
Aku masih sering berkomunikasi dengan Ade. Ya, aku hanya menangapinya seperti layaknya teman pada umumnya. Hingga suatu hari, Ade menanyakan hubunganku dengan Rudy.
"Fanda aku boleh nanya sesuatu nggak?"
"Boleh. Mau nanya apaan sih kayaknya serius banget nih?"
"Hubungan kamu sama pacar kamu sekarang gimana?"
"Kenapa nanya itu?"
"Ya cuma mau nanya aja sih."
"Hubungan kami baik-baik aja sekarang. Rudy jadi lebih perhatian sama aku kayak dulu lagi. Kenapa kamu tiba-tiba nanya itu?"
"Jujur, sebenarnya aku suka kamu Fanda."
"Apa sih yang bikin kamu suka sama aku, De?"
"Aku hanya merasa kamu begitu penuh perhatian dan kasih sayang. Jarang aku nemuin perempuan yang begitu tulus kayak kamu."
"Tapi kamu tau kalo aku udah punya pacar kan?"
"Iya aku aku. Udah bisa ngungkapin perasaanku aja udah lebih dari cukup."
"Maaf ya, De. Aku masih cinta sama Rudy."
"It's okay Fanda. Apapun yang bikin kamu bahagia aku juga ikut bahagia kok. Yang penting kita masih bisa berteman kan?"
"Iya masih kok."
Tak lama, Rudy mengirimiku chat. Aku merasa ada yang tidak beres kali ini karena Rudy begitu serius.
***Aku mau ketemu kamu sekarang. Tunggu depan rumah!
Ada apa sih yank? Serius banget kayaknya.
Tunggu aja! Aku mau ngomong sama kamu***.
Aku pun menuruti kata-kata Rudy dan menunggunya di teras rumahku. Aku merasa Rudy sedang marah padaku. Aku hanya tak mengerti apa yang dia kesalkan padaku. Tak lama, Rudy sampai di depan rumahku. Aku pun menyuruhnya duduk di sampingku namun Rudy menolaknya.
"Langsung aja ke intinya deh."
"Ada apa sih yank? Kamu bikin aku takut tau nggak. Sebenernya ada apaan sih?"
"Ada apa?! Harusnya aku yang tanya, ada apa! Kamu punya hubungan sama cowok lain di belakang aku?!"
"Apaan sih? Ya enggak lah yank. Kenapa kamu bisa nuduh aku gitu?"
"Nggak usah banyak alesan deh! Aku udah tau semuanya! Kamu lagi deket sama cowok iya kan?!"
"Kalo aku deket sama siapa apa ada masalah?"
"Itu masalah! Kamu itu pacar aku tapi kenapa kamu bisa deket sama cowok lain? Di saat aku memohon sama kamu mengharap maaf dari kamu, kamu justru balas itu dengan sikap kayak gini?! Apa itu maumu biar aku memohon-mohon sama kamu gitu?!"
"Kenapa kamu marah aku deket sama cowok? Kemaren-kemaren kamu deket sama banyak cewek ampe ngajakin ngamar aja bisa. Kenapa sekarang aku deket sama cowok lain kamu malah marah-marah gini?"
"Berarti emang bener kan kamu selingkuh yank!"
"Aku nggak pernah selingkuh. Meski pernah aku mau ninggalin kamu dan berpaling tapi aku tetep pilih kamu meskipun kamu udah bikin aku malu dihadapan umum dengan maki-maki pake omongan kasar. Jadi tolong jangan tuduh aku."
"Aku nggak percaya! Kalo kamu nggak selingkuh, kenapa kamu nggak bawa hp kamu sekarang?"
"Ya ampun yank yank. Hp aku low bat lagi aku charger di dalem."
"Bohong! Kamu pasti sembunyiin sesuatu!"
"Kalo nggak percaya ayo ambil!"
"Wah hebat banget kamu ya! Selamat ya ada yang udah jadian nih kayaknya!"
"Jadian apaan sih maksud kamu yank?"
"Tuh si Ade udah ngungkapin cinta kenapa kamu nggak terima?"
"Jadi kamu nyuruh aku buat nerima cintanya Ade gitu?"
"Hebat kamu Fanda! Aku nggak nyangka kamu bisa selingkuh di belakang aku! Pantesan waktu futsal kemaren kamu bisa senyum-senyum sendiri ternyata kamu lagi asik sama cowok lain. Dugaanku tepat!!"
"Aku nggak selingkuh sama siapapun oke."
"Banyak bacot!!" seketika tangan Rudy menamparku begitu keras.
"Ini bukan sekali kamu kasar sama aku yank!"
"Itu salah kamu sendiri!"
