My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Broken Home



Melewati masa sekolah SD membuatku begitu lelah. Setelah selesai ujian SD aku benar-benar lelah dan tak pernah lagi masuk sekolah. Aku tidak ingin lagi bertemu dengan teman-temanku yang masih memusuhiku. Meski rasanya hati ini masih bersedih aku harus tetap kuat menghadapi hari-hari berikutnya. Aku masih berharap setelah masuk SMP akan berbeda dari yang sebelumnya. Aku terlalu takut jika harus ada permusuhan lagi. Rasanya seperti terkepung kabut hitam. Aku masih melewati hari-hari dengan semua anggota keluargaku, Ayahku, Ibuku dan kedua adikku. Walaupun kami tak begitu hangat karna terlalu banyak hal yang tak semestinya. Aku masih sering dimarahi Ibuku tanpa alasan hingga main tangan. Bahkan aku sampai merasa "Dilupakan" karna kehadiran kedua adikku. Yang tadinya aku berharap memiliki keluarga yang begitu hangat seperti umumnya keluarga lain, nyatanya semua berbeda dari bayanganku. Aku masih sendiri begitu kesepian hidup di dalam sangkar emas. Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sebentar lagi aku akan melewati ujian SMP. Yang mana aku ingin perhatian lebih dari kedua orangtuaku, nyatanya aku hanya selalu mendengar kedua orangtuaku bertengkar. Aku masih tak peduli akan pertengkaran mereka. Dalam pikiranku, mungkin saja mereka hanya bertengkar seperti biasa. Pertengkaran mereka berlanjut hari demi hari. Aku merasa benar-benar tidak nyaman akan semua itu. Ingin rasanya aku berteriak pada mereka dan berkata pada mereka bahwa aku ingin diberi waktu yang nyaman untuk belajar. Di suatu malam, puncak dari permasalahan kedua orangtuaku. Di tengah malam aku terbangun dari tidurku karna terganggu dengan suara orang bertengkar. Ternyata kedua orangtuaku lagi yang bertengkar. Namun yang benar-benar membuatku terpukul adalah mengetahui bahwa ternyata ibuku berselingkuh. Meski kamarku di atas, aku masih bisa dengan jelas mendengar pertengkaran kedua orangtuaku. Seketika hatiku hancur berkeping-keping mengetahui kedua orangtuaku akan bercerai. Rasanya aku sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi. Apa yang aku harapkan dari sebuah keluarga kini hancur sudah. Tak peduli lagi apa yang akan kuhadapi nanti, aku sekarang seperti raga tak bernyawa. Ayah, Ibu... Kenapa harus seperti ini? Kenapa kalian tega denganku, dengan adik-adikku? Ingin rasanya aku berlari sejauh-jauhnya atau berteriak di ujung bukit dengan sekeras-kerasnya melampiaskan segala beban kesedihan ini. Suatu hari beberapa kerabat dari Ayah dan Ibu berkumpul di rumah bersama Pak RT dan beberapa tetanggaku. Disana mereka melakukan mediasi dengan permasalahan yang ada. Di dalam kamar aku masih termenung sendiri. Pak Dhe (Kakak dari Ayahku) memanggilku untuk duduk bersama mereka. Pak Dhe bertanya padaku, "Apa yang kamu harapkan dari Ayah dan Ibumu?" Aku hanya terdiam tak tahu apa yang ingin aku katakan, apa yang aku harapkan. Tanpa berkata aku hanya bisa menangis sesenggukan sambil memeluk Ayahku. Di dalam hatiku, aku tak peduli lagi dengan semuanya, aku hanya ingin sebuah "Keluarga Bahagia". Keesokan harinya Ibu pergi meninggalkan rumah tanpa satu katapun. Sekarang setiap hari aku hanya menjalani hari bersama Ayah dan kedua adikku. Suasana rumah saat ini begitu dingin, sepi, suram begitu banyak hal terjadi di rumah ini. Sebelumnya saat awal rumah ini berdiri dan sebelum ada kedua adikku, ketika aku sedang bercengkrama dengan kedua orangtuaku, aku pernah berharap dalam hati, "Ya Tuhan, kebahagiaan ini tak akan pernah terukir tanpa kasih sayang dari keluarga. Aku ingin kebahagiaan ini tercipta seterusnya selamanya tanpa ada lagi rasa yang lain".