggak bisa nyanyi?" tanya Farhat padaku.


"Mau sih."


"Belajar aja sama Mas Andika, dia pinter bgt nyanyinya."


"Oh ya?" jawabku sambil tersenyum.


"Iya lah. Belajar sama Mas Andika aja nanti dikasih gratis nggak bayar." jawab Farhat penuh semangat.


Sebenarnya aku tau tujuan Farhat menyuruhku untuk belajar nyanyi dengan Andika. Farhat ingin berusaha menjodohkanku dengan Andika. Aku pikir tanpa perlu dijodohkan pun aku akan terus bersama Andika. Ya, walau sampai saat ini kami belum jadian. Aku dan Andika masih berhubungan dengan status Teman Tapi Mesra. Kami tidak memungkiri bahwa kami akan jadian suatu saat nanti.


Sebenarnya tujuan kami berdua sama, kami sama-sama ingin memiliki hubungan yang serius dalam artian menikah. Aku sendiri sudah lelah berpacaran yang selalu berujung putus. Sedangkan Andika, awalanya aku pikir umurnya masih sama seperti teman-temanku yang lain sekitar usia 20an. Ternyata umurnya saat itu sudah 31 tahun. Wajah memang bisa membohongi. Kami sepakat menjalani hubungan ini untuk ke tahap yang lebih serius. Meski saat itu aku belum percaya sepenuhnya dengan janji Andika.


 


\*


 


Suatu hari ketika jam kerja telah usai, semua karyawan pabrik mulai membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pulang. Ada juga beberapa yang mulai menggila. Pada dasarnya kebanyakan karyawan pabrik adalah orang-orang konyol. Ya, hal itu wajar karna kami sudah lelah bekerja lalu melebur rasa lelah itu dengan canda tawa dan tingkah konyol.


Setelah bersih dan bersiap, aku duduk di sebuah bangku kayu dan asik memainkan ponselku. Melihatku duduk sendirian, Andika pun memulai tingkah konyolnya dengan bernyanyi dan menggodaku. Suasana langsung pecah karna semua orang mulai menyoraki Andika dengan candaan. Aku seperti tak merasa kesepian setelah Andika mulai hadir di dalam hidupku.


"Nda, turun yuk. Nebeng ya."


"Ogah! Kalo gue turun sekarang ntar ketemu sama si Fery."


"Emang lu putus nggak baik-baik?"


"Ya baik-baik sih cuma lagi nggak mau ketemu dulu. Nggak enak aja gue."


"Ya elu sih udah gue bilangin juga. Akhirnya kejadian juga."


"Iya iya deh."


"Eh tuh si A'a nglietin lu mulu dari tadi. Liet aja noh mukanya." kata Fania sambil menahan tawa menyuruhku untuk menoleh ke belakang.


Saat akan menoleh, aku begitu kaget karna muka andika cukup dekat dengan mukaku. Aku tak menyadari kehadiran Andika yang sudah duduk di sampingku. Kami hampir saja berciuman. Fania mulai tertawa keras sekali melihat kami berdua. Bahkan Fania sengaja mendorong mukaku agar bisa berciuman dengan Andika.


"Eh Dik, elu beneran suka bgt nih sama Fanda?" tanya Fania begitu penasaran akan kisah kami.


"Ya iya lah kalo gue nggak beneran suka sama yayang bebeb mana mungkin sekarang gue disini. Iya nggak, yang beb?" jawab Andika sambil merangkulku dan terus memandangi wajahku.


"Emang kamu suka sama aku?" sambungku.


"Ini orang ya udah dikasih kode malah nantangin. Gue cium beneran nih. Gemes tau!"


"Duh si Andika mulai beraksi. Hahaha. Ayo turun Nda, gue nebeng ya."


"Ogah! Gue pulang sama si Bocil."


"Si Bocil udah kayak bodyguard elu aja sih Nda."


"Biar aja."


"Udah sana kalo mau pulang. Gue mau pacaran sama yayang bebeb. Ganggu aja lu!" sambung Andika.


"Ya udah gue turun dulu ya."


Sambil berlalu Fania masih terus memperhatikanku dan Andika. Fania sengaja berjalan lambat untuk memata-matai kami. Karna semua sudah mulai turun, aku pun mengikuti Fania untuk turun. Walau sebenarnya aku masih ingin bersama Andika. Tak disangka-sangka saat akan berjalan, Andika mencuri waktu lengahku untuk mencium pipiku. Dan tepat saat itu, Fania masih memata-matai kami dan melihat ulah Andika. Setelah berhasil menciumku, Andika pun berlalu turun dan menunjukkan ekspresi gembiranya dengan mengangkat tangan ke atas. Sesaat aku merasa malu dan juga senang.