My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Kecewa Lagi



Meski akhirnya Rudy mulai bersikap manis padaku namun Rudy sudah jarang memiliki waktu untukku. Rudy selalu berdalih bahwa dia tengah sibuk. Hanya sesekali saja Rudy mengajakku keluar hanya untuk melampiaskan nafsunya saja. Kadang aku merasa kali ini aku hanya dijadikan alat pemuas nafsunya saja. Dan lagi-lagi aku tetap saja menghiraukannya dan berusaha menuruti segala kemauannya agar Rudy selalu ada disisiku.


Suatu sore ketika shift kerjaku sudah hampir selesai. Aku mencoba untuk mengunjungi Rudy di tokonya. Aku begitu merindukannya karna kami sudah jarang sekali bertemu. Setibanya disana aku langsung memeluk Rudy dari belakang.


"Hai sayang. Kangen banget aku tu."


"Eh Fanda Sayang. Kamu udah selesai kerjanya?"


"Udah sih tapi belum bisa pulang karna jam kerjaku belum habis jadi aku pergi nemuin kamu dulu."


"Dasar kamu yank."


"Lagi apaan sih sibuk banget sama laptopnya."


"Biasa yank."


"Ya ampun kamu tuh ya masih aja main judi online yank. Berhentilah yank itu nggak baik."


"Ini cuma buat iseng-iseng doang yank."


"Iseng tapi kamu selalu habis duit dan nggak dapet apa-apa. Kamu kan udah janji sama aku buat berhenti kan yank."


"Iya deh ini terakhir yank."


"Ah kamu tu kebanyakan janji palsu."


"Terakhir ini yank. Tapi aku minta tolong sekali lagi dong buat transfer uang buat ngechip."


"Tuh kan."


"Sekali ini lagi yank. Tolong ya."


"Ya udah sini mana kartu atm nya."


"Nih. Makasih ya sayang."


"Iya tunggu bentar."


Aku pun langsung pergi ke atm dan mencoba membuka atm. Namun aku gagal masuk karna pin yang kumasukkan selalu salah. Aku mencoba lagi namun tetap gagal. Kalo tidak salah ingat pin atm Rudy adalah tanggal jadian kami. Aku sudah 3 kali mencoba selalu gagal dan kartu atm Rudy pun terblokir. Aku kembali ke toko tanpa hasil. Setelah memberitahukan hal itu pada Rudy, dia begitu murka dan memakiku dihadapan banyak orang.


"Goblok! Kenapa kamu blokir kartu atm aku sih!"


"Aku mana tau. Bukannya pin atm kamu tuh tanggal jadian kita kan? Tapi kenapa bisa gagal terus coba."


"Ya pasti gagal lah kan pin nya udah diganti."


"Terus kenapa kamu nggak bilang sama aku?"


"Kan aku udah pernah bilang yank."


"Kapan? Aku belum pernah dengar kamu bilang ke aku kalo pin atm kamu udah diganti. Oh atau kamu kasih taunya ke cewek lain mungkin aku!"


"Dasar goblok! Dimintain tolong hal kayak gitu aja nggak becus!"


"Kamu berani ngatain aku dihadapan banyak orang? Kamu bisa ya maki-maki aku dihadapan banyak orang? Kamu jahat banget tau nggak!!"


"Itu karna kamu bego!"


Aku pergi kembali ke standku. Baru kali ini ada orang memakiku dihadapan banyak orang. Betapa malunya aku saat itu. Aku benar-benar tak menyangka bahwa Rudy bisa bersikap seperti itu. Hatiku seperti teriris-iris ketika orang yang benar-benar kucinta memakiku seperti itu. Bagiku akan lebih baik jika Rudy memakiku bukan ditempat umum. Itu tidak akan membuatku malu kehilangan muka pada orang-orang yang ada di sekitar toko Rudy.


Sesampainya di stand, aku masih bisa melihat Stefia dan Brian begitu bingung melihatku begitu berantakan.


"Fanda kamu kenapa?" kata Stefia begitu penasaran.


Seketika aku memeluk Stefia dan tangisku pun pecah karna tak bisa menahan emosiku lagi.


"Dia jahat banget sama aku. Aku bener-bener benci liet dia sekarang."


