
Sejak TK aku begitu senang memiliki banyak teman. Bahkan aku lebih merasa leluasa bersama dengan teman-temanku dibanding harus dikurung di rumah. Melewati banyak hal dan mengetahui banyak hal diluar rumah rasanya begitu memgasyikkan. Namun selalu ada cerita sedih dibalik itu semua. Nenekku selalu melarangku bermain bersama teman-temanku dengan alasan bahwa mereka tidak baik, bahkan jika ada temanku yang memiliki latar belakang keluarga miskin, nenekku selalu saja menentang dan menjelek-jelekkan mereka. Tak habis fikir, sebegitu bencikan atau justru peduli atau tak mau tahu apa yang kumau. Rasanya memang aku harus ada didalam sangkar emas saja. Aku pernah ingat ketika aku ketahuan bermain bersama teman-temanku, nenek selalu menyeretku pulang dan memukuliku sesampainya di rumah. Ya Tuhan, sebenarnya apa salahku hingga rasanya semua yang kulakukan selalu salah. Beranjak masuk SD aku masih harus beradaptasi dengan lingkungan baruku yang sebagian besar muridnya merupakan anak dari orang kaya. Tak lama, aku pun mempunyai teman baru, Lia namanya. Kami selalu menghabiskan waktu bersama. Melakukan banyak hal bersama bahkan kami sering bergantian menginap di akhir pekan. Aku sudah menganggapnya sebagai sahabat baruku. Namun ketika ujian kenaikan kelas aku merasa ada yang tidak beres dengan Lia. Aku merasa di antara kami ada jarak. Dan seakan seluruh teman perempuan sekelaspun juga sedang memusuhiku. Itu bermula ketika lembar jawaban diputar dan Bu Guru akan mengoreksi jawaban kami, aku melihat salah satu temen sekelasku menghapus jawabanku dengan jawaban yang salah. Aku sangat tahu bahwa jawabanku benar tapi kenapa sampai tega menghapus dan mengganti dengan jawaban yang salah?! Rasanya aku ingin menangis dan lapor pada Bu Guru namun aku hanya bisa memendamnya saja meski rasanya kesal sekali. Berlanjut saat aku kelas 3 seakan menjadi awalku yang baru lagi. Aku lebih banyak memiliki teman walau sebagian besar temanku adalah cowok. Aku sama sekali tidak melihat adanya musuh. Disini aku mulai melihat bahwa Lia bukan teman yang setia. Bahkan aku merasa ketika teman-temanku dulu memusuhiku adalah karnanya, namun mungkin itu hanya ilusiku saja. Saat beranjak ke kelas 5, disinilah aku mulai merasa bahwa Lia memang benar-benar mempengaruhi semua teman perempuan agar membenciku. Aku merasa dikucilkan, namun aku tak tahu apa salahku pada Lia hingga seseorang yang aku anggap sahabat justru mulai membenciku. Aku sudah kehilangan semangat. Namun dalam hati aku harus kuat, aku harus membuktikan bahwa aku pantas menjadi seorang teman yang baik untuk semuanya. Semangatku lagi-lagi harus meredup karna di kelas 6 aku harus menerima kenyataan bahwa semua teman perempuanku benar-benar membenciku tanpa aku tahu apa kesalahanku sebenarnya. Entah apa salahku, dengan teganya Lia memfitnahku. Rasanya aku ingin berhenti saja, namun lagi-lagi aku harus menguatkan diriku sendiri untuk tetap bertahan. Tiap hari aku harus mendengar hal-hal yang tidak baik. Mereka bilang aku tidak pantas masuk kelas favorit. Mereka bilang aku selalu curang hingga masuk kelas favorit. Mereka bilang aku anak yang tidak baik, bodoh, jelek, miskin! Ya Tuhan, aku hanya bisa berdoa dan berusaha yang sebaik-baiknya untuk membuktikan pada mereka bahwa aku bukan orang yang seperti mereka tuduhkan. Aku hanya ingin belajar dan cari teman saja bukan permusuhan. Dan itu berlanjut ketika aku masuk SMP sampai SMK. Huh, aku berfikir mungkin ada benarnya juga dulu nenek dan ibu sering melarangku berteman dengan sembarang orang.