My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Kencan Pertama



Sudah hampir sebulan aku berpacaran dengan Rudy. Kami sangat ingin bertemu satu sama lain. Saat itu dia sedang bekerja di Jakarta dan aku di Karawang. Jarak antara Jakarta dan Karawang sebenarnya tak begitu jauh. Hal itu yang membuat Rudy berjanji akan menemuiku di Karawang pada Tahun Baru nanti. Hari demi hari kunanti hingga tepat pada waktunya, Rudy pun tiba di Karawang. Karna saat itu aku masih kerja, aku tidak bisa langsung menemuinya. Rudy pun langsung mencari motel untuk beristirahat dan memintaku datang setelah aku selesai kerja.


***Sayang aku udah di motel kamar no. 12 nanti kamu kesini ya.


Iya yank. Tunggu ya! Masih banyak kerjaan ini.


Aku tunggu pokoknya.


Iya sayang. Kenapa kamu jadi cerewet bgt sih. Gemes jadinya pengen aku cubit.


Pokoknya aku udah sampe sini buat nemuin kamu. Kalo kamu nggak dateng aku balik ke jkt lagi.


Duh jangan ngambek dong. Iya nanti aku kesitu. Tunggu yang sabar ya.


Oke aku tunggu loh.


Iya iya yank. Udah dulu ya aku lanjut kerja nanti kena omel bos. Bye sayang***.


Aku masih terus kepikiran sama Rudy. Kerjaanku jadi kacau karna gelisah dengan ancaman Rudy. Di kantor, aku merasa hari itu berjalan begitu lama. Entah kerjaan yang menumpuk atau aku yang terlalu gelisah. Duh, untuk pertama kalinya bertemu pacar jadi begitu gugup karna saking senangnya. Begitu lama menunggu akhirnya jam istirahatpun tiba. Tanpa pikir panjang aku langsung pergi menemui Rudy ke motel. Saat itu cuaca mulai mendung dan angin bertiup begitu kencang. Karna jarak motel dan kantor tak begitu jauh, aku memutuskan untuk berjalan kaki. Aku berjalan melawan angin yang begitu kencang berhembus. Aku rasa akan hujan badai karna langit sudah begitu gelap. Sesampainya di motel aku langsung mencari kamar no. 12.


Hatiku berdegup sangat kencang. Pikiranku tak karuan. Saat itu aku takut orang kantor mencariku, tapi aku tak ingin mengecewakan Rudy yang sudah jauh-jauh datang untuk menemuiku. Saat itu aku tak punya pikiran yang buruk karna harus bertemu di motel.


Perlahan aku mulai mengetuk pintu kamar. Tak ada respon. Aku mulai mengetuk lagi dan terdengar suara dari dalam kamar. Masuk aja, nggak di kunci kok. Mendengarnya aku langsung saja masuk ke dalam karna takut jika ada orang kantor yang mengetahuiku ada di motel. Begitu masuk aku melihat Rudy keluar dari kamar mandi dan memintaku untuk menunggu sebentar. Aku menunggunya sembari duduk di kursi dan menonton tv. Saat itu hujan deras mulai mengguyur beserta angin kencang. Tak lama Rudy pun keluar dari kamar mandi.


"Maaf ya jadi bikin kamu nunggu."


"Iya nggak apa-apa. Toh tadi juga aku bikin kamu nunggu kan."


"Mulai modus nih."


"Nggak apa-apa dong modusin pacar sendiri. Ngomong-ngomong ternyata kamu lebih cantik ya aslinya."


"Masa?"


"Iya. Lebih imut-imut. Jadi gemes deh."


"Kalo gemes emangnya mau ngapain?"


"Pengen kucubit terus kupeluk."


"Bisa aja kamu."


"Beneran aku masih nggak nyangka ternyata kamu beneran cantik bgt ya sayang."


"Kalo gitu sini dong coba peluk aku kalo masih nggak percaya aku nyata."


"Oke sini kupeluk kamu."


Rudy pun mulai mendekatiku dan mencium bibirku. Dia mulai mendekapku dan tangannya mulai nakal menggerayangi seluruh tubuhku. Aku pun mulai terlena menikmati setiap sentuhan di sekujur tubuhku. Seakan sama-sama mulai bergairah, tanganku juga mulai nakal menyelinap ke dalam celana Rudy. Kami melakukan foreplay cukup lama dan berlanjut dengan bergulat di atas kasur. Rudy menghajarku habis-habisan. Belum selesai kami bergulat, terdengar suara orang mengetuk pintu. Setelah dilihat ternyata pegawai motel menawarkan layanan. Kami pun meneruskan urusan yang belum selesai. Saat sedang asik bergulat, ponselku berbunyi. Banyak sekali telepon masuk. Orang kantor sudah menyadari aku pergi. Aku tak mempedulikannya karna aku tak ingin ada yang mengganggu lagi dan meneruskan adegan bercintaku dengan Rudy. Aku benar-benar merasa begitu puas bercinta dengan Rudy. Aku merasa dia sudah begitu lihai membuat wanita puas. Kencan pertamaku dengan Rudy berakhir di atas kasur.


Setelah selesai bercinta dan belum beranjak dari kasur sambil terus memelukku, Rudy menelepon temennya dan bercerita bahwa saat ini dia sudah memiliki kekasih dan mengenalkanku pada mereka. Kami mulai bercanda hingga sore hari. Waktu mulai malam dan aku meminta Rudy untuk mengantarku pulang. Sebenarnya aku masih ingin bersamanya tapi aku harus tetap pulang sebelum karyawan lain heboh mencariku karna hilang begitu saja.