"Memangnya ada apa sih? Coba cerita sama aku biar kamu bisa tenang."


"Iya Fanda coba cerita sama kita." sambung Brian dengan begitu penasaran dan prihatin dengan keadaanku yang begitu kacau.


Sambil menangis sesenggukan aku pun mencoba bercerita pada Stefia dan Brian.


"Rudy marah karna aku nggak sengaja bikin kartu atm Rudy terblokir karna salah pin. Aku nggak tau kalo pin atm Rudy udah diganti dan Rudy nggak bilang sama aku. Terus Rudy memakiku dihadapan banyak orang. Aku malu Stef. Kalian bisa bayangin kan gimana perasaan aku saat itu."


"Emang bener-bener keterlaluan ya si Rudy!" kata Stefia dengan nada kesal.


"Kalo aku jadi Rudy, semarah-marahnya aku, aku bakal tetep hargain perempuanku meski dia berbuat salah. Toh itu bukan utuh kesalahanmu. Nda." sambung Brian mencoba menenangkanku.


"Aku nggak nyangka Rudy bisa gitu sama aku."


"Sudahlah Fanda jika sudah begitu harusnya kamu bisa berpikir bahwa Rudy memang nggak baik buat kamu. Dia nggak bisa lagi jaga hati kamu dan sekarang yang lebih parah lagi dia berani maki-maki kamu di tempat umum. Dia udah nggak bisa hargain kamu." kata Stefia mencoba menyadarkanku dari kebutaanku.


Setelah tenang, aku duduk di ujung stand kerjaku dan tak ingin beranjak pulang meski jam kerjaku sudah selesai. Aku masih merenungi kesedihanku akan sikap Rudy. Aku melamun terbayang akan sikap Rudy saat memakiku tadi. Bayangan itu seperti terus berputar di otakku dan semakin membuatku kesal terhadap Rudy. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Saat kulihat ternyata Rudy mencoba meneleponku beberapa kali. Aku terus mengabaikannya meski Rudy terus berusaha untuk meneleponku. Kesal karna Rudy begitu menggangguku, aku pun mengangkat teleponnya tanpa mengatakan apapun.


"***Halo sayang. Aku bener-bener minta maaf. Aku bener-bener khilaf. Aku nggak bermaksud buat bikin kamu malu sayang....."


"Sayang kamu denger aku kan. Gimana kalo aku antar kamu Pulang yuk. Aku tunggu di parkiran ya....."


"Kok kamu diem aja sih yank? Oke aku anggap kamu setuju untuk pulang sama aku. Aku tunggu di bawah ya***."


Kata-kata Rudy seperti menghipnotisku. Aku pun menuruti permintaannya dan segera turun ke parkiran untuk menemuinya. Setelah bertemu, Rudy masih berusaha untuk meminta maaf padaku namun aku tak menggubrisnya.


"Kamu kok diem aja sih yank. Aku bener-bener keterlaluan ya yank bikin kamu jadi kayak gini. Aku bener-bener khilaf yank."


"Kamu mau nganterin aku pulang kan? Ayo aku capek banget hari ini mau cepet-cepet istirahat."


"Oke ayo."


Rudy pun langsung mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan, kami tak berkata sepatah katapun. Rudy hanya berusaha memegang tanganku dan menggengamnya. Sesekali dia menatapku namun aku tak mempedulikannya. Aku masih cukup kesal setiap kali teringat akan kata-katanya yang begitu kasar memakiku. Sesampainya di rumahku, aku langsung saja turun dan pergi, tak menghiraukan Rudy lagi. Rudy berlari mencegahku untuk masuk ke rumah.


"Sayang tunggu dong." kata Rudy sambil meraih tanganku dan menggengamnya.


"Aku capek Rud. Aku mau istirahat."


"Aku tau aku ini bener-bener keterlaluan tapi jangan karna hal ini kita jadi renggang ya."


"Itu tergantung dari sikap kamu."


"Aku janji nggak akan gitu lagi lain kali."


"Cukup Rud! Aku udah nggak percaya sama janji-janji kamu!" aku menepis tangan Rudy dan beranjak pergi untuk masuk ke rumah.