My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Friends Zone



"Fanda, hari ini ngumpul lagi yuk ngopi-ngopi ditempat elu." ajak Fania.


"Giliran bokek aja nyamperin gue. Pas abis gajian foya-foya. Dasar, maunya nyari gratisan." kataku sambil menyentil jidat Fania.


"Yaelah lu gitu amat sih ama gue, Nda. Yang lain juga ngajakin tuh. Iya nggak cuy?" kata Fania sambil menarik Ferdi.


"Lu kalo mau cari alesan nggak usah bawa-bawa gue napa?" jawab Ferdi sambil menahan tawa.


"Lu kok gitu si cuy. Kenapa kalian jahat banget sih ama gue. Yang lainnya juga lagi pada kenapa sih sensi banget ama gue hari ini."


"Bodoamat dah!" kata Ferdi sambil berlalu meninggalkan kami.


"Fanda....." kata Fania dengan wajah memelas.


"Sorry beb hari ini gue ada acara penting jadi nggak bisa ngumpul-ngumpul di rumah."


"Yah nggak seru nih. Bete gue!" Fania pun berlalu dengan perasaan kesal.


Sebenarnya hari itu adalah hari ulang tahun Fania. Aku dan teman-teman yang lain akan memberikan surprice party untuk Fania di rumahku. Setelah pulang kerja aku langsung menuju ke toko roti untuk mengambil roti ultah pesananku dan juga membeli beberapa keperluan untuk party. Ferdi dan yang lainnya juga mulai mempersiapkan segalanya di rumahku. Rencana awal untuk membuat Fania kesal sudah sukses. Kali ini aku berharap rencana surprice party untuk Fania akan berhasil. Setelah semua sudah beres, aku pun menghubungi Fania untuk datang ke rumahku.


*Hai Fan, bisa minta tolong nggak?


Apaan?


Tolong ambilin power bank gue dong di rumah. Sekalian anterin ya. Gue share loc.


Yaelah kurang kerjaan bgt sih, Nda. Emang di tempat lu nggak ada colokan apa?!


Kalo ada juga gue nggak akan minta tolong.


Sialan lu. Lagi bete juga.


Oke tunggu.


Makasih sayang*.


Hampir seperempat jam kami menunggu kedatangan Fania. Kami sudah bersiap dengan segala kejutan untuk menyambut kedatangan Fania. Aku melihat Fania datang dengan wajah yang kesal dan tak bersemangat. Saat dia akan masuk ke dalam, saat itulah aku, Ferdi dan yang lainnya mulai mengejutkan Fania. Fania begitu terkejut dan begitu terharu dengan surprice party yang kami buat. Sambil menangis, Fania memelukku dan akupun membalas pelukannya.


"Kalian jahat banget sih. Niat banget ngerjain gue. Makasih temen-temen, kalian masih inget hari spesial gue."


"Emang ini hari spesial elu?" sahut Ferdi menggoda Fania.


"Elu yang paling nyebelin hari ini tau! Niat banget bikin gue bete dari pagi." kata Fania sambil melempar jaket pada Ferdi.


"Hahahaha karna lucu aja. Gue seneng bikin lu bete." jawab Ferdi sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Huh dasar! Liet aja ntar kalo lu ultah!"


"Emang lu tau ultah gue?"


"Kagak."


"Ngomong-ngomong pibesdei ya beb. Doa terbaik lah. Cepet dikasih jodoh biar nggak nyari kopi gratisan mulu di rumah gue. Rugi bandar gue tiap hari lu nebeng ngopi." kataku sambil mencubit pipi Fania dengan keras.


"Pelit lu, Nda."


"HBD Fan. Doa gue sama kayak Fania, moga cepet dapet jodoh biar nggak tambah gila hahahaah." kata Mas Ramlan sambil menjabat tangan Fania.


"Sialan lu, Mas Ramlan." jawab Fania sambil menepuk tangan Mas Ramlan.


Setelah semua memberi ucapan selamat pada Fania, kami pun melanjutkan acara surprice party itu dengan makan-makan dan juga bersenang-senang dengan karaoke bersama. Aku bahagia membuat orang-orang di sekitarku bahagia. Hal itu menambah warna dalam hidupku yang hampa ini.