
Hujan baru saja reda. Gerimis masih mengiringi langkahku. Aku harus bertemu Rudy dan meminta penjelasan atas apa yang telah ia lakukan padaku. Tujuanku hanya ingin meminta bantuan Frans untuk menjadi jembatanku menemui Rudy. Aku tidak ingin pergi ke rumah Rudy karena takut dianggap tidak tahu malu oleh keluarga Rudy karna statusku yang bukan lagi pacar Rudy. Terlebih Rudy sudah mengenalkan pacar barunya pada keluarganya.
Hati dan pikiranku masih sangat kacau. Aku tidak terlalu fokus mengendarai motor karena yang kulihat adalah bayangan Rudy saat bersama pacar barunya. Gerimis seakan menutupi air mataku dari pandangan orang. Aku sampai di rumah Frans dan ia sudah menungguku di depan rumahnya.
"Ya ampun Fanda. Sedih aku liat kamu begitu kacau begini. Ayo masuk dulu."
"Terima kasih."
"Ayo sini duduk dulu."
"Maaf Frans, aku mengganggu waktumu bersama istri dan anakmu."
"Tak apa Fanda. Aku prihatin sama kamu, kamu bisa sekacau ini hanya karna Rudy."
"Aku udah nggak tau harus gimana lagi. Aku bingung. Semuanya seperti sudah mati."
"Hei.. Hidupmu masih panjang Fanda. Jangan hanya karna satu cowok kamu jadi putus asa begitu."
"Aku nggak bisa tenang karna Rudy mutusin aku hanya lewat telepon dan sampai detik ini aku nggak bisa lupain hal itu. Itu terlalu menyakitkan."
"Apa kami mau ketemu Rudy?"
"Iya. Tapi aku nggak bisa lagi hubungin dia. Bisakah kamu membantuku, Frans?"
"Oke tunggu biar aku tanya si Rudy."
Frans pun mulai menghubungi Rudy dan Rudy pun menyetujui untuk datang. Sekejap aku begitu bahagia mendengar suara Rudy dari depan rumah Frans. Namun aku begitu kecewa melihat pandangan Rudy yang seakan begitu jijik melihatku.
"Aku tinggal dulu ya. Kalian ngobrol baik-baik." kata Frans mempersilahkan kami untuk saling berbicara.
"Aku udah disini kami mau ngomong apa?!" kata Rudy dengan nada sinis.
"Duduk sini dong lebih deketan." jawabku sambil menahan rasa kecewaku akan sikap Rudy.
"Udahlah nggak usah banyak cincong! Ngomong aja apa maumu?!"
"Kenapa malah kamu yang marah sih?"
"Aku benci sama kamu karna kamu tu ganggu banget tau nggak!"
"Aku ganggu? Apa kabar tentang kamu yang nyakitin aku? Apa kamu lupa?"
"Aku nggak lupa. Hal itu pantes kamu terima. Ini karma kamu karna dulu kamu pernah selingkuhin aku!"
"Aku udah berkali-kali bilang kan kalo aku nggak pernah selingkuh!"
"Iya kamu nggak selingkuh tapi kamu kasih kesempatan ke cowok lain dibelakang aku!"
"Rudy, harusnya kamu tau situasi saat itu kan! Gimana perlakuan kamu yang ngerendahin aku dihadapan banyak orang. Apa kamu sadar hal itu? Di saat kamu selalu nyakitin aku datang perhatian dari orang lain, wajar saja jika aku jadiin hal itu sebagai pelarian. Tapi aku sama sekali nggak bermain hati."
"Bullshit! Mana ada maling ngaku! Yang ada penjara udah penuh!"
"Aku harus gimana lagi sih jelasin ke kamu? Kita udah janji memulai ini dari awal tapi nyatanya kamu malah memulai hal itu sama cewek lain." aku pun tak tahan lagi menahan air mataku.
"Udahlah ya nggak usah pake nangis-nangis segala. Aku nggak akan mungkin kembali sama kamu karna keputusanku sudah bener-bener bulat. Sebentar lagi aku mau nikah sama dia jadi kamu nggak usah ganggu aku lagi."
