My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Gawat



Suatu hari di Minggu pagi, aku selalu menyempatkan diri untuk berjogging. Hal itu cukup untuk menyegarkan tubuhku setelah seminggu bekerja. Udara di pagi hari begitu sejuk menambah kesan me-refresh diri. Setelah cukup berkeringat, aku pun pulang ke rumah. Sebenarnya hari itu aku merasa ada yang sedang mengikutiku namun ketika aku menoleh kebelakang tidak ada orang yang mencurigakan. Aneh, namun mungkin itu hanya imajinasiku saja. Atau mungkin hanya reaksi dari ketakutanku akan orang-orang di pabrik mengetahui kehidupan asliku.


Setelah beristirahat untuk melemaskan otot-ototku sehabis jogging, aku lanjut mencuci mobil dan motorku. Lagi-lagi aku merasa ada yang sedang mengawasiku dari kejauhan. Haih, mungkin saja aku memang sedang berhalusinasi. Setelah selesai dengan pekerjaanku pagi itu, aku pun lanjut untuk mandi dan bersih-bersih. Hari itu aku ingin sekali memanjakan diriku dengan spa. Setelah bersiap aku pun langsung melaju ke salon langgananku dengan mobilku. Kali ini aku tidak lagi merasa ada yang mengikutiku.


Hari Minggu itu aku habiskan dengan memanjakan diriku setelah lelah bekerja. Setelah kembali ke rumah, Emma datang dan mengajakku untuk makan di luar. Walau sebenarnya siang itu aku ingin tidur tapi demi menghargai ajakan sahabatku, aku pun mengiyakannya. Aku mengajak Emma untuk menghabiskan waktu di sebuah tempat perbelanjaan untuk bermain, karaoke dan belanja sedikit keperluan kami. Lalu kami mengakhirinya dengan makan di sebuah restoran. Hari itu cukup menyenangkan untuk menebus segala rasa lelahku.


Esoknya kegiatanku kembali seperti biasa. Saat aku mulai masuk ke dalam pabrik, ada seseorang yang mendekatiku dan mengajakku mengobrol. Dia adalah Ryan, salah satu orang yang suka menggodaku.


"Selamat pagi, Fanda. Gimana harimu kemarin? Kayaknya menyenangkan ya."


"Hmmm.. lumayan. Ada apa emang?"


"Ada sesuatu hal menarik yang aku dapet dari raut mukamu."


"Apaan?"


"Ternyata kamu itu cantik bgt ya kalo diliet dari deket gini."


"Basi tau gombalnya."


"Fanda, aku tau rahasia kamu."


"Rahasia apaan sih?"


"Ternyata rumah kamu yang di pinggir jalan itu kan bukan yang di ujung jalan."


"Jadi selama ini aku nggak salah liet ya. Itu kamu yang selalu mata-matain aku?"


"Iya dong. Aku kan penggemar rahasiamu."


"Rahasia apaan, terang-terangan gitu kok tiap hari juga."


"Kalo nggak mau aku bocorin ke yang lain aku punya syarat loh."


"Apaan?"


"Jadi pacarku ya."


"Ogah!"


"Ya udah aku bocorin."


"Terserah kamu, Ryan. Aku bukan tipe orang yang bisa bernegosiasi apalagi ditekan dengan hal begituan."


"Hehehehehe."


Merasa malu, Ryan pun lari menjauh. Aku sudah bisa memastikan keadaan kedepannya. Yang pasti jika beberapa di antara teman seperkerjaan mengetahui kebenarannya, aku hanya akan mengakuinya dan terua menjalani hari-hariku dengan biasa. Saat jam istirahat, ada beberapa gerombolan ibu-ibu yang mendekatiku. Yang namanya ibu-ibu pasti sangat ingin tahu segala hal yang menarik dan mnceritakan lagi hal itu pada orang lain dengan tambahan cerita yang berbeda dari kenyataannya.


"Mbak Fanda.. Mbak Fanda.." kata Bu Lina sambil setengah berlari mengejarku.


"Iya ada apa, bu?"


"Mbak Fanda, emang bener ya mbak fanda ini sebenarnya orang kaya?"


"Dapet cerita dari mana Bu Lina?"


"Ya denger-denger aja dari cerita orang. Emang bener ya?"


