
Suatu pagi di rumah Rudy.
"Yank.. Hari ini kamu nggak usah ikut ke toko ya."
"Kenapa emangnya?"
"Aku ke toko cuma mau beres-beres doang. Lusa kan udah selesai kontraknya. Lagian aku mau mindahin etalase."
"Oke deh aku nurut aja."
"Habis ini aku anter kamu pulang ya."
"Sebenernya aku masih pengen berdua sama kamu. Belum ilang kangenku."
"Besok masih ada hari yank."
"Iya iya deh."
Usai sarapan di rumah Rudy, aku duduk di ruang tengah sembari menunggu Rudy bersiap-siap sambil mengobrol dengan Ibunya Rudy. Aku selalu membicarakan Rudy bersama Ibunya. Terkadang aku juga sering curhat mengenai hubunganku dengan Rudy bahkan menghadapi sikap Rudy yang selalu naik turun. Sebenarnya aku merasa betah berada di rumah Rudy, disana aku merasakan sebuah kehangatan keluarga. Terutama kasih sayang seorang Ibu yang belum pernah aku rasakan di rumahku sendiri. Setelah Rudy siap, kami pun bergegas.
Suasana di dalam mobil.
"Sayang, kenapa kamu nggak coba cari kesibukan lagi? Coba cari kerjaan lagi sayang."
"Pinginnya sih gitu tapi belum ada kerjaan yang cocok aja."
"Coba aja dulu kerja apapun itu yank. Aku juga bakalan sibuk banget akhir-akhir ini mungkin waktu untuk kita juga nggak akan lama."
"Maksudnya apa nih?"
"Ya cobalah cari kegiatan apa biar kamu nggak sendirian selagi aku kerja yank. Aku bakal jarang ketemu kamu nanti."
"Perasaan kamu aja yank."
Keheningan membuatku banyak berpikir buruk. Aku tak pernah salah mengenai perasaanku. Jika banyak orang bilang perasaan seorang wanita itu sangat kuat apalagi mengenai orang yang dicintainya, hal itu memang benar adanya.
"Yank, ini udah sampe loh. Kamu nggak mau turun nih?"
"Oh ya oke. Peluk cium dulu dong yank."
"Sini yank." Rudy pun memelukku dengan begitu eratnya dan mencium keningku.
"Kenapa cuma kening doang sih ciumnya?"
"Aku takut begitu merindukanmu."
"Gombal ya."
"Nggak lah. Sini cium bibir."
"I love you so damn."
"Love you too. Jaga dirimu baik-baik sayang."
"Kamu juga My Rud."
Sejak saat itu, aku memang jarang bertemu dan berkomunikasi dengan Rudy. Hanya sesekali saja Rudy membalas chat ku atau sekedar meneleponku walau cuma sebentar. Hari-hariku berlalu dengan kehampaan, rasa penasaran dan kegelisahan tak berujung. Tiap saat detak jantungku berdegup begitu cepat. Aku selalu terpikir oleh Rudy. Timbul pertanyaan di dalam hatiku, kenapa sejak kami berjanji untuk memulai ini dari awal lagi justru jarak semakin lebar di antara hubungan kami. Yang kuinginkan adalah hubungan yang harmonis seperti dulu. Namun kembali kutepis semua pikiran burukku. Aku tidak ingin lagi merusak semuanya dengan amarahku.
Jauh di dalam benakku, aku begitu merindukannya namun aku merasa rindu itu tak pernah terbalaskan. Entah mengapa pikiran buruk selalu ada dalam pikiranku. Ya Tuhan, ujian apa lagi yang harus aku lalui dalam hubunganku ini. Kenapa rasanya kali ini Tuhan sedang menunjukkan padaku bahwa Rudy bukan yang terbaik. Aku tak bisa lagi berjalan mundur karna seluruh hatiku sudah aku berikan pada Rudy. Aku hanya tak ingin cinta itu pergi di saat hati ini tak mungkin ditempati cinta yang lain.
Tuhan, aku mohon jangan biarkan Rudy pergi dariku. Aku tak sanggup jika harus melepaskannya dari hidupku..