
Sudah hampir enam bulan aku bekerja di pabrik. Banyak cerita keseruan bersama teman-teman grombolanku dan yang lainnya. Terlepas dari cerita Ryan yang membocorkan identitasku pada karyawan lain, kini hal itu tidak lagi mempengaruhi pergaulanku dengan yang lainnya. Bahkan kini semakin banyak pria yang mencoba mendekatiku, salah satunya adalah Mas Ilham. Sosok Mas Ilham ini cukup rupawan. Kulitnya putih bersih, postur tubuhnya tinggi gagah. Sikapnya juga begitu sopan. Banyak sekali yang menjodoh-jodohkan aku dengan Mas Ilham ini, kata mereka kami begitu serasi ketika berdampingan.
Dari cerita orang-orang, Mas Ilham ini sudah sejak lama menyukaiku. Aku begitu penasaran dengan yang namanya Mas Ilham. Tiap hari aku mencari namun tidak pernah bertemu. Hingga suatu hari tanpa sengaja aku menabrak seseorang karna terburu-buru. Ternyata yang aku tabrak adalah Mas Ilham. Dari ciri-ciri yang kutahu, aku yakin itu adalah Mas Ilham. Melihatku dan Mas Ilham, banyak sekali yang menyoraki kami dan bertepuk tangan. Aku bisa melihat wajah Mas Ilham yang memerah tersipu malu.
"Emmm.. Maaf mas aku nggak sengaja." kataku dengan sedikit ngos-ngosan.
"Iya nggak apa-apa. Lain kali hati-hati ya." jawab Mas Ilham dengan malu-malu dan berlalu pergi.
Teman-teman Mas Ilham begitu antusias menyuruhnya untuk mencoba mendekatiku namun Mas Ilham hanya meresponnya dengan senyuman malu. Tak sampai disitu saja, ternyata di atas semua orang begitu riuh menyorakiku. Mereka juga begitu antusias menjodohkanku dengan Mas Ilham.
"Cieeee yang tadi tabrakan sama Mamas." kata salah satu karyawan.
"Biasa aja sih kenapa kalian ini jadi heboh banget?"
"Wah jadi salting nih. Udah mulai ada rasa kayaknya sama Mamas ya. Hahaha." sahut salah satu juniorku.
"Kalian ini kayak nggak ada kerjaan aja." kataku mulai kesal.
"Kemaren aja lu nyari-nyari yang namanya Mas Ilham. Giliran ditemuin malah belagak nggak tau apa-apa. Maunya apa sih?" sambung Fania meledekku.
"Kalian ini terlalu kepo ngurusin orang." jawabku dengan sedikit tertawa.
"Ada apa ini ribut-ribut? Ayo kembali ke tempat masing-masing." kata Pak Mandor mencoba membubarkan kami.
Sejak saat itu aku jadi lebih sering bertemu dengan Mas Ilham. Bahkan kini Mas Ilham sering mencoba mendekatiku. Dari mengajak makan bareng bahkan sampai ingin mengantarku pulang. Aku selalu menanggapinya dengan biasa. Aku mencoba memberikan Mas Ilham kesempatan untuk mendekatiku. Mendengar review dari teman-temanku, Mas Ilham ini benar-benar sosok yang baik dan tidak pernah neko-neko. Dalam beberapa hari aku selalu dekat dengan Mas Ilham. Bahkan banyak dari karyawan yang lain menganggap kami sudah jadian.
"Fanda, lu sekarang jalan sama Mas Ilham ya?" kata Fania penasaran.
"Enggak. PDKT aja." jawabku cuek.
"Berarti ada harapan dong?"
"Ya nggak juga. Yang namanya PDKT kan waktu untuk saling mengenal. Kalo cocok ya lanjut kalo nggak ya temenan aja."
"Terus setelah lu jalan sama Mas Ilham beberapa hari ini apa yang lu dapet?"
"Belum ada cuma jadi lebih akrab aja."
"Mending jadian aja deh." sambung Fania dengan penuh harap.
Dalam beberapa hari aku berniat melihat bagaimana cara Mas Ilham merebut hatiku. Aku ingin kepribadian kami saling melengkapi untuk lanjut ke jenjang yang lebih serius lagi. Selama kami bersama, karakterku lebih dominan meski sebenarnya kami sama-sama pendiam. Aku berpikir jika nantinya kami menikah justru hanya akan dihiasi dengan pertengkaran saja karna sifatku yang begitu keras.
"Aku sayang banget sama kamu, Fanda."
"Aku hargain perasaan Mas Ilham, tapi maaf.. aku nggak bisa anggap Mas Ilham lebih dari sekedar teman. Kita masih bisa berteman setelah ini."
"Tapi kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?"
"Nggak kok, mas. Aku rasa kita cuma bisa berteman aja."
"Oke deh kalo itu maumu."
Dan sejak saat itu, Mas Ilham selalu saja menghindariku ketika kami berpapasan. Entah apa yang membuatnya jadi seperti itu. Apakah aku bersikap terlalu kasar? Aku jadi merasa tak enak melihat kondisi kami yang seperti ini.
"Elu lagi marahan sama si Ilham, Nda?" tanya Mas Ramlan.
"Enggak. Aku malah nggak ngerti kenapa Mas Ilham jadi begitu." jawabku sambil menghela nafas panjang.
"Nah emang awalnya gimana kok jadi begitu? Pasti ada something."
"Aku nolak cintanya Mas Ilham. Ya mau gimana lagi kalo dari akunya aja nggak merasa cocok."
"Nggak cocok dimananya?" kata Mas Ramlam semakin penasaran.
"Karakter kita nggak pernah nyambung. Aku nggak mau nantinya kalo sampe nikah nih ntar Mas Ilham jadi suami takut istri. Dia pendiem nurut gitu ketemu aku yang diem tapi galak nggak akan bisa damai kan."
"Jadi cuma ditolak aja? Lucu banget sih si Ilham. Perlu gue cuci tuh biar bisa mikir. Hahaha."
"Mas Ramlan tau sendiri akunya udah capek pacaran pengen yang seriusan aja."
"Ya ya gue tau kok. Gue dukung aja sih. Ya udah sono makan siang dulu keburu habis jam istirahat."
"Oke makasih mas."
Hari berikutnya sikap Mas Ilham kembali seperti biasa. Dia tak lagi begitu canggung bertemu denganku. Ya, walau sebenarnya aku masih sedikit merasa bersalah.