My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Run Away



Keadaanku setelah berpisah dengan Rudy memang cukup memprihatinkan. Tubuhku mulai kurus karna selama beberapa hari aku tak nafsu makan. Keadaanku begitu kacau, aku berada di antara cinta dan benci. Aku begitu membenci Rudy yang telah merendahkanku setelah semua yang kulakukan untuk Rudy. Namun sayangnya aku masih memiliki cinta untuknya. Aku tak ingin terus berada dalam keputusasaan ini. Meski luka dihatiku tak mudah untuk terobati namun aku harus bangkit. Hidupku masih panjang, aku harus buktikan pada Rudy bahwa dia telah salah menilaiku.


Tiap hari aku selalu bersama Emma. Kami memang hanya berdua karna yang lainnya sedang bekerja di luar kota. Emma mencoba mempromosikan pin bb ku pada kontak BBM-nya.


"Emma, kamu promot pin bb ku?"


"Iya beb. Biar ada cowok yang naksir kamu lagi. Sekarang waktunya kamu survive."


"Ah aku lagi males pacaran."


"Ya nggak pacaran juga paling nggak kan ada temen ngobrol gitu beb. Sedih aku tu liet kamu murung mulu, Fanda."


"Iya ya deh. Makasih ya Emma. Kamu selalu peduli sama aku."


"Harus dong. Kan kamu sahabat aku yang udah kayak sodaraku."


Sejak Emma mempromosikan pin bb ku, banyak sekali yang mencoba meng-invited. Salah satunya adalah Marchel. Sebenarnya aku sudah cukup mengenal Marchel dari cerita Emma. Marchel merupakan teman satu kampus Emma dan satu jurusan. Dan seperti cowok-cowok pada umumnya, mereka mulai mencoba mendekatiku. Dulu selama aku masih bersama Rudy, aku sudah menutup pintu untuk cowok lain.


Melihat Marchel, aku hanya menyukainya karna dia memiliki wajah yang rupawan. Dan seperti cowok pada umumnya, Marchel sering menggodaku dengan tujuan membuatku luluh karnanya. Aku sudah sangat hafal dengan segala trik cowok mendekati cewek. Setelah cukup dekat, Marchel memintaku untuk bertemu. Dia begitu penasaran denganku, katanya aku adalah seorang yang unik menurutnya.


*Fanda, kamu lagi dimana sekarang?


Aku lagi di rumah Emma.


Bisa ketemu nggak?


Bisa. Kapan?


Sekarang bisa nggak? Hehe


Oke bisa.


Sip. Aku jemput kamu di rumah Emma ya.


Oke*.


Tak lama, Marchel sampai di depan rumah Emma. Dia datang dengan sopan menjemputku. Dari kejauhan, aku melihat Emma begitu mendukungku bersama dengan Marchel. Di sudut pintu, Emma mengacungkan jempolnya dan berkata pelan, "Semoga sukses ya".


"Emm.. oh ya Fanda. Aku denger dari Emma kamu baru aja putus ya."


"Iya." jawabku dengan senyuman yang berat.


"Maaf ya Fanda kalo itu bikin kamu nggak enak."


"Iya nggak apa-apa kok."


"Oke boleh deh."


Di taman, Marchel begitu perhatian padaku bahkan dia selalu menghiburku dengan suatu lelucon. Entah mengapa dipikiranku masih saja teringat akan Rudy. Rasanya masih begitu sakit hati ini meski saat ini ada seseorang yang mencoba menghiburku. Melihat Marchel rasanya aku ingin menangis. Aku tak tahu bagaimana harus menghadapi ini semua. Melihatku mulai kacau, Marchel pun mencoba membujukku.


"Fanda, apa kamu baik-baik saja?"


"Nggak apa-apa kok, Chel."


"Tapi aku bisa lihat kamu mau nangis Fanda. Jika dengan menangis bisa bikin kamu tenang maka menangislah. Aku siap jadi sandaran kamu jika kamu butuh. Luapkan saja semua beban di hatimu."


Tangisku pun mulai pecah. Melihatku menangis tersedu-sedu, Marchel menenangkanku dengan menyandarkan kepalaku di pundaknya. Sekejap aku merasa lebih tenang.


"*Terima kasih Marchel."


"Apapun agar kamu lebih baik dan nyaman, pasti akan kuusahakan."


*\*\*\*


Hubunganku dengan Marchel mulai cukup dekat. Dengannya aku cukup merasa diperhatikan. Aku masih sadar bahwa perasaan itu hanya sebatas pelarian dari rasa sakit yang kurasakan. Namun melihat wajah Marchel yang begitu rupawan membuatku menyukainya. Aku memiliki ide buruk untuk menjadikan Marchel pancingan untuk melihat reaksi Rudy terhadap hubunganku dengannya. Dan sesuai perkiraanku, tak menunggu waktu lama Marchel mulai menyatakan cintanga padaku. Meski sebenarnya aku belum begitu yakin akan perasaannya, aku mencoba untuk menerimanya saja.


Sejak aku dan Marchel mulai bersama, semua terlihat begitu baik. Aku bisa mendapatkan perhatian dari seseorang lagi. Bahkan Marchel begitu menjagaku untuk menjadi seorang gadis yang baik. Meski terkadang aku begitu kesal dengan segala aturannya, namun aku mencoba menghargainya dan menurut saja. Aku pun mulai melakukan rencanaku. Aku mencoba memasang foto Marchel di profil BBM ku dengan caption yang begitu menyentuh. Banyak sekali reaksi dari teman-temanku bahkan Frans mulai merespons feed BBM ku.


*Fa**nda, apa bener kata Rudy kalo kamu itu selingkuh?


Terus kamu percaya?


Nggak tau juga sih*.


Balasan chat selanjutnya bahasanya agak kasar. Aku yakin yang membalas chat itu adalah Rudy.


*Wah hebat ya kamu Fanda. Jadi emang kamu bener-bener selingkuh! Nggak salah emang aku mutusin kamu!


Kita udah putus kan? Kan kamu yang mutusin sayang. Jadi sekarang aku udah bebas dong mau sama siapa aja. Ngapain kamu sewot pake ngatain aku selingkuh segala? Bukannya kamu yang selingkuhin aku? Malah balik nuduh! Dasar nggak tau malu!


Bulshit!! Aku selingkuh karna kamu yang mulai selingkuh duluan.


Bla bla bla bla udah cukup Rud! Udah cukup sampe sini kamu nyakitin aku ngerendahin aku Rud! Aku bukan orang jahat yang pantas kamu hakimi oke! Kalo kamu punya hati tolong jangan ganggu aku lagi seperti kamu yang nggak mau buat aku ganggu kamu. Aku udah cukup sakit.


Maling mana ada yang mau ngaku!


(emoticon smile*)


Rencanaku untuk memancing Rudy berhasil. Namun tidak kusangka reaksi Rudy sungguh mengejutkanku. Ternyata Rudy masih bersandiwara dengan menuduhku berselingkuh. Kini cinta itu sudah sepenuhnya berubah jadi benci. Tak ada lagi cinta yang tersisa untuk Rudy. Mungkin ini memang waktunya untuk aku melepas semua kenanganku dengan Rudy. Selanjutnya aku akan berusaha membuka hatiku untuk Marchel, seseorang yang saat ini telah menjadi kekasihku. Meski awalnya hanya sebuah pelarian semata, aku akan berusaha untuk mencintai Marchel.