
Berbulan-bulan menjomblo rasanya sepi juga. Tiap hari aku hanya bisa bersenang-senang dengan teman-temanku. Bosan dengan segala aktifitas yang begitu saja, aku merasa bahwa aku butuh pelarian. Meskipun masih banyak laki-laki yang mendekatiku tapi belum ada satu pun yang bisa membuatku nyaman. Banyak dari mereka yang hanya modal janji-janji manis saja atau hanya gombal-gombal saja.
Suatu malam ketika aku baru saja pulang dari rumah Emma, ada seorang pria datang menghampiriku. Dia seseorang yang memiliki wajah rupawan, postur tubuhnya tinggi dan menarik. Aku masih kaget saja ketika tiba-tiba dia datang dan aku sama sekali tidak mengenalnya.
"Hai boleh kenalan nggak?" Katanya sambil tersenyum padaku. Jujur, senyumannya manis sekali.Dari senyumannya saja bisa membuatku luluh.
"Oh hai! Emmm... Boleh."
"Kenalin namaku Ryan. Apa aku boleh tau namamu?"
"Aku Fanda."
"Aku sering loh lewat depan rumahmu dan sering liet kamu. Aku penasaran sama kamu. Habisnya kamu cantik, manis. Hehehe."
"Oh ya? Hmmm... Emangnya aku cantik?"
"Iya dong. Cantik kamu itu alami."
"Gombal! Sering aku denger begitu."
"Wah jadi kamu banyak yang deketin ya. Pantes aja sih karna nyatanya kamu tuh emang manis, Fanda."
"Bisa aja kamu ngegombalnya ya!"
"Beneran Fanda, Aku nggak lagi gombal. Oh ya aku boleh minta nomor kamu nggak?"
"Mau buat apa?"
"Pengen lebih deket aja sama kamu. Boleh ya, please!"
"Oke. Nih nomernya."
"Sip! Udah aku catat. Nanti aku hubungin kamu ya. Aku pamit dulu ada keperluan sebentar."
Selang beberapa jam, Ryan mulai mengirimiku pesan. Dia mulai banyak bertanya tentangku dan sejak saat itu pun kami mulai dekat. Ryan sering sekali memberiku kejutan dengan hal-hal romantisnya. Bahkan dia sering memberiku hadiah kecil. Aku mulai luluh karna aku merasa begitu dimanjakan dan diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Meski aku tahu kata-katanya itu kebanyakan gombalnya, buatku tak masalah selagi aku bisa merasa begitu diperhatikan. Suatu hari Ryan mengajakku pergi ke sebuah kafe. Di sana kami memesan kopi dan beberapa camilan. Kami asik mengobrol berbagai hal dari hal lucu, menyedihkan, menyenangkan, menjengkelkan, semua hal. Hingga ditengah-tengah obrolan kami, Ryan mulai berbicara serius. Dia menghabiskan kopinya dan mulai berbicara.
"Fanda, kenapa kamu begitu menarik?"
"Menarik yang bagaimana?
"Yah... pokoknya menarik saja. Sejak pertama melihatmu hingga akhirnya kita jadi dekat seperti ini, aku merasa nyambung aja sama kamu."
"Oh ya?"
"Iya, Fanda. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama denganku?"
"Mungkin iya. Aku merasa nyaman sama kamu, Ryan."
"Kalau begitu, bolehkan aku jadi pacar kamu? Biar kamu bisa lebih nyaman lagi sama aku?"
"Hmmmm... Oke aku mau!"
"Yes! Berarti kita udah resmi pacaran ya! Love you, Fanda." Berdiri sambil menggenggam tanganku dan mencium keningku.
Saat aku berpacaran dengan Ryan, tak ada satupun dari teman-temanku yang tahu. Mereka tak pernah tahu jika aku sedang berpacaran. Kali ini aku enggan bercerita dengan mereka. Mereka hanya tahu bahwa aku kembali menjadi play girl seperti sebelumnya saja. Sejak aku dan Ryan berpacaran, dia sering sekali main ke rumahku, mungkin karna rumahku selalu sepi. Hingga suatu malam ketika rumah benar-benar kosong, tanpa memberitahuku sebelumnya Ryan datang menemuiku. Kami mengobrol di ruang tengah sambil melihat tv. Saat aku sedang serius melihat acara tv, tiba-tiba Ryan mulai memelukku dengan erat dan penuh gairah.
"Fanda, aku pingin nge-sex sama kamu."
"Apa harus sekarang?"
"Iya. Jika kamu ingin, aku bakal bikin kamu puas!"
"Ayo ke kamarku sayang." Ryan mulai mengikutiku ke kamar.