
Mungkin Ayahku sudah jenuh melihatku hanya keluyuran kesana kemari tak jelas arah dan tujuan hingga ia memintaku untuk mulai bekerja. Ada benarnya juga, aku jadi tak menyusahkan Ayah lagi dan tak melulu bergantung padanya. Meski umurku masih belum saatnya untuk bekerja tapi akan lebih baik jika aku mulai mandiri.
Hari pertamaku bekerja masih begitu santai belum banyak kerjaan. Pak Harry begitu membebaskanku. Toh, kantor juga baru saja mulai beroperasi. Ketika Pak Harry dan orang-orang yang lain pergi ke lapangan, aku di kantor hanya sendirian. Kadang bosan juga, tidak ada kerjaan dan hanya berada di depan komputer. Untungnya Pak Harry begitu pengertian padaku, dia sudah menyiapkan koneksi internet sehingga aku bisa bebas berselancar di internet.
Karna posisiku sebagai admin, aku diharuskan memegang keuangan juga yang dipersiapkan untuk operasional kantor. Bagiku ini adalah tantangan pertamaku. Aku harus mengelola uang itu dengan sebaik-baiknya. Kadang berat bagiku untuk memegang tanggungjawab ini, tapi kembali lagi bahwa aku harus mulai bisa mandiri.
Hari-hariku masih selalu terpaku dengan komputer. Mulai dengan beberapa rekapan yang harus dirinci dari pemasukan hingga pengeluaran. Aku masih begitu lihai mengelola aplikasi word dan excel. Kerjaanku masih sangat ringan dan sederhana. Suatu hari Pak Harry mengetahui bahwa sebelumnya aku sempat sekolah desain. Beliau bertanya padaku apakah aku bisa membuatkannya sebuah desain logo untuk kantornya. Walau agak ragu, aku mengiyakannya. Aku mulai menggambar beberapa desain logo kantor. Aku masih sangat paham bahwa membuat sebuah logo harus mewakili misi dari sebuah subyek.
Seakan bisa melihat kemampuanku, Pak Harry bertanya padaku.
"Fanda, apa kamu tertarik dengan desain?"
"Sebenarnya saya sangat tertarik pak, hanya saja semua tidak bisa saya wujudkan."
"Kenapa? Apa karena orangtuamu?"
"Iya pak."
"Fanda, banyak sekali orang diluar sana yang punya ijazah dengan gelar yang mentereng tapi mereka tidak bisa bekerja sesuai dengan gelar ijazahnya. Beda dengan kamu, saya melihat kamu punya bakat tapi kamu tidak bisa menggunakannya."
"Saya malu pak karna saya tak tamat sekolah."
"Kamu tertarik dengan arsitertur nggak?"
"Wah hebat kamu Fanda! Saya benar-benar salut sama kamu!" Pak Harry sibuk mencari-cari sesuatu dilacinya. Setelah menemukannya dia menunjukkan padaku dua gambar desain sebuah rumah yang sama namun berbeda satu sama lain.
"Menurutmu dari dua contoh gambar ini, mana yang menurutmu sangat bagus?" Sambil menunjukkan gambar itu padaku.
"Menurut saya desain yang lebih sesuai dari rumah iti yang sebelah kanan pak."
"Good! Kamu benar-benar punya bakat, Fanda. Kamu mau belajar autoCad? Itu aplikasi untuk membuat desain bangunan."
"Jika diijinkan saya mau pak."
"Belajar arsitektur itu menyenangkan. Kamu hanya menggambar dengan hatimu saja sudah bisa dapet banyak uang. Lihat saja si Randy itu, dia belum lulus kuliah sipil tapi bisa dapet uang hanya dari desain garasi. Satu desain itu dia jual sekitar 3,5juta."
"Wah mahal ya pak. Saya bisa gambar tapi masih buta akan segala hal tentang arsitektur pak."
"Tak masalah, kamu bisa belajar pelan-pelan."
"Terima kasih pak atas arahannya."
"Sama-sama, Fanda."