"Tapi saya punya buktinya lo." kata Bu Lina sambil menunjukkan foto dan videoku sedang mencuci mobilku dan segala aktifitasku kemarin.


"Ya ampun Bu Lina, saya itu cuma pembantu di rumah itu jadi wajar lah kalo saya nyuci mobil."


"Ah nggak mungkin! Masa pembantu bisa pake baju-baju bagus bawa mobil segala."


"Ya terserah Bu Lina aja anggap saya gimana." Aku pun berlalu meninggalkan Bu Lina dan berjalan ke kantin.


Di Kantin pun banyak orang yang begitu ramah padaku. Tadinya kemanapun aku pergi reaksi semua orang biasa saja. Hanya beberapa pria saja yang menggodaku, kini yang masih berani menggodaku hanya orang-orang tertentu saja dan hal itu hanyalah bercanda saja. Inilah yang sebenarnya aku takutkan, aku hanya ingin menjadi orang biasa. Aku tidak ingin ditinggikan di hadapan orang lain.


Jam kerja telah usai. Aku mulai beberes dan segera absen sebelum pulang. Ketika aku berjalan menuju tempat parkir, Fania salah satu teman akrabku memanggilku.


"Fanda, tunggu bentar dong. Cepet banget sih jalannya." Kata Fania dengan nafas yang terengah-engah.


"Kenapa, Fan? Ampe lari-lari gitu." jawabku sambil sedikit tertawa mengejek.


"Sialan lo malah ngetawain gue! Ke Cafe yuk ngopi-ngopi sambil nongkrong gitu sama yang laen."


"Capek gue. Besok aja deh."


"Ah nggak seru. Mumpung habis gajian tau."


"Beneran gue capek bgt. Kalo mau ke rumah gue aja deh yuk."


"Beneran nih?"


"Iya yuk. Ajak temen segrombolan kita aja."


"Oke deh bisa diatur."


"Gue tunggu di gerbang."


Dan sore itu pun aku mulai terbuka pada teman-teman grombolanku. Aku mengajak mereka datang ke rumahku untuk sekedar santai dan ngopi-ngopi. Sesampainya di rumahku, semua teman-temanku begitu takjub melihat keadaan rumahku. Ya, walau rumahku bukan model terbaru tapi cukup luas. Aku mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam.


"Omegat jadi yang dibilang orang-orang itu bener ya kalo lo itu anak orang kaya, Nda." kata Fania yang begitu antusias melihat sekeling rumahku.


"Ini rumah bokap gue. Yang kaya itu bokap gue. Kalo gue sendiri nggak punya apa-apa."


"Elah.. Sok ngerendah lu, Nda. Kenapa juga lu harus pura-pura?" kata Ilut temanku yang lain.


"Karna gue nggak mau dipandang tinggi hanya karna status sosial gue. Gue capek dengan punya segalanya tapi kalian liat aja sendiri di rumah ini begitu sepi. Keadaan ini nggak bikin gue bahagia sama sekali."


"Gue turut prihatin, Nda. Tapi jujur gue salut sama elu. Dengan keadaan lo sekarang, lo masih mau kerja keras. Banyak di luar sana yang justru manfaatin duit ortu cuma buat foya-foya demi bisa hepi." sambung Ilut sambil menepuk pundakku.


"Dan sekarang karna kalian udah tau, gue mohon banget jangan bilang ke semua orang dengan keadaan gue. Gue cuma mau jadi orang biasa aja." kataku memohon pada Fania dan Ilut.


"Tenang aja gue bisa jaga rahasia tapi gue nggak jamin si Fania bisa jaga rahasia. Mulutnya ember kayak mulut emak-emak rempong." jawab Ilut sambil menunjuk Fania.


"Sialan lo, Lut! Pantes aja lu jomblo ampe sekarang!" sahut Fania dengan nada kesal.


"Hei udah-udah. Kalian duduk aja dulu sambil nunggu yang laen dateng. Gue siapin kopi sama camilan." kataku merelai Fania dan Ilut.


Kehadiran teman-teman kerjaku sore itu bisa mencairkan suasana di rumah. Yang tadinya begitu kaku dengan kehadiran mereka bisa memberi warna tersendiri untuk rumah ini. Esoknya mereka terus datang ke rumahku untuk sekedar santai atau berkaraoke. Aku pun tak keberatan dengan kehadiran mereka.