
Setiap hari aku selalu menemani Rudy berjualan. Kami selalu menghabiskan waktu bersama. Terkadang Rudy juga selalu mengajakku menemaninya mengantar barang pada costumer. Orang-orang pun sering menggoda kami untuk segera menikah karna seringnya kami bersama, terlebih dengan status Rudy yang seorang duda beranak satu.
Beberapa hari lagi adalah Tahun Baru. Aku dan Rudy berencana menghadiri konser musik di alun-alun kota. Sebenarnya kami ingin pergi berlibur ke Jogja tapi Rudy belum bisa meninggalkan tokonya. Di akhir tahun ini Rudy begitu sibuk mengurus tokonya. Aku pun mencoba membantunya untuk merekap semua pemasukan dan pengeluaran keuangan toko. Ya, karna sebelumnya aku bekerja sebagai admin jadi hal itu bisa kumanfaatkan untuk membantu Rudy.
Sehari sebelum malam tahun baru, aku dan Rudy bekerja lembur di toko. Rudy mengecek semua barang sedangkan aku masih merekap keuangan. Capek juga rasanya, tapi aku merasa beban itu seperti hilang karna aku bekerja bersama kekasihku sendiri. Esoknya aku dan Rudy hanya mengantar beberapa barang saja. Waktu kamu masih cukup luang untuk sedikit refreshing. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Dieng. Aku melihat Rudy begitu senang terlebih saat dia menggandeng tanganku.
"Sayang, aku seneng banget deh bisa kerja ditemenin kamu terus. Kemana-mana kamu juga selalu nemenin aku. Makasih ya sayang. Aku janji bakal nyenengin kamu terus yank."
"Aku juga seneng bisa bantu kamu terus yank. Sebenernya sih itu cuma alasan biar bisa nempel sama kamu terus biar kamu nggak dicuri cewek lain."
"Ih kamu ini yank bisa aja gombalnya ya."
"Aku nggak gombal kok."
"Emangnya aku ini ganteng banget apa yank?"
"Nggak kamu jelek banget."
"Harusnya aku yang takut kalo kamu dicuri cowok lain, soalnya kamu ini cantik banget kayak bidadari, seksi pula."
"Gombal!"
"Biarin gombalin cewek sendiri kok. Kalo gombalin cewek lain kan bahaya."
"Jangan coba-coba kalo nggak mau aku dicuri cowok lain."
"Iya sayang. Jaga hati kita ya. Love you yank."
"Love you too my Rud."
"Pulang yuk biar nggak kemaleman sampe rumah."
"Ayo yank."
Sesampainya di rumah, aku langsung bersih-bersih dan bersiap untuk merayakan tahun baru di kota. Sekitar pukul tujuh malam, Rudy menjemputku di rumah. Kami pun lekas pergi ke sebuah restoran untuk makan malam sebelum melihat konser di alun-alun kota. Sembari menunggu pesanan kami datang, aku dan Rudy banyak mengobrol tentang banyak hal. Disela-sela obrolan kami, Rudy mulai menggodaku lagi.
"*Sayang, kamu cantik banget sih malem ini. Sengaja banget ya dandan cantik dan seksi kayak gini?"
"Apaan sih yank? Biasanya juga aku dandan kayak gini. Gombal mulu ih kamu yank."
"Apanya yang spesial?"
"Kamu bikin aku **** tau nggak. Aku jadi pengen cepet-cepet makan kamu."
"Makan aja dulu itu makanan kamu yank. Tuh udah dateng makanannya."
"Aku maunya makan kamu aja."
"Sshtt.. Makan dulu aja ya yank ntar nggak kebagian tempat buat nonton kalo kelamaan ngobrol."
"Iya oke deh tapi setelah ini kamu jangan coba-coba nolak aku ya."
"Kita liat nanti."
Kami menikmati makanan kami dan segera pergi ke alun-alun. Setelah dapat parkiran mobil. Kami pun langsung menuju alun-alun dengan berjalan kaki. Rudy terus menggandeng tanganku dengan begitu erat. Sesekali dia juga merangkulku. Kami mulai menikmati konser dan menunggu waktu saat pesta kembang api di mulai. Selama konser berlangsung, Rudy terus memelukku dari belakang. Terkadang dia juga ikut bernyanyi dan terus mencium pipiku.
"Rudy, kamu beneran cinta sama aku?"
"Ya beneran lah yank kenapa sih harus tanya gitu?"
"Ya cuma mastiin aja kalo kamu beneran cinta sama aku."
"Dari sikap aku aja harusnya kamu udah tau kalo aku beneran cinta kamu, Fanda."
Aku hanya bisa membalas ungkapannya dengan senyuman. Aku hanya berharap apa yang dia ucapkan itu tidak akan pernah berubah. Karna sebenarnya aku takut jika kisah cintaku harus berakhir ketika aku sudah benar-benar mencintainya. Aku tak ingin kisah cintaku berakhir sakit seperti sebelum-sebelumnya.
Detik-detik bergantinya tahun membuatku ikut tegang. Seakan tahu bahwa aku sedikit gelisah, Rudy mencoba menenangkanku dengan mencium pipiku. Ketika waktu menunjukkan pukul 00.00 saat itu juga pesta kembang api dimulai. Di tengah pesta kembang api, Rudy memberiku sebuah kejutan.
"Fanda, aku nggak peduli bagaimanapun keadaan kamu, aku hanya ingin memulai ini semua dari awal. Aku juga bukanlah seorang yang sempurna. Aku mencintaimu tulus. Aku ingin terus bersamamu sampai nanti. Dan aku hanya ingin kamu selalu ada di hatiku. Jadi maukah kamu berjuang bersamaku dan mencapai segala harapan kita?"
"Aku mau. Aku mau berjuang bersamamu yank."
"Terima kasih sayang sudah percaya padaku."
Rudy pun memelukku begitu erat dan menciumku dengan begitu mesra di hadapan banyak orang. Sontak saja hal itu membuat semua orang semakin riuh di tengah pesta kembang api. Aku akan mengingat hal ini sampai kapanpun.
Setelah pesta kembang api selesai, aku dan Rudy pun pergi untuk mencari penginapan. Rudy ingin menghabiskan malam ini hanya bersamaku. Setelah mendapat penginapan, kami langsung menuju kamar. Tak perlu untuk basa-basi lagi, Rudy langsung menerkamku seperti singa yang kelaparan. Dia mulai melucuti semua pakaianku dan mulai menggerayangi tubuhku. Kami bergulat begitu mesra karna gairah yang tak tertahankan lagi.