My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Keep Calm



Waktu berlalu begitu cepat. Andika terus menanyakan tentang keadaanku. Sebenarnya Andika sudah menyadari ada yang berbeda dengan diriku. Namun yang kurasakab semuanya sama saja. Aku sendiri tak merasa ada keanehan pada diriku.


"Kamu ngerasa ada yang aneh nggak sih sama diri kamu?" tanya Andika.


"Kenapa sih emangnya? Aku ngerasa biasa aja kok." kataku sambil terus makan sarapanku.


"Kamu tuh sekarang jadi banyak makan. Jangan-jangan kamu hamil yank beb."


Sejenak aku terdiam mendengar perkataan Andika. Aku merasa bingung sendiri menanggapinya.


"Masa sih aku hamil? Kalaupun hamil toh kita bakal tetep nikah kan?" kataku sambil meminum air mineral.


"Iya sih tapi kan semua jadi nggak sesuai sama rencana awal kita sayang."


"Terus gimana?"


"Coba test pack dulu aja."


"Iya oke."


Pagi itu aku masih merasa biasa saja. Hingga menjelang jam istirahat, aku mulai merasa pusing dan lelah. Aku merasa tubuhku seperti demam. Menyadari keadaanku yang sudah mulai pucat, Andika mendekatiku.


"Kamu kenapa yank beb? Pucet bgt kamu yank." tanya Andika memastikan.


"Kayaknya aku masuk angin deh. Biasanya kalo mau masuk angin pasti begini gejalanya."


"Ya udah nanti aku beliin obat ya."


"Oke sayang. Bawain teh anget juga dong."


"Iya oke. Kami bawa bekal kan?"


"Iya bawa kok."


"Ya udah habis ini kamu makan dulu terus tiduran ya. Tungguin aku bawain obat sama teh anget."


"Makasih sayang."


"Iya sama-sama."


"Ayo yank beb bangun, diminum dulu obatnya biar rada enakan." kata Andika sambil menarik tanganku.


"Iya iya. Mana sini."


"Ini nih. Aku bawain cemilan juga buat kamu."


"Makasih sayang."


"Iya yank, apa sih yang nggak buat kamu."


"Ya udah lekas diminum dulu obatnya. Aku makan siang dulu."


Jam istirahat telah usai. Andika masih terus mengamatiku. Aku sendiri masih merasa lemas dan masih merasa sedikit pusing. Namun aku berusaha untuk tetap bertahan hingga jam kerja usai. Aku bisa melihat, Andika begitu cemaa melihatku.


"Aku baik-baik saja kok. Setelah minum obat aku jadi merasa sedikit lebih baik. Aku bisa bertahan kok lagian bentar lagi juga udah kelar kerja." kataku menjelaskan pada Andika.


"Syukurlah kalo kamu merasa begitu tapi jangan terlalu dipaksakan ya. Kalo kamu udah merasa nggak sanggup, kamu istirahat dulu aja ya."


"Iya sayang. Selama masih ada kamu disisiku, aku bakal baik-baik aja."


"Kamu ini bisa aja bikin aku gemes." Kata Andika sambil mencubit hidungku dengan gemas.


"Nanti pulang kerja kita beli test pack ya." sambung Andika.


"Iya oke."


Kami mulai melanjutkan pekerjaan kami. Meski awalnya aku merasa begitu berat, namun aku berusaha untuk tetap tenang dan menjalankan pekerjaanku hingga jam kerja usai. Aku duduk di sudut ruangan dan sejenak menyandarkan kepalaku. Andika datang menghampiriku dan mengusap rambutku.


"Kamu nggak apa-apa yank beb?" Tanya Andika.


"Aku baik-baik aja kok. Cuma ngerasa capek banget."


"Ya udah kamu siap-siap gih. Langsung aku anter pulang."


"Iya iya."


Di tengah perjalanan, Andika menghentikan motornya di sebuah apotek untuk membeli test pack. Setelah kami mendapatkannya, kami pun langsung pergi.