My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Jujur



Setelah Rudy kembali ke Jakarta, dia meneleponku. Dia sangat menyayangkan sikapku yang harus berbohong tentang keperawananku. Rudy tidak merasa kecewa setelah tahu bahwa aku sudah tidak perawan lagi. Setelah mengobrol cukup lama, dia mencoba serius dan ingin memberitakukan sesuatu padaku.


"Fanda, aku mau jujur sama kamu. Aku nggak mau bohongin kamu atau mencoba untuk menutupi sesuatu darimu."


"Kamu mau ngomong apa sih yank?"


"Aku udah punya istri yank dan aku juga udah punya anak."


"Jadi artinya aku ini paaran sama suami orang gitu?"


"Bukan bukan. Maksud aku, aku udah pernah nikah dan punya anak. Sekarang aku udah cerai."


"Oh gitu."


"Apa kamu masih mau punya hubungan sama seorang duda kayak aku?"


"Sebenernya aku nggak masalah berhubungan dengan siapapun asalkan dia bukan suami atau pacar orang."


"Jadi kamu masih mau nerima aku dengan segala keadaanku? Juga mau nerima kehadiran anak aku?"


"Iya sayang. Aku terima kamu apa adanya. Toh aku sendiri juga punya kekurangan kan."


"Terima kasih sayang. Aku jadi tambah sayang sama kamu."


"Iya sama-sama yank. Jadi waktu kamu posting foto anak kecil di fb itu sebenernya mau ngasih tau aku ya?"


"Iya sayang. Tapi kamunya malah nggak ngeh padahal aku udah kasih caption foto itu my baby."


"Hehehehe. Aku terlalu kesemsem sama kamu sih."


"Masa sih? Cewekku ini jadi gombal ya."


"Kamu yang ngajarin sih."


"Love you yank. Aku mandi dulu ya. Aku tutup teleponnya."


Mengetahui bahwa Rudy adalah seorang duda tak lantas membuatku down apalagi meninggalkannya. Aku justru semakin menyayanginya. Aku rasa tiap hari rasa sayangku ini berubah menjadi cinta. Ya, aku sudah mulai mencintainya di dalam hatiku. Dengan segala hal yang ia ciptakan untuk menghiburku dan juga segala perhatiannya yang membuatku begitu dimanjakan. Kami berjanji akan selalu jujur apapun yang terjadi.


Aku dan Rudy beda usia 6 tahun. Mungkin juga itu yang membuatku seperti diemong. Aku jadi ingat, aku pernah berkata bahwa aku tak ingin memiliki pasangan yang berbeda usia cukup jauh. Tapi nyatanya saat ini aku justru menelan ludahku sendiri. Mungkin memang benar, kita tidak bisa menerka-nerka untuk menilai seseorang apalagi menyangkut usia. Kenyamanan hati tidak bisa diukur dengan apapun.


Tiap malam aku dan Rudy selalu berkomunikasi lewat telepon, bahkan kami juga sering menyambungkan telepon dengan dua teman akrab Rudy. Kami sudah mulai akrab satu sama lain. Kami sering bercerita tentang keseharian kami atau bahkan sering curhat satu sama lain. Bisa di bilang kami sudah seperti keluarga.


"Hei Fanda, kenapa kamu bisa suka sama si Rudy sih? Kamu dipelet sama dia ya? Hahaha." tanya salah satu teman Rudy yang bernama Frans.


"Apaan sih? Nggak lah murni saja. Aku suka Mas Rudy karna dia selalu memperhatikanku."


"Tapi kamu hati-hati aja sama dia. Aku bocorin satu rahasia si Rudy, dia itu ceweknya banyak loh. Hati-hati aja kamu jangan terlalu suka nanti sakit hati." kata Frans sambil tertawa disambut tawa yang lainnya.


"Iya nda kamu hati-hati aja. Rudy suka gigit loh. Hahahaha." sahut teman Rudy yang lainnya yang namanya Jefri.


"Hei ngapain kalian malah mau bikin cewek gue kabur! Bukannya kasih review yang baik-baik malah kasih review yang jelek-jelek. Dasar!" sahut Rudy sembari tertawa.


"Emang nyatanya gitu. Kita mah mau terus terang aja nggak ada yang disembunyiin biar nggak nyesel nantinya. Iya nggak guys? Hahaha." jawab Frans.


"Emang dia playboy bgt yah? Wah aku ketipu dong."


"Nggak gitu sayang. Mereka ini suka banget bercanda." jawab Rudy sedikit kikuk.


"Tapi ini beneran loh Fanda. Jangan terlalu percaya sama Rudy." sahut Frans sembari menahan tawanya.


"Iya Fanda si Rudy itu emang ceweknya banyak. Tapi setelah dia pacaran sama kamu kayaknya dia udah mulai berubah. Dia sayang banget sama kamu soalnya dia sering curhat sama aku." sela Jefri mencoba menjelaskan.


"Emang iya sayang?"


"Ya iya sih tapi kamu jangan marah ya. Aku udah nggak gitu kok yank." jawab Rudy mencoba untuk menjelaskannya padaku.


"Iya yank. Yang mana ya???? Hahahahaha." sahut Frans dan Jefri dengan tertawa geli.


Hampir tiap malam kami sering bertelepon hingga malam. Bagiku itu cukup menjadi pelipur laraku.