My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Bad Girl



Aku dan Kak Rio bukanlah sepasang kekasih. Kami hanya sekedar TTM saja. Sejak kejadian malam itu ketika kami berciuman dengan begitu mesra, kami jadi semakin dekat. Tiap malam kami selalu duduk bersama atau sekedar ngobrol dengan teman yang lain juga. Bahkan setiap hampir tengah malam ketika suasana mulai hening, kami selalu melakukan ritual ciuman. Entah mengapa aku merasa ketagihan untuk selalu bermanja dan bermesraan dengan Kak Rio. Memang ini adalah cara pelampiasan yang salah, namun aku tak bisa menahan gejolak yang ada. Dan ini adalah awal dari diriku menjadi seorang Bad Girl.


Semakin dekat hubunganku dengan Kak Rio dan teman-temanku tak pernah tahu bagaimana kedekatanku dengan Kak Rio sejauh apa. Yang mereka tahu kami hanya dekat selayaknya teman biasa atau selayaknya kakak saja. Suatu malam seperti biasa, kami duduk di ruang tamu hanya berdua saja. Merasa ada yang aneh karna tidak seperti biasanya ketika ada beberapa orang teman yang duduk bersama kami untuk mengobrol. Aku dan Kak Rio mulai berciuman dengan begitu bergairah. Kak Rio mulai melumat bibirku seakan ingin melahapku. Aku merasa diriku hanyut dalam kenikmatan yang membuatku seakan melayang. Tangan Kak Rio mulai nakal menggerayangi tubuhku. Aku masih menikmatinya, namun ketika tangan Kak Rio mulai mendekati bagian vitalku sontak saja aku menahan tangan Kak Rio dan mendorongnya. Tanpa berkata apa-apa aku langsung pamit untuk pulang. Dalam diriku aku merasa takut dan bertanya-tanya apa yang sedang aku lakukan. Sesaat setelah aku pulang, aku mendapat sebuah pesan dari Kak Rio. Dia meminta maaf atas kejadian tadi, tanpa pikir panjang aku langsung memaafkannya.


Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya, aku masih menjalani hari seperti biasanya dan masih dekat dengan Kak Rio seperti biasanya. Suatu malam ketika aku dan Kak Rio sedang bercanda lewat pesan singkat, dia bertanya, "Apa kamu mau ikan bakar?" "Aku lagi pesta ikan bakar ini, kalau kamu mau kesini aja aku bikinin yang spesial buat kamu". Aku pun mengiyakan ajakannya. Waktu itu sudah cukup malam, aku menyelinap pergi keluar untuk menemui Kak Rio. Sesampainya di depan rumah Kak Rio, ia langsung membawaku ke kamarnya. Aku bertanya padanya,


"Kenapa kamu malah bawa aku ke kamarmu?".


"Ah, oke Kak. Aku tunggu disini".


Tak lama setelah itu Kak Rio datang dan membawakanku ikan bakar yang ia janjikan. Aku melihat ada yang aneh dengan Kak Rio ketika dia kembali, ternyata ia sedikit mabuk. Kami duduk berdua dan mulai menikmati ikan bakar itu. Kami mengobrol dan bercanda hingga larut malam. Tahu aku mulai mengantuk, Kak Rio menyuruhku untuk beristirahat di kamarnya sedangkan ia kembali keluar menemui teman-temannya. Entah sudah jam berapa, aku terbangun dari tidurku dan menyadari bahwa Kak Rio sudah berada di sampingku. Namun ketika aku ingin bangun untuk minum, Kak Rio menarik tanganku dan menahanku di kasur. Dia mulai melumat bibirku dan tangannya mulai menggerayangi seluruh tubuhku. Suasana kamar yang agak remang-remang seakan mendukungku menikmati semua ini. Kali ini aku tidak menolak dengan apa yang Kak Rio lakukan. Awalnya aku masih merasa takut ketika Kak Rio mulai melucuti seluruh pakaianku. Dengan sigap Kak Rio mulai mematikan lampu untuk membuat tenang. Dalam gelap kami mulai beradu. Tanpa sadar aku menangis, apa yang telah aku jaga sekarang sudah diambil oleh Kak Rio. Meski menangis aku justru menikmati hal ini tanpa ada penyesalan.