
Seakan sudah buta karena cinta, aku tetap saja masih terus mencintainya walau aku sudah sering kali dikecewakan Rudy. Aku terus saja memaafkan segala kesalahannya. Aku hanya tidak ingin Rudy pergi dalam hidupku. Hal itu yang selalu aku pikirkan. Entah apa yang membuatku begitu mencintainya, mungkin semua karna keadaan. Hidupku sudah penuh kekecewaan, sekali bertemu kenyamanan justru membuatku semakin lelap di dalamnya.
Suatu hari ketika aku sedang bekerja, aku kehabisan batetai ponselku. Aku pun meminta Rudy untuk meminjamiku ponselnya untuk mengontak para pengaju kredit. Aku sangat terkejut ketika aku mulai membuka ponsel Rudy. Banyak sekali chat mesra Rudy pada seorang perempuan bernama Eka. Bahkan yang membuatku begitu teriris adalah isi chat Rudy yang mengajak Eka untuk bercinta. Seketika aku begitu hancur. Aku tak lagi fokus dalam kerjaku. Hatiku dipenuhi dengan amarah. Aku pun mencoba menelepon si Eka itu.
"Halo ini siapa ya?" kata Eka menjawab teleponnya.
"Aku pacarnya Rudy. Harusnya aku yang tanya kamu ini siapanya Rudy?"
"Aku pacarnya Rudy."
"Wah hebat banget ya. Tolong dong jangan ganggu Rudy lagi. Aku tau kamu baru aja deket sama Rudy. Aku jauh lebih lama pacaran sama Rudy. Kamu ini kan cewek harusnya tau lah gimana rasanya kalo pacar kamu deket sama cewek lain. Jadi aku mohon tolong hargai perasaanku."
"Bukan urusanku!"
"Kamu kok gitu sih?!"
"Sekarang Rudy pacar aku, jadi aku mau sama dia atau mau ngapain pun itu bukan urusanmu!"
"Sialan dasar cewek nggak tau malu ya!"
"Daripada kamu banyak ngomong mending kita ketemu aja biar jelas semua."
"Oke kalo itu maumu ayo kita ketemu sekarang."
"Ya." sambungan teleponnya ditutup tiba-tiba oleh Eka.
Saat jam makan siang aku pun pergi untuk menemui Rudy ditokonya. Saat itu aku hanya ingin menangis dan juga marah pada Rudy tapi aku mencoba untuk tetap tenang.
"Rudy coba kamu jelasin ini semua Rud. Nggak nyangka ya kamu masih aja deket sama cewek ini. Aku udah berkali-kali pergokin isi chat kamu sama cewek ini tapi nyatanya apa."
"Yank aku tuh cuma iseng doang yank."
"Iseng kok sampe ngajakin ngamar sih?! Nggak habis pikir ya, kamu pulang malah sifat kamu jadi kayak gini sekarang."
"Udah dong yank kamu jangan gini lagi."
"Kamu yang mulai Rud. Aku udah berusaha sebaik mungkin buat kamu. Aku dampingi kamu dari nol. Tapi balesannya kamu selalu bikin aku kecewa Rud. Aku capek harus terus ngalah buat kamu."
"Udah udah yank. Aku salah aku bener-bener minta maaf. Lagian dia dulu yang selalu godain aku yank."
"Nggak mungkin. Aku paham sifat kamu Rud!"
"Udah ya jangan marah lagi yank malu loh diliet orang."
"Terserah deh. Aku pergi aja, capek aku diginiin terus."
"Jangan dong yank. Kita makan dulu yuk ini kan jam makan siang."
"Nggak!" aku pun pergi meninggalkan Rudy.
Ditengah jalan aku berhenti dan kembali berbicara pada Rudy.
"Kamu harus inget Rud. Aku bisa mencari yang lebih dari kamu tapi nyatanya aku masih pertahanin kamu di sampingku. Itu karna aku bener-bener cinta kamu Rud. Cinta yang paling dalam." aku kembali berjalan pergi dan Rudy masih terdiam sambil menatapku pergi.
