
Tak biasanya aku merasakan rasa lelah yang teramat sangat namun nafsu makanku jadi semakin besar. Sebenarnya Andika sudah menyadari dari bahasa tubuhku namun aku masih tetap menolak meyakini bahwa aku hamil. Test pack yang waktu itu kami beli pun belum sempat aku pakai. Ini sudah lebih dari seminggu berlalu sejak tanggal haidku datang. Tanpa pikir panjang aku pun mengambil test pack itu untuk lebih meyakinkanku bahwa aku hamil.
Aku sudah bangun sejak subuh dan aku langsung beranjak ke toilet dan segera melihat hasil test pack-ku. Dag dig dug hatiku berdegup begitu kencang menunggu hasilnya. Aku sengaja menutup mataku sambil menunggu. Lima menit berlalu dan aku mulai membuka mata. Betapa terkejutnya aku melihat hasil test-ku. Dua garis merah terpampang pada alat test pack-ku. Entah mengapa aku justru merasa begitu bahagia, amat sangat bahagia seperti seseorang yang menantikan sebuah kehamilan. Aku sadar bahwa aku memang belum menikah, namun aku memang sangat menginginkan kehamilan ini. Pikirku jika aku punya anak, aku tidak akan lagi merasa kesepian.
Setelah itu aku langsung mengirimkan hasil test-ku pada Andika.
"Tuh kan feelingku nggak pernah salah. Kamu memang hamil." jawab Andika setelah mengetahui hasilnya.
"Nasi sudah menjadi bubur. Mungkin memang jalannya harus seperti ini. Kalaupun aku nggak hamil toh kita memang bakal nikah kan." kaaku menenangkan Andika.
"Ya iya sih tapi kan semua jadi nggak sesuai rencana kita dari awal."
"Sudahlah nggak perlu disesali."
Pagi itu aku berangkat kerja dengan cukup gelisah. Aku khawatir orang-orang di sekitarku mengetahui bahwa aku hamil. Namun aku begitu penasaran melihat reaksi Andika dengan keadaanku sekarang. Hari itu berjalan seperti biasanya. Mungkin aku cuma terlalu khawatir dengan pandangan orang mengenai keadaanku saat itu. Aku mencari keberadaan Andika, namun dia belum datang. Aku pun duduk di ujung sambil memainkan ponselku. Tak berapa lama Andika datang dan langsung menemuiku.
"*Jadi beneran?" kata Andika sambil menahan senyumnya.
"Bo'ongan." jawabku sambil mengunyah camilan.
"Kamu ini seneng banget sih bikin gregetan!" kata Andika yang kesal sambil mencubit pipiku.
"Ih sakit tau!"
"Biarin."
"Oke sip. Makan dulu yang banyak biar kuat."
"Suapin."
"Manja*!"
Sejak itu, Andika jadi lebih perhatian padaku. Saat jam kerja pun Andika selalu memantauku dan terus menanyakan apa aku lelah atau tidak. Dari hal ini saja aku bisa melihat Andika begitu menyayangiku.
"Kamu capek nggak yank beb?" tanya Andika sambil merangkulku.
"Capek sih tapi aku masih kuat kok, tenang aja."
"Kalo beneran capek jangan dipaksain."
"Nggak pa-pa aku masih kuat sayang."
"Ya udah deh kalo masih kuat, kalo udah bener-bener capek bilang aku ya."
"Iya iya yank."
Sampai jam istirahat tiba, Andika masih terus saja memperhatikanku. Andika melarangku untuk makan nasi goreng. Dia ingin aku makan makanan yang benar-benar sehat. Andika begitu memperhatikanku dalam segala hal. Bahkan hal sekecil apapun tak luput dari perhatianya. Apa begini ya rasanya ketika istri hamil muda dan suaminya begitu perhatian. Tapi nyatanya aku dan Andika belum menikah sama sekali. Aku harus menebus dosa yang sudah kuperbuat. Selanjutnya aku berharap akan jadi lebih baik lagi.