My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Bergairah



Hampa juga rasanya lama tak memiliki kekasih. Aku rasa sudah beberapa bulan aku tak memiliki pacar. Selama ini aku selalu mengabaikan laki-laki yang ingin mendekatiku. Ternyata masih ada laki-laki yang terus menggodaku, entah itu di SosMed atau bahkan yang terus menghantui ponselku dengan gombalan-gombalan mereka. Aku masih menanggapinya dengan biasa, sampai akhirnya aku mulai dekat dengan Kakak Emma yang bernama Sony. Kami memang sering berkumpul di rumah Chika untuk sekedar bermain musik atau ngopi.


Hampir tiap hari aku dan Sony saling bercanda. Kami mempunyai gaya dan jenis musik yang sama. Mungkin itu juga yang membuat kami langsung klop. Aku sering sharing lagu-lagu terbaru bahkan sering memberi masukan untuk playlist musik kami. Baru kali ini aku berani begitu terbuka pada Sony. Tadinya aku mengira tidak bisa akrab dengannya karna pembawaannya yang begitu dingin. Ternyata dugaanku salah, dia begitu asyik diajak ngobrol dan bercanda bahkan kami juga sering saling menggoda.


"Son apaan sih status fb lu? Emang misi hidup lu itu cuma musik, mabuk sama sex doang? Gila kadang-kadang lu ya. Hahaha."


"Hahaha. Biar heboh aja."


"Emang lu pernah ngesex?"


"Kepo lu. Nah elu pastinya sering ngesex kan ama pacar-pacar lu dulu?"


"Emang. Terus kenapa?"


"Asyik nggak Fan?"


"Menurut lu?"


"Sialan! Jangan mancing gue Fanda!"


"Ngesex itu nikmat bgt loh Son."


"Jangan bikin Sony Junior bangun Fan. Emang lu mau tanggung jawab?"


"Biar aja. Ntar gue manjain Sony Juniornya."


"Beneran nih? Emang lu mau?"


"Lu nantang gue?"


"Iya! Kalo lu berani besok kita pergi cari tempat check in. Gimana?"


"Kutagih janjimu besok sayang *emoticon kiss*"


Entah apa yang kupikirkan saat itu, aku justru membuat janji seperti itu pada Sony. Mungkin karna sudah cukup lama juga aku tidak melakukan hubungan badan membuat gairahku naik.


Sabtu malam Sony menjemputku dengan menggunakan motor. Sepanjang jalan kami masih saling bercanda bahkan sikap kami seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Ditengah jalan Sony memegang tanganku dan menyuruhku untuk memeluknya. Cukup lama juga kami berjalan mengelilingi kota, katanya biar rileks dulu sebelum bertempur. Sony menghentikan motornya di sebuah gudang kayu yang sepi.


"Kita turun disini?"


"Iya disini sepi."


"Apa nggak apa-apa nih? Ntar kalo ada orang gimana?"


"Lu tenang aja."


Tanpa basa basi lagi Sony langsung saja melumat bibirku dan mulai menggerayangi tubuhku. Kami melakukannya dengan posisi berdiri. Ini sebuah tantangan tapi aku cukup menikmatinya. Baru kali ini aku melakukan hal itu di luar ruang dan tersembunyi. Meski permainan Sony biasa saja namun cukup membuat gairah bercintaku kembali berkobar. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Sony mengajakku pulang.


"Fan, lu laper nggak?"


"Lumayan laper nih. Cari makan yuk."


"Ayo. Enaknya makan apa nih?"


"Gimana kalo nongkrong di Nasi Angkring aja? Males gue nongkrong di Cafe mulu."


"Oke lah apapun yang lu mau gue turutin. Ayo tuan putri!"


"Hahahaha. Baiklah pangeranku."


Kami pun pergi dan mencari Angkringan di dekat kota. Kami memesan minuman hangat dan mengambil beberapa nasi kucing dan gorengan. Aku cukup senang malam ini, meski sesederhana ini aku merasa cukup dimanjakan meski Sony bukanlah kekasihku. Aku hanya merasa hubungan ini seperti hubunganku dengan Kak Rio dulu. Hubungan sebatas, Teman Tapi Mesra.