My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Kecewa



Kegiatanku setiap hari masih sama saja. Aku masih selalu menemani Rudy di tokonya. Hari ini begitu santai karena tak banyak pesanan. Aku merasa bosan, lalu aku mencoba untuk bermain ponsel. Aku mencoba melihat isi gallery ponsel Rudy. Awalnya aku tak curiga dengan isi gallerynya yang didominasi foto-foto Rudy dan foto kami berdua. Tak disangka aku harus melihat sebuah foto yang sangat membuatku kecewa. Aku melihat foto Rudy sedang memangku seorang pemandu karaoke. Akhirnya aku tahu bahwa semalam ketika aku mencoba meneleponnya dia terdengar sedang berbohong. Saat aku menelepon, Rudy bilang dia sedang begitu sibuk namun yang aku dengar adalah musik yang cukup keras di dalam mobil. Awalnya aku tak ingin curiga tapi ternyata kecurigaanku benar adanya.


"Yank sinian deh bentar."


"Apa yank?"


"Aku mau tanya sesuatu nih."


"Tanya apa sayangku?"


Aku mencoba membuka foto itu dan menunjukkannya pada Rudy.


"Aku mau nanya ini nih. Ini maksudnya apa yank?" kataku sambil menunjukkan fotonya bersama pemandu karaoke.


"Hehehehe maaf sayang. Itu cuma buat lucu-lucuan aja kok."


"Oh buat lucu-lucuan ya. Besok aku mau foto kayak gitu juga deh. Foto sama cowok lain mesra-mesraan biar keliatan lucu gitu ya."


"Jangan dong yank. Aku minta maaf yank bener-bener minta maaf."


"Kamu kok tega sih boongin aku yank? Aku tiap hari udah nemenin kamu terus loh. Masih kurang juga ya?"


"Maaf yank aku semalem pergi sama mas Lutfi juga kok yank. Aku pergi rame-rame yank."


"Bukan itu masalahnya yank. Masalahnya kamu itu boong sama aku dan kamu pergi karaoke bareng sama pemandu karaoke segala. Kalo kamu udah bosen sama aku ya udah aku pergi aja lah."


"Hei hei jangan gitu dong yank. Aku ngaku salah aku nggak bermaksud gitu yank. Aku cuma diajakin aja kok."


"Bodo amat!"


"Duh jangan marah lagi dong yank."


Tiba-tiba mas Lutfi sudah ada di toko dan menengahi kami.


"Hei ada apa sih ini?"


"Ini mas si Fanda liet foto-foto semalem."


"Emang semalem si Rudy nggak bilang sama kamu nda?"


"Enggak. Dia cuma bilang lagi sibuk tapi banyak banget suara orang di mobil suara musik kenceng banget. Pantes aja semaleman aku gelisah ternyata gitu."


"Udahlah aku pamit pulang aja mas. Aku males disini."


"Pulang nanti aja ya bareng kita. Aku anterin kamu pulang nanti."


"Nggak usah aku pulang sendiri aja."


"Ayolah Fanda jangan marah lagi. Anggap itu sebagai permintaan maafku dan Rudy ya."


"Udah ya jangan ngambek yank. Maafin aku oke." sambung Rudy mencoba menenangkanku.


"Oke."


Setelah semua kerjaan di toko selesai, kami pun langsung pulang. Rudy masih berusaha menenangkanku tapi aku tetap diam tak menggubrik segala usahanya. Aku masih benar-benar kesal tentang hal itu sampai aku tak menggubris semua perkataan Rudy dan mas Lutfi. Sesampainya di rumahku, aku langsung turun begitu saja tanpa pamit. Rudy masih mencoba untuk membujukku dengan candaannya tapi aku sama sekali tak melihatnya dan berlalu begitu saja.


Ternyata hal itu tak cukup sekali aku mengetahuinya. Rudy masih sering pergi berkaraoke esek-esek bersama Joni dan kawan-kawannya yang lain. Sebenarnya aku tak masalah jika Rudy pergi berkaraoke dengan kawan-kawannya, yang aku tidak suka adalah mereka pergi ke karaoke esek-esek. Aku sudah cukup bersabar menghadapi sikap Rudy yang sudah sering mengecewakanku. Ini adalah awal pahit dari perjalanan cinta kami. Aku hanya merasa semenjak kemunculan Joni, Rudy jadi sering berbohong dan keluar malam hanya untuk berkaraoke. Dan terlebih ketika Rudy sudah mengenal Blackberry Messenger, isi kontaknya penuh dengan pin cewek. Aku sering sekali melihat isi chat Rudy menggoda cewek lain. Astaga aku benar-benar tak habis pikir bahwa sifat buruk Rudy yang banyak diceritakan orang akhirnya aku melihatnya juga. Aku hanya ingin Rudy saat pertama kami bertemu, yang begitu hangat dan lembut.


Tiap kali aku bertemu Rudy di toko dan sengaja melihat ponsel Rudy, selalu saja banyak chat dari cewek-cewek yang berhasil dia goda. Aku merasa begitu sedih, marah, kecewa semua bercampur jadi satu.


"Yank kami ini udah bosen ya sama aku? Kok kamu jadi kayak gini sih yank?"


"Kenapa sih yank?"


"Kamu kok jadi sering godain cewek lain sih pake sayang-sayangan segala."


"Iseng doang yank."


"Oh iseng ya? Awalnya iseng ntar lama-lama jadi beneran sayang gimana?"


"Nggak mungkin lah aku sayangnya cuma sama kamu doang."


"Boong lah. Aku udah kecewa sama kamu sekarang."


"Aku janji deh ini terakhir kalinya yank."


"Aku pegang janji kamu."


"Iya sayangku."


Dan hal itu selalu berulang kali terjadi. Rudy selalu meminta maaf aku memaafkannya dan Rudy berjanji lagi namun dengan mudahnya aku mempercayainya lagi. Kali ini aku sudah benar-benar menjadi budak cintanya Rudy. Semoga saja kesabaranku akan berbuah manis.