Sorenya ketika jam pulang kerja, aku masih tak beranjak dan bersiap-siap pulang hingga Stefia datang. Aku bercerita padanya tentang apa yang terjadi hari ini. Aku sempat menangis menceritakan apa yang kualami. Stefia pun mencoba memelukku dan menenangkanku.
"Sudahlah Fanda kamu lebih baik lepasin Rudy. Buat apa kamu cinta sama seseorang tapi kamu justru disakitin. Hidup cuma sekali dan Rudy bukanlah satu-satunya yang bisa kamu cintai. Masih banyak yang lebih baik dari Rudy yang bisa menjaga hatimu."
"Aku masih percaya Rudy bisa berubah. Aku mau berusaha lebih keras lagi biar Rudy jadi seperti dulu saat aku pertama kenal dia."
"Okelah jika itu keputusanmu. Sebagai sahabat aku akan selalu ada ketika kamu membutuhkanku."
"Terima kasih Stefi."
Tak lama Rudy mencoba meneleponku tapi aku tak ingin mengangkatnya. Beberapa kali mencoba meneleponku tapi aku tak selalu me-reject-nya. Lalu Rudy mencoba untuk mengirimiku sebuah pesan.
***Sayang aku bener-bener minta maaf. Ayo aku antar pulang.
Aku jemput kamu. Tunggu disana ya***.
Dan tak lama Rudy pun datang menjemputku. Sebenarnya aku masih begitu marah dengannya. Tapi rasa cintaku pada Rudy mengalahkan segalanya. Rudy datang dengan sikap hangatnya. Dia menggandeng tanganku di hadapan banyak orang. Aku hanya berharap sikapnya kali ini akan seterusnya seperti itu. Aku berharap tidak ada lagi kekecewaan yang Rudy ciptakan.
Sesampainya di rumahku, Rudy memintaku untuk mengobrol sejenak. Aku pun memintanya untuk masuk ke dalam sembari aku beberes. Aku menyuruh Rudy duduk di ruang tengah dan aku membuatkannya minum. Setelah aku selesai mandi, aku pun duduk di samping Rudy.
"Kamu mau ngomongin apa yank?"
"Sayang udah nggak marah lagi ya?"
"Masih sih sedikit. Mau ngomong apaan sih?"
"Sebelumnya aku bener-bener minta maaf karna terlalu sering bikin kamu kecewa. Maaf yank sebenarnya alasanku berbuat seperti itu hanya untuk main-main saja yank. Aku nggak mau kamu pergi ninggalin aku yank. Aku janji yank aku nggak akan bikin kamu kecewa lagi yank."
"Beneran nggak nih? Ntar sama aja kayak kemaren-kemaren cuma janji-janji doang. Basi tau nggak yank."
"Beneran yank. Suer deh samber gledek."
"Nggak percaya aku tu. Paling ntar dibelakangbaku kamu boong lagi."
"Nggak yank. Kasih aku kesempatan lagi ya."
"Oke aku kasih kamu kesempatan lagi tapi kamu harus bener-bener janji jangan buat aku kecewa lagi."
"Iya sayang. Kalo gitu hapus semua nomer dan pin si Eka itu sama cewek-cewek yang lain."
"Oke yank." Rudy langsung mengeluarkan ponselnya dan mulai menghapus beberapa pin dan nomer cewek. "Nih udah ya."
"Mana liat sinian ponselnya." aku pun mulai mengecek ponsel Rudy. Untuk saat itu aku masih percaya padanya.
"Udah kan yank. Sayang udah percaya sama aku?"
"Iya iya."
"Kalo gitu kasih aku reward dong yank."
"Reward apa?"
"Kamu tau lah yank yank aku mau."
"Kalo masalah gituan aja kamu ngrayu aku."
"Ayolah sayang lagi pengen banget nih."
"Kenapa nggak ngajakin si Eka aja? Kam kemaren kamu ngajakin si Eka."
"Aku beneran ngajak Eka ntar kamu marah-marah lagi."
"Kalo kamu ngajakin si Eka ya otomatis kita putus. Aku cari yang lebih dari kamu. Gampang banget kok."
"Aku mau kamu aja lah. Ayo yank."
"Males akunya."
"Ah banyak basa-basi kamu tuh bikin aku makin nafsu aja." dengan sigap Rudy menggendongku dan membawaku ke kamarku.