
Sejak Rudy terus menerus menuduhku berselingkuh, aku hanya diam tak lagi menggubrisnya dan terus menyulut api kebencian pada Rudy. Aku hanya ingin segera lepas dari Rudy, melupakan kenangan di antara kita. Aku harus bisa melepas cintaku pada Rudy seperti Rudy yang dengan mudahnya melupakanku.
Hariku dimulai dengan rasa hambar. Aku masih terus berpikir, apakah aku mulai menyukai Marchel ataukah hanya menyukainya hanya karna paras rupawannya saja. Kebingungan masih jelas menutup segala jalanku. Aku ingin bangkit tapi nyatanya kabut hitam masih saja menutup jalanku.
*Sayang, apa kamu hari ini di rumah?
Iya yank aku di rumah aja kok.
Oke nanti habis kelar kuliah aku ke rumah kamu ya. Kangen aku tu.
Iya yank. Aku tunggu*.
Tahu, Marchel akan datang berkunjung ke rumah, aku justru tak melakukan persiapan apa-apa. Bahkan untuk berdandan rapi menyambut kekasihnya datang. Dalam diriku masih terselimuti bayangan Rudy. Kebencian, kemarahan dan juga cinta yang telah hancur. Emosiku masih begitu labil, namun aku berusaha sebisa mungkin untuk menutupi semuanya untuk menghargai perasaan Marchel. Tepat pukul 11 siang, Marchel bilang akan segera datang dan tak butuh waktu lama, ia pun datang dengan seragam kuliahnya. Pikirku, Marchel begitu gagah seperti prajurit TNI memakai seragam kuliah seperti itu. Nyatanya, Marchel memang anak dari seorang prajurit TNI. Pantas saja jika perawakannya begitu gagah.
"Lama ya nunggunya yank? Kamu kelihatan kucel gitu."
"Nggak kok. Cuma lagi badmood aja."
"Kan udah ada aku. Jangan badmood lagi ya."
"Iya sayang."
"Ngomong-ngomong ortu kemana kok sepi-sepi aja."
"Aku emang tinggal sendiri disini sejak ortu cerai."
"Kenapa bisa gitu? Kok kamu nggak ikut Ayah atau Ibu kamu sih."
"Mereka sibuk sendiri-sendiri. Ibuku sibuk dengan selingkuhannya dan Ayah sibuk kerja. Aku lebih suka hidup sendiri begini daripada harus tinggal bersama ortu. Aku tak ingin ada pertengkaran lagi."
"Sayang sekali."
"Udahlah jangan bahas itu. Ngomong-ngomong kamu mau minum apa?"
"Emmm.. air putih aja deh yank."
"Oke tunggu bentar ya."
Aku pun pergi ke dapur dan mengambilkan minum untuk Marchel.
"Ini yank."
"Makasih ya." Marchel pun meminum airnya lalu sambungnya. "Ngomong-ngomong aku tu ngantuk banget yank."
"Kok bisa emang abis begadang ya?"
"Iya. Semalem abis Mujahadah sama teman-temanku."
"Oh gitu. Ya udah istirahat aja dulu."
"Bolehkah?"
"Boleh yank."
Marchel pun mulai tertidur di sofa. Aku melihat rasa lelah di raut muka Marchel. Mungkin dia memang benar-benar lelah. Akupun jadi asik menonton tv sendiri karna Marchel sudah tertidur. Baru seperempat jam, Marchel bangun dan berpamitan untuk pulang karna masih ada urusan katanya.
Sejak awal mengenal Marchel, sejauh ini aku menilai Marchel adalah sosok yang cukup sopan. Aku tidak pernah melihat sikapnya yang kurang ajar. Bahkan sejak kami mulai berpacaran, sekali pun belum pernah Marchel menciumku. Dari cerita yang sering Emma katakan dari sebelum aku dekat dengan Marchel, sosok Marchel seperti primadona di kampus karna ketampanannya. Namun dibalik itu semua, dia adalah seorang yang sering berganti-ganti pacar. Aku selalu bertanya apakah yang membuatnya sering berganti pacar. Emma pun pernah berkata bahwa sifat Marchel yang suka berganti-ganti pacar itu karna egonya yang suka naik turun. Bahkan hanya karna masalah sepele saja bisa membuat Marchel tersinggung. Mengetahui hal itu, aku harus berpikir dua kali. Apakah aku bisa terus bersamanya atau tidak. Bercermin pada diriku sendiri saja yang merupakan seorang yang begitu keras bertemu dengan seorang yang mudah tersinggung seperti Marchel, mungkin aku harus mulai bersabar melunakkan egoku sendiri.
Sabtu malam, Marchel mengajakku untuk bertemu dengan teman-temannya di sebuah Cafe. Diperjalanan ketika Marchel menjemputku, dia selalu memegangi tanganku. Dengan suara lirih, Marchel berkata, "* Aku sayang kamu, Fanda*". Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Sesampainya di Cafe, Marchel langsung mengajakku ke sebuah meja yang disana sudah berasa seseorang yang kutahu itu adalah sahabatnya.
"Bro, kenalin nih. Ini cewek yang gue ceritain tadi."
"Oh hai, salam kenal ya. Namaku Bagus, sobatnya si Marchel."
"Salam kenal juga. Aku Fanda."
"Ngomong-ngomong kalian keliatan serasi nih."
"Harus lah. Sebagai calon istriku harus serasi dong. Hehehe." kata Marchel sambil menatapku. "Kamu mau kan jadi istriku yank?" sambungnya.
"Emmmm...itu masalah nanti, lagian kita kan baru mulai pacaran. Aku nggak mau jawab sekarang."
"Wah baru kali ini lu ditolak, Chel. Hahaha." kata Bagus meledek Marchel.
"Nggak apa-apa. Yang penting kamu mau kan yank dampingin aku dari nol?"
"Iya yank kita sama-sama berusaha ya."
"Siplah. Gue suka. Gue pengen liat kalian sampe nikah nanti." kata Bagus dengan sumringah.
"Mohon doa yang terbaik." jawabku.
"Eh, si Kevin kemana sih?" kata Marchel menanyakan salah satu sahabatnya pada Bagus.
"Tadi sih katanya lagi sama adeknya. Dia bilang mau kesini tapi sampe sekarang belum muncul juga." jawab Bagus sambil mengecek ponselnya dan kembali menghubungi Kevin.
"Sayang, kamu nggak mau pesen apa gitu?" kata Marchel mencoba menawariku sesuatu.
"Aku mau Cappucinno aja deh."
"Itu aja? Nggak pesen yang lain yank? Cemilan atau apa gitu. Atau mau pesen makan?"
"Itu aja yank. Aku masih kenyang."
"Oke deh. Bentar ya aku pesenin dulu." Marchel pun pergi menuju ke kasir untuk memesan minum untuk kami bertiga.
"Aku iri sama si Marchel. Gampang banget dia cari cewek sedangkan aku gebetan aja nggak punya." kata Bagus mencoba mengajakku untuk akrab.
"Masa sih? Berarti Jones dong. Hahaha."
"Jangan ngledek dong. Sebenarnya pengen sih punya cewek tapi aku minder soalnya aku nggak punya tampang yang ganteng kayak Marchel."
"Kenapa harus minder sebelum mencoba?"
"Ya minder aja. Eh jangan bilang-bilang Marchel kalo aku cerita begini ya. Dia taunya aku nggak suka pacaran."
"Jadi ini curcol?"
"Huss jangan keras-keras ntar si Marchel denger."
"Oke oke deh."
"Lagi ngobrol apaan sih seru banget kayaknya." kata Marchel mencoba mencari tau.
"Kepo deh. Gue lagi ngomongin Fanda kejelekan elu." jawab Bagus sambil tertawa.
"Bagus dong. Lebih baik kamu tau yang jelek-jelek aja biar kamu bisa lebih memahami aku." kata Marchel sambil mengusap rambutku.
"Eh si Kevin lagi kesini nih, barusan BBM gue." sambung Bagus.
"Ya udah tungguin aja biar tambah rame." jawab Marchel sembari duduk di sampingku.
Sekitar seperempat jam, Kevin pun datang menemui kami.
"Lama banget sih bro. Katanya otw tapi udah seperempat jam." kata Bagus sambil melempar potongan kertas yang dikepal.
"Sorry sorry tadi gue kucing-kucingan sama si Shinta."
"Kenapa ogah banget ketemu sama si Shinta si elu, Vin?" tanya Marchel penasaran.
"Ogah aja gue."
"Wah pasti ada apa-apa nih." sambung Bagus.
"Nggak lah. Lagi males aja ketemu sama Shinta gue."
"Takut disuruh nyawer dia. Secara mainnya ama biduan mulu. Hahaha." kata Marchel meledek Kevin.
"Ah elu Chel mentang-mentang lagi sama cewek jadi ngledekin gue mulu." jawab Kevin dengan setengah tertawa, lalu sambungnya, "Ngomong-ngomong kita belum kenalan ya. Kenalin namaku Kevin. Salah satu sobat Marchel."
"Salam kenal ya, aku Fanda." jawabku sambil menjabat tangan Kevin.
"Kamu tau nggak yank, mereka ini sahabat aku dari SMP. Sebenernya sih kita berenam, tapi ada satu sahabat kita yang udah pergi duluan." sambung Marchel.
"Loh kenapa emangnya?"
"Iya dia sempet sakit parah."
"Oh gitu."
"Bahkan persahabatan kita ini udah kayak sodara loh. Jadi kalo kami mau tau gimana Marchel, kamu bisa tanya ke aku atau Bagus. Kita semua udah saling paham gimana sifat kita masing-masing." sambung Kevin.
"Wah hebat ya. Tapi akan lebih baik kalo aku bisa mengenal Marchel dari dia sendiri bukan dari orang lain."
"Good. Aku suka cara pandang kamu Fanda." jawab Kevin sambil mengacungkan jempol padaku.
Sejak Kevin datang, Bagus dan Marchel pun ngobrol serius bahkan mereka juga mengetahui tentang hubunganku sebelumnya dengan Rudy. Aku baru sadar, wajar saja kalau mereka tahu tentang Rudy karena Rudy memang sering pergi ke karaoke dimana tempat kakak Marchel bekerja.
"Tadinya aku sempet minder loh mau deketin kamu sayang. Habisnya mantan kamu bawaannya mobil sih. Aku sadar aku nggak punya apa-apa, motor aja udah butut gitu. Tapi setelah PDKT ternyata kamu nggak sama kayak cewek lain."
Aku hanya menanggapi penyataan Marchel dengan senyuman. Sebenarnya aku tak ingin lagi membahas tentang Rudy. Terlalu menyakitkan mengingat segala sesuatu tentang Rudy.
"Maaf sayang sepertinya kamu tak ingin membahas tentang dia. Maaf sayang."
"Sudahlah tak apa. Yang sudah berlalu biarlah berlalu."
"Tapi kamu mau kan nunggu aku selesai kuliah dulu? Setelah itu aku bakal kerja. Ya, setahun dua tahun kita bisa nikah. Kamu mau kan yank nikah sama aku?"
"Jika memang jodoh, kita pasti ketemu di pelaminan. Kita bisa berencana, tapi jika nggak jodoh apa yang bisa kita lakuin? Maaf Chel jika aku tak bisa sepenuhnya cinta. Aku hanya nggak mau ketika aku sudah bener-bener cinta dan ternyata bukan jodoh. Aku nggak mau sakit hati lagi untuk kedua kalinya. Kita bisa jalani ini bersama dan berencana, selanjutnya biar Tuhan yang menentukan."
"Iya sayang tak apa yang penting sekarang kita bisa bersama aja udah bikin aku seneng."