
Suatu hari aku mendengar kabar bahwa Kak Rio akan pergi ke kota Jakarta untuk bekerja. Sebenarnya aku merasa kecewa karna tanpa sepatah katapun Kak Rio tak mengabariku bahkan sekedar mengirimiku pesan. Namun aku tak berhak melarangnya pergi kan? Toh aku dan Kak Rio bukanlah sepasang kekasih. Beberapa hari berlalu Kak Rio masih tak mengabariku. Aku hanya mendengar kabarnya dari Chika dan keluarganya. Di salah satu malam ketika aku ingin tidur, ponselku berbunyi, Kak Rio menelponku.
"Hai Fanda. Apa kabarmu? Maaf ya baru bisa hubungin kamu. Kemarin sampe Jakarta aku sempet kecopetan."
"Oh Kak Rio, kirain kamu udah lupa sama aku."
"Hahaha. Oh ya Fanda, maaf ya aku udah mengabaikanmu. Aku sibuk sekali kerja."
"Nggak apa-apa Kak. Oh ya Kak Rio, aku udah ngantuk bgt. Aku tidur dulu ya Kak."
"Oke. Selamat tidur! Sweet dream, bee!"
Hari demi hari terlewati. Sejenak aku merasa kesepian sejak Kak Rio pergi. Tak ada lagi sandaran untuk meringankan beban di hatiku. Tidak ada lagi cinta kasih dari orang lain. Meski sejenak aku bisa melupakan kesepianku dengan bersama teman-temanku, tetap saja ketika berada di rumah, aku kembali merasakan kesunyian dalam diriku. Aku butuh orang lain untuk menyayangiku atau sekedar memperhatikanku.
Tak perlu waktu lama untukku menemukan seseorang yang bisa memperhatikanku. Saat remaja, aku banyak dikelilingi banyak laki-laki. Kata teman-temanku, banyak sekali yang menyukaiku tapi aku tak pernah ambil pusing. Meski aku dikelilingi banyak laki-laki tak membuatku bisa dengan mudah jatuh cinta. Kalaupun aku pernah pacaran dengan seseorang, aku hanya membutuhkannya saja untuk sekedar pelarianku saja.
Suatu malam ketika Kak Fahmi mengantarku pulang, aku melihat Kak Fahmi tidak seperti biasanya. Dia begitu gelisah seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Fanda, apa kamu mencintaiku?"
"Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Yah, ingin tau aja. Aku ingin dengar itu dari mulut kamu sendiri."
Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan kemudian Kak Fahmi bertanya lagi.
"Fanda, aku bahagia bisa bersama denganmu. Aku benar-benar sayang sama kamu." Kata Kak Fahmi sambil memelukku. Melihatku hanya diam, Kak Fahmi mencoba untuk menciumku namun aku menghindar dan mendorongnya.
"Maaf. Ini sudah malam! Aku masuk dulu ya. Sampai ketemu nanti." Aku langsung pergi meninggalkannya dan masuk ke rumah tanpa menghiraukannya lagi. Dalam hati, aku benar-benar merasa bersalah. Tak seharusnya aku mengecewakan perasaan orang yang begitu tulus menyayangiku. Maafkan aku Kak Fahmi, akan lebih baik jika kita tidak bersama. Aku takut lebih dalam menyakitimu.