"Tapi aku nggak bisa lepasin kamu."
"Harus bisa! Aku nggak butuh kamu lagi."
"Apa sih yang bisa bedain aku sama dia?!"
"Aku nggak ngerti kamu? Coba kamu ulang lagi kata-kata kamu! Kamu bilang aku nggak ngerti kamu?! Aku udah cukup ngerti kamu Rudy bahkan sebelum semua ini terjadi aku sudah pernah bilang ke kamu kalo judi itu bakal bikin kamu sengsara. Dan sekarang setelah aku ngertiin kamu dalam segala hal kamu bilang aku nggak ada apa-apanya dari cewek kamu itu?! Kalo aku nggak ngerti kamu, aku nggak bakalan sama kamu sampe sekarang Rudy!"
"Dan sekarang silahkan kalo kamu mau sama yang lain atau balikan sama si Ade itu. Aku udah nggak peduli."
"Kamu segitunya mandang rendah aku Rudy?!"
"Iya! Kamu cewek nggak tau diri yang hanya mikirin dirimu sendiri dan nggak bisa ngebantu aku sama sekali!!"
"Jadi itu pandanganmu tentang aku selama ini? Aku yang udah temenin kamu dari awal?"
"Iya dan aku udah muak sama kamu."
"Kamu nggak jauh beda dari seorang bajingan Rud."
"Terserah kamu mau bilang aku apa yang terpenting keputusanku udah bulat. Kita putus aja Fanda. Mulai detik ini jangan ganggu aku dan pacarku lagi."
"Salahkah jika aku hanya mau kamu?"
"Nggak usah banyak drama lagi Fanda. Kita putus ya putus!"
Rudy pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi namun aku mencoba memegang tangannya untuk menghalanginya pergi.
"Lepasin tangan aku Fanda!"
"Nggak. Aku cuma mau kamu Rudy."
"Lepas Fanda!" dengan kasar Rudy menepis tanganku dan berlalu pergi.
Aku hanya bisa meratapi nasibku dan menangisi kisahku yang sudah hancur. Aku tak tau lagi arah tujuanku kini.
"Sudahlah Fanda. Kamu ikhlaskan saja Rudy pergi. Suatu saat dia pasti nyesel udah kecewain kamu." kata Frans mencoba menenangkanku.
"Aku udah bener-bener putus asa Frans. Aku kayak udah nggak sanggup lagi hadapin semuanya."
"Hei Fanda aku nggak suka kamu ngomong kayak gitu! Kamu harus tegar Fanda."
"Nggak semudah itu aku cinta sama Rudy, butuh waktu dan sekarang ketika aku beneran cinta Rudy justru pergi. Gimana aku bisa sembuhin rasa sakit ini Frans?"
"Ambil hikmahnya dari ini semua Fanda. Lain kali jangan terlalu sayang sama seseorang. Beda ceritanya kalo kamu sudah nikah."
"Aku bakal buktiin ke Rudy bahwa aku nggak seburuk itu. Karma itu pasti ada, jika beruntung aku bakal liet langsunh karma itu datang pada Rudy."
"Oke aku bakal dukung kamu. Yang terpenting kamu jangan putus asa lagi."
"Semoga aku bisa."
"Harus bisa dong."
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Rudy mengirimiku pesan.
Pulang kamu Fanda. Ini udah jam berapa?! Ngapain juga kamu masih di rumah si Frans! Jangan jadi omongan orang!
Aku tak mempedulikan pesan Rudy. Bahkan kini aku sudah mulai membencinya walau masih ingin bisa bersamanya. Tepat pukul 10 malam, aku pamit untuk pulang. Frans mewanti-wanti untuk aku tetap fokus selama perjalanan mengendarai motor. Frans tidak ingin aku terus putus asa hanya karna Rudy.
"Aku nggak mau kamu ngelakuin hal yang aneh-aneh Fanda. Kamu udah kayak adikku sendiri sekarang. Pokoknya kamu harus kasih kabar ke aku kalo udah sampe rumah."
"Iya terima kasih, Frans."
"Ya sudah, hati-hati dijalan ya."