"Tapi aku nggak pernah bikin kesalahan apalagi selingkuh kayak yang kamu tuduhin ke aku**!!"
Aku menangis sejadi-jadinya. Aku bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya pada Rudy. Dalam keheningan itu aku hanya tak terima diperlakukan tak adil.
"Aku sungguh tak pernah duain kamu. Meski saat itu mungkin waktu yang tetap untukku berpaling dari kamu, tapi aku tak pernah benar-benar ngelakuin itu. Aku masih menghargai kamu. Aku hanya ingin setia karna hal itu yang akan kembali padaku nantinya."
"Lalu kenapa kamu masih bisa deket dengan cowok lain selagi aku ingin merubah semuanya buat kamu Fanda? Kenapa?"
"Aku nggak pernah lupain kamu sedikitpun atau gantiin kamu dengan orang lain di hati aku. Bukan gitu yank. Aku udah coba jelasin ke kamu, aku sama Ade tak ada hubunan spesial, kita cuma temen biasa meski dia pernah ungkapin cinta. Tapi aku tetap milih kamu udah gitu aja, aku nggak perlu jelasin lagi karna aku nggak seperti yang kamu tuduhin." aku mulai merasa menggigil kedinginan duduk di luar.
"Lebih baik kita putus aja."
"Apa kamu bilang?"
"Kita putus aja. Karna kita udah nggak sejalan lagi. Daripada aku nyakitin kamu dan sebaliknya, lebih baik kalo kita putus aja."
"Aku nggak mau!"
"Keputusanku sudah bulat!"
"Tapi aku nggak mau! Kenapa kamu mudah banget acak-acak hati aku sih?! Aku nggak mau putus titik. Aku udah sejauh ini dampingin kamu dari nol."
"Aku tau, aku hargain itu tapi aku nggak bisa lanjut lagi."
"Nggak mau!" aku pun mulai menangis lagi dan semakin merasa menggigil kedinginan.
Merasa kasian melihatku begitu hancur dan kedinginan, Rudy mengajakku keluar mencari motel untuk menginap. Pikiranku sudah begitu kacau. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Sepanjang perjalanan aku masih menangis dan mencoba untuk menggandeng tangan Rudy dan mencoba untuk memeluknya. Pikiranku saat itu hanya satu, aku tak ingin Rudy pergi meninggalkanku.
"Ayo kita lakukan ini untuk terakhir kali. Setelah itu kita sudah tidak ada hubungan lagi."
"Enggak! Kamu nggak boleh giniin aku."
Rudy memelukku dengan begitu erat. Aku masih merasakan kasih sayang Rudy untukku. Tapi Rudy tetap ingin berpisah denganku. Malam itu, aksi kami di atas ranjang menjadi saksi perpisahan kami. Aku hanya terus menangis sepanjang malam sambil memeluk Rudy hingga kami ketiduran.
Mentari pagi mulai terbit. Rudy mengantarku pulang sambil terus memegang tanganku. Kali ini Rudy tidak mengantarku sampai rumah. Di persimpangan jalan Rudy menurunkanku. Rudy masih mencoba tersenyum dan membelai pipiku.
"Fanda sayang, ini terakhir kalinya aku memanggilmu sayang. Ini terakhir kalinya kita bertemu. Setelah ini kita nggak usah komunikasi lagi. Aku akan blokir semua kontak kamu mulai hari ini. Selamat tinggal Fanda." Rudy mencoba melepas gengaman tanganku namun aku terus menolaknya.
"Jangan pergi Rudy. Aku butuh kamu."
"Maaf Fanda. Kali ini aku nggak bisa lagi."
"Jangan Rudy. Aku nggak mau kita pisah Rudy.. Rudy!" Rudy mulai meninggalkanku pelahan.
Aku mencoba mengejarnya tapi Rudy sudah begitu jauh. Aku hanya bisa terdiam sambil melihat Rudy menghilang di sudut jalan. Aku merasa tubuhku menjadi kaku tak mampu lagi menahan kesedihan di hatiku. Cinta dalam hidupku memutuskan untuk pergi dari hidupku. Aku kembali ke rumah dengan tatapan kosong dan tak bersemangat. Hari ini aku tak sanggup untuk bekerja. Aku meminta Brian untuk mengganti shift kerjaku selama beberapa hari ini. Seharian aku mengurung diri di kamar, menangisi nasibku yang begitu malang. Kenapa harus selalu seperti ini? Setiap kali aku mencintai seseorang, aku selalu diperlakukan seperti ini. Putus cinta memang telah membuatku lupa akan segalanya. Dunia ini seperti sudah berakhir seperti berakhirnya kisah cintaku..