
Dua minggu sudah Farid pulang ke rumahnya. Tibanya di kos dia langsung memintaku untuk datang menemuinya. Namun aku merasa ada yang berbeda, kini sikap Farid sedikit agak dingin padaku. Aku sudah tak heran lagi dengan berubahnya sikap Farid karna aku sudah melanggar permintaan Farid untuk tidak datang ke kos selama dia pergi. Sesampainya di kos, Farid langsung menarikku ke kamarnya. Agak kasar, aku juga melihat raut mukanya agak kesal.
"Kamu kenapa sih nggak mau dengerin aku, Fanda?"
"Ada apa sih yank?"
"Aku udah tau dari temen-temen. Kamu jangan boong lagi."
"Maaf yank."
"Aku nggak suka sesuatu milikku disentuh orang lain. Aku juga malu karna pacarku sendiri yang datang ke kandang singa."
"Oke maaf. Aku bener-bener minta maaf. Hal itu nggak akan terulang lagi."
"Udah lah aku lagi pusing mikirin hal lain."
Melihat Farid masih kesal, aku mulai menggodanya lagi. Aku memeluknya dari belakang dan mulai bertingkah manja. Aku terus membujuknya agar tak kesal lagi. Usahaku berhasil, Farid mulai luluh dan berlanjut membalas sikap nakalku. Kali ini Farid menghajarku habis-habisan. Aku rasa dia melampiaskan rasa kesalnya dengan membuatku benar-benar lelah. Berbagai gaya bercinta ia praktekkan. Aku ingin menyerah tapi aku masih menikmatinya. Ini sebagai ganti rugi atas kesalahanku pada Farid.
"Fanda, lo beneran suka sama Farid? Kata Sally dia hanya mau manfaatin lo doang. Bahkan Farid sama Sally sering Chattingan ngomongin lo. Gue nggak suka sahabat gue disakitin cowok!"
"Lo tau sendiri kalo Sally itu sirik sama gue. Udah lah biar aja. Gue aja pacaran sama Farid cuma manfaatin dia doang. Berarti akting gue bagus ya sampe nggak sadar kalo sebenarnya gue dulu yang manfaatin dia."
"Tapi beneran lo nggak apa-apa beb?"
"Tenang aja Emma sayang. Ada waktunya gue bongkar semuanya. Makasih ya beb lo beneran perhatian sama gue."
"Iya bebebku."
Untuk beberapa hari aku sama sekali tak menghubungi Farid, begitupun juga Farid yang juga tak mempedulikanku lagi. Seminggu berlalu aku mendengar kabar bahwa Farid sudah menggandeng perempuan lain. Aku sudah tak ambil pusing lagi. Selama kita sudah tak saling peduli tak ada lagi yang harus dipertahankan. Toh aku dari awal juga tak menyukai Farid sepenuhnya.
Hariku terus berjalan. Aku memulai lagi aktifitasku. Kala itu aku sudah mulai bekerja di sebuah anak perusahaan kontraktor sebagai admin. Yah, walaupun aku tak tamat sekolah. Sebelumnya, bos kontraktor yang bernama Pak Harry sedang mencari posisi admin untuk kantornya. Lalu ayahku menceritakan pada Pak Harry bahwa aku jago komputer dan alhasil aku ditunjuk Pak Harry untuk mencoba bekerja jadi admin. Ini adalah pengalaman kerja pertamaku.