My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Konflik



Kasmaran membuatku begitu terlena hingga tak begitu mengetahui bahwa suasana kantor sedang dalam keadaan genting. Proyek gagal berlanjut karna Pak Harry sudah ditipu dan dimanfaatkan oleh partner kerjanya. Kantor menjadi kacau balau karna ada beberapa karyawan yang berbeda pendapat dengan Pak Harry hingga membuat beberapa karyawan pergi dan memilih untuk mencari orang lain untuk bekerja sama dalam proyek yang belum selesai itu. Puncaknya, semua karyawan meminta cuti untuk pulang karna keadaan yang tidak memungkinkan lagi untuk tinggal. Selain proyek gagal, Pak Harry juga mendapat kerugian yang jumlahnya tak sedikit. Dana sekitar 1,5 miliar untuk operasional proyek sudah lenyap karena ditipu. Pantas saja, selama ini partner kerja Pak Harry selalu mengajaknya untuk makan-makan atau karaoke bersama. Kelemahan Pak Harry memang terlalu royal, jadi hal itu menjadi senjata untuk memanfaatkannya. Dalam bisnis seperti itu, sudah menjadi hal wajar jika ada suap menyuap. Aku sudah paham dengan sikap Pak Harry yang selalu memberikan hadiah untuk para partnernya untuk mempermudah segala urusan.


Di mess hanya tinggal aku sendiri. Pak Harry sudah kembali ke Jakarta kemarin sore. Ya, setelah tahu proyek yang Pak Harry pegang ada masalah, beliau langsung dipanggil ke kantor pusat. Bosan juga rasanya sendirian di mess. Tapi kesepianku terobati karna Rudy selalu menemaniku setiap waktu. Walau hanya bisa lewat telepon dan SMS sudah cukup untuk pasangan LDR seperti kami. Di kala sedang santai, Pak Harry meneleponku.


"Halo Fanda. Kamu lagi ngapain? Lagi sibuk nggak?"


"Ini lagi nyantai aja Pak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Gini Fanda, mungkin kantor bakal kosong lama karna kamu tau lah keadaannya sekarang gimana. Jadi saya ijinkan kamu untuk pulang. Ya daripada kamu tinggal sendirian di mess menunggu kepastian yang belum jelas. Takutnya nanti kamu kehabisan uang disitu. Besok kamu pulang aja, nanti saya suruh si Budi balik ke Karawang buat jemput kamu."


"Baik Pak kalo memang itu yang terbaik."


"Oh iya saya mau minta tolong sama kamu."


"Iya gimana Pak?"


"Tolong kamu jaga kantor ya, kalo nanti Dedi atau Roy dateng ke kantor mau main komputer, kamu cegah ya. Takutnya dia mau ngambil dokumen atau file-file penting kita."


"Baik Pak. Nanti saya amanin semua komputernya."


"Ya sudah kalo gitu saya tutup dulu teleponnya ya. Masih ada urusan yang harus saya kerjain."


"Iya Pak."


Mendapat perintah dari Pak Harry untuk mengamankan aset kantor, aku pun langsung bergegas ke kantor dan mengamankan semua komputer dengan memasang password. Aku mengunci semua ruangan penting termasuk ruangan Pak Harry. Tak lama Pak Roy dan Om Dedi datang ke kantor. Pak Roy pun langsung menuju ke dalam.


"Eh Pak Roy mau ngapain?"


"Bukan urusanmu!"


"Ini udah jadi urusan saya! Saya dapet mandat dari Pak Harry untuk melarang Pak Roy dan Om Dedi masuk ke kantor!"


"Heh kamu anak kemaren sore berani-beraninya! Kamu itu tau apa?!"


"Saya tau semuanya. Pak Roy mau mencoba mencuri desain proyek kan. Lalu Pak Roy mau kerjasama sama orang lain. Itu ilegal!"


"Cih! Kamu ini sok tau bgt ya! Saya nggak peduli kamu larang saya masuk saya bakal tetep masuk!"


"Saya juga nggak peduli untuk telepon Pak Harry sekarang karna Pak Roy ngotot mau tetep masuk ke kantor."


"Hah banyak omong kamu!" Pak Roy mencoba mendorongku untuk bisa masuk ke kantor.


Aku tetap mencoba menghalangi Pak Roy masuk kantor.


"Terserah kamu aja!" Pak Roy bergegas masuk dan mulai menyalakan komputer.


Mencoba salah satu komputer tidak bisa dibuka, Pak Roy pun mencoba membuka komputer lain tapi tetap tidak bisa membukanya karna sebelumnya sudah kupasang password.


"Kenapa Pak Roy? Kok kesal?"


"Sialan! Kenapa semuanya pake password sih!"


"Buat keamanan biar nggak ada yang mencoba buat nyuri dokumen."


"Brengsek! Kamu berani sama saya?" Pak Roy berdiri sambil menggeprak meja dan menantangku.


"Kenapa saya harus takut? Disini banyak CCTV kok. Kalopun ada apa-apa dengan saya pasti bakal ketahuan karna itu langsung tersambung ke kantor pusat."


"Oh jadi kamu nantang saya?! Berani-beraninya! Kamu itu cuma sendirian disini jadi jangan sok karna mendapat kepercayaan dari Pak Harry."


"Sudahlah silahkan Pak Roy pergi. Toh anda tak mendapatkan sesuatu yang bapak cari."


"Brengsek!" Pak Roy pun meninggalkan kantor sembari menendang kursi.


Di dunia tempat kerjaku ini ternyata banyak sekali orang licik dan serakah. Mereka melakukan banyak cara untuk mencapai tujuannya. Sesaat setelah Pak Roy dan Om Dedi pergi, Pak Harry meneleponku lagi.


"Fanda, apa mereka dateng ke kantor?"


"Iya pak, seperti yang Pak Harry duga."


"Apa mereka nyakitin kamu?"


"Pak Harry tenang saja. Saya tidak apa-apa. Saya sudah mengatur semua komputer agar tidak bisa dibuka dan mengunci semua ruangan termasuk ruangan Pak Harry."


"Baguslah kalo gitu. Kamu jaga diri baik-baik ya. Kamu kunci aja semua pintu tunggu sampai Budi dateng ke mess."


"Baik Pak."


"Sore ini Budi berangkat ke Karawang. Kamu coba beres-beres aja."


"Baik pak."


"Ya sudah kalo gitu saya tutup teleponnya ya."


Aku mulai membereskan semua barang-barangku. Akhirnya aku bisa pulang dan terbebas dari hari-hari yang melelahkan. Malamnya Pak Budi sampai di mess bersama pacar baru Pak Harry yang bernama Dea. Si Dea ini sebenarnya adalah anak dari salah satu partner kerja Pak Harry. Aku tak begitu menyukai Dea, bukan karna cemburu. Aku tidak suka dengan seseorang yang suka merebut kebahagiaan orang lain. Itu seperti hal yang begitu buruk dari mencuri.