
Hubunganku dengan Ronald hanya bertahan dua minggu saja. Dan lagi-lagi aku yang dicampakkan. Entah kenapa hubunganku dan mantan-mantan pacarku hanya berjalan selama dua minggu dan tidak lebih. Aku merasa ini seperti kutukan atau mungkin hanya perasaanku saja karna paa dasarnya aku jarang menggunakan perasaan.
Sekitar satu bulan aku menganggur di rumah. Sebentar lagi adalah hari ulang tahunku. Aku merasa tidak ada lagi hal spesial di setiap ulang tahunku sejak orangtuaku berpisah. Setiap kali akan memanjatkan doa sek belum tiup lilin, aku hanya bisa menahan air mataku dan berharap semua kembali seperti semula lagi menjadi keluarga yang utuh. Namun semua tidak akan mungkin terjadi lagi. Bagiku hal spesial di ulang tahunku sekarang adalah semua orang ingat dan memberiku sebuah kejutan kecil.
Sebelum ulang tahunku, tepatnya tiga hari sebelum ulang tahunku Pak Harry memberitahuku bahwa akan ada proyek di luar kota. Mendengarnya membuatku senang karna akhirnya aku bisa kerja lagi. Kata Pak Harry dia akan menaikkan gajiku sebagai bonus karna aku harus pergi ke luar kota jauh dari rumah.
Tepat tanggal 25 November aku mendapat kejutan dari Ayah. Dia membelikanku kue ulang tahun. Antara bahagia, sedih, terharu semua jadi satu. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih, mencium tangan Ayah dan memeluknya erat. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Meski hanya kue kecil, itu sudah cukup berarti untukku. Ternyata Ayah masih sangat memperhatikanku. Dan mungkin hanya dia yang bisa melakukan hal ini.
Esok harinya, aku harus berangkat ke Karawang untuk meneruskan kontrak kerjaku. Sedih memang harus pergi, namun aku tak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku ingin memiliki banyak pengalaman dan menghasilkan uang dengan kerja kerasku sendiri. Sekitar pukul delapan pagi, Pak Harry sudah menjemputku. Kami juga harus menjemput karyawan yang lainnya. Jadi sebelum ke Karawang, kami harus pergi ke Semarang lalu ke Jogja. Lelah juga hampir seharian kami di perjalanan. Kami sampai di Karawang sekitar pukul enam pagi. Sesampainya di Mess kami langsung sarapan bersama. Setelah selesai mandi dan beres-beres, Pak Toni seorang direktur di Kantor memanggilku.
"Lain kali kalo yang lain udah selesai makan, kamu harus beresin lagi mejanya jangan berantakan seperti itu."
"Iya Pak." Aku menjawab dengan agak kesal.
Aku merasa seperti diperlakukan layaknya seorang asisten oleh Pak Toni. Okelah mungkin aku juga punya kewajiban untuk menjaga kebersihan dan keindahan kantor. Tapi yang membuatku tak terima adalah bekas sisa sarapan yang berantakan di meja itu milik Pak Toni dan Om Deddy saja, yang lainnya sudah membereskan bekas sarapannya sendiri. Pikirku saat itu, baru saja sampai badan capek malah disuruh ngurusin orang. Direktur sialan!
Saat itu aku memang masih memiliki sifat yang tempramental dan itu adalah bentuk kekecewaanku karna perpisahan orangtuaku. Selanjutnya aku mulai bekerja seperti biasanya dengan tugas yang sama. Kali ini aku tidak bisa terlalu bebas dan itu semua karna Pak Toni itu. Melihat aku sudah tak ada kerjaan, Pak Toni memanggilku ke ruangannya.
"Fanda, to the point aja ya. Sebelumnya kamu digaji berapa tiap bulan?"
"600 ribu pak."
"Kerjaan kamu disini masih sama seperti sebelumnya ya."
"Iya Pak."
"Kamu cantik dan menarik tapi kenapa tidak meneruskan sekolah? Kamu tahu nggak rata-rata yang jadi admin ke perusahaan seperti ini punya ijazah minimal D3 bahkan S1, S2, S3. Tapi kamu berbeda. Tidak tamat sekolah hanya punya kemampuan standar."
"Jadi maksud Pak Toni bagaimana?"
"Saya akan kasih kamu gaji sama seperti sebelumnya saja ya."
"Baiklah."
"Tidak apa-apa kan?"
"Iya Pak."
"Ya sudah silahkan kamu kembali bekerja."
"Permisi Pak, saya mau menyerahkan laporan saya."
"Baik silahkan masuk."
"Ini Pak laporannya ada di dalam flashdisk dengan nama file 1."
"Oh oke coba sini saya lihat." Pak Harry pun mulai memeriksa laporanku lalu beliau bertanya lagi.
"Bagaimana perasaan kamu kerja disini Fanda?"
"Cukup baik Pak."
"Tadi sudah diberitahu Pak Toni tentang gaji belum?"
"Iya sudah tadi pak."
"Lalu berapa yang dia kasih?"
"Masih sama seperti sebelumnya Pak."
"Tidak ada kenaikan?"
"Iya Pak."
"Ya sudah tak apa. Nanti biar saya yang kasih bonus buat kamu."
"Terima kasih sebelumnya Pak tapi tidak perlu."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa Pak. Gaji segitu masih cukup untuk saya."
"Ya sudah kalo gitu. Ini sudah jam makan siang kamu sekalian ikut makan siang sama yang lain juga ya. Kita makan siang bareng. Saya traktir sebagai selamatan hari pertama kita kerja."
"Baik Pak, saya siap-siap dulu."