My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Jalang (3)



Aku terus berpikir bahwa Ryan hanya memanfaatkanku bukan hanya hal nafsu tapi juga dari segi materiil. Kali ini Ryan sering sekali meminjam uang padaku dengan berbagai alasan. Suatu hari aku sulit sekali menghubungi Ryan, nomornya selalu tidak aktif. Sial! Pikirku orang ini setelah banyak keuntungan bakal kabur gitu aja. Berhari-hari tanpa kabar, tiba-tiba Ryan datang ke rumahku dengan wajah memelas. Dia bercerita padaku bahwa ia sedang ada masalah dengan keluarganya. Saat ini dia pergi dari rumah dan menumpang di rumah Dikky. Ponselnya pun ia gadaikan untuk biaya sehari-hari. Pikirku saat itu kasihan juga melihatnya seperti itu tapi juga kesal.


Lama mengobrol, Ryan mengajakku untuk jalan-jalan. Sebenarnya bukan maksud jalan-jalan sih, lebih tepatnya Ryan mengajakku pergi ke