
Akhirnya aku kembali ke kota kelahiranku. Kota kecil yang terkenal dengan dinginnya. Aku tinggal di antara gunung Sindoro dan gunung Sumbing. Aku rindu akan sejuknya udara disini. Hamparan sawah yang luas dan pemandangan pegunungan seperti lukisan anak-anak kecil yang selalu menggambar dua gunung dengan jalanan di tengahnya yang diapit sawah yang luas. Begitupun aku yang merindukan kekasihku yang masih ada di Jakarta. Meski kami harus menjalin hubungan jarak jauh tak membuat kamu kehilangan kontak. Kami masih sering berkomunikasi bahkan masih sering melakukan telepon paralel dengan sahabat-sahabat Rudy.
Sudah hampir sebulan aku kembali ke rumah. Kali ini aku harus tinggal sendiri di rumah karena Ayahku sedang dinas di luar kota. Aku benar-benar merindukan kehangatan di dalam rumah. Hal itu tak lantas membuatku kembali terpuruk karena Rudy selalu menghiburku tiap waktu. Dia selalu meluangkan sedikit waktunya untuk meneleponku meski dia baru saja selesai bekerja. Ya Tuhan, kenapa baru sekarang seseorang itu hadir sebagai pengobat laraku. Andai dia hadir di hidupku lebih awal mungkin aku tidak perlu mengorbankan harga diriku demi kesenangan sesaat.
Rudy berkata padaku bahwa dalam waktu dekat ini ia akan kembali pulang dan tak akan kembali ke Jakarta lagi. Dia bilang dia ingin terus bersamaku. Ya, Rudy memang berasal dari kota yang sama denganku. Terlebih lagi, orangtua dari Rudy memang menginginkan Rudy untuk kembali dan bekerja disini saja.
***Sayang, tunggu aku ya. Dalam waktu dekat ini setelah urusanku di jkt selesai, aku mau pulang. Aku mau sama kamu terus.
Beneran yank kamu mau pulang?
Iya sayang ngapain juga aku boong? Tunggu ya, aku udah kangen banget sama kamu yank.
Ah ya ampun aku bener-bener seneng banget kalo bisa sama kamu terus yank. Aku pasti tungguin kamu pulang.
Nanti aku ajak kamu jalan-jalan kemana aja kamu mau.
Oke yank. Aku tunggu sampe kamu pulang***.
Dan waktu yang ditentukanpun tiba. Rudy sampai di rumah sekitar jam 6 pagi. Baru juga sampai dia sudah meneleponku.
"Halo sayang, aku udah nyampe rumah nih."
"Halo yank. Kamu baru aja nyampe rumah? Kenapa langsung telepon aku bukannya istirahat dulu."
"Kangen aja aku yank nggak sabar pengen ketemu kamu."
"Duh kamu ini bikin aku kesemsem terus."
"Yang penting kan selalu cinta. Hehehe. Ya udah sambung ntar lagi ya. Aku dipanggil bapak, mau ngomong katanya. Bye sayang."
Bahagia rasanya akhirnya aku bisa ketemu lagi sama Rudy. Rindu karna terhalang jarak ini akhirnya akan terobati. Aku memberikan waktu pada Rudy untuk istirahat dan juga bercengkrama dengan keluarganya. Aku tak bisa egois meminta Rudy untuk terua menemaniku. Toh dia masih punya keluarga dan aku hanya sebatas kekasih, belum ada ikatan resmi di antara kami. Setelah beberapa lama, Rudy mengirimiku pesan SMS.
***Sayang, aku capek banget semaleman pake motor. Mataku udah nggak bisa berkompromi lagi. Aku tidur dulu ya yank. Nanti malem aku jemput kamu. Aku pengen ngajak kamu jalan-jalan bentar.
Oke sayang. Met istirahat ya***.
Waktu telah berganti malam. Aku pun bersiap-siap semaksimal mungkin. Aku ingin memberi kesan yang spesial di pertemuan kedua kami. Sejujurnya aku sudah tidak sabar ingin bertemu Rudy. Hatiku berdegup begitu kencang saat Rudy memberitahuku bahwa dia sudah berada di depan rumah. Aku pun bergegas keluar rumah untuk menemuinya. Betapa bahagianya aku ketika melihat Rudy berdiri di depan gerbang sambil tersenyum. Ya Tuhan rasanya aku ingin pingsan saking senangnya.
"Hai sayang. Apa Kabar?" aku mencoba menyapanya karna tak tau harus berkata apa.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Kok kamu jadi grogi gitu sih? Lucu banget kamu ini."
"Wajar lah kita ketemu aja baru dua kali ini. Jadi grogi harus gimana. Malu aku."
"Kenapa mesti malu sih? Aku ini kan pacar kamu. Harusnya aku yang grogi ngajak jalan cewek secantik kamu."
"Gombal ah kamu."
"Nggak yank beneran. Kamu dandan cantik banget sih."
"Aku mau kasih penampilan yang spesial dong buat kamu."
"Kamu ini ya." sahut Rudy sambil mencubit pipiku. "Ayo kita berangkat! Keburu malem ntar nggak dapet tempat makan yang romantis."
"Oke. Ayo yank."
Kami pun akhirnya bisa kencan untuk pertama kalinya. Kami bisa ngobrol banyak hal tentang diri kami masing-masing. Aku juga bisa lebih leluasa bersikap manja pada Rudy. Rudy begitu memanjakanku dengan sikapnya yang hangat dan selalu mengerti aku. Kami sudah sama-sama merasa nyaman. Aku sungguh mencintai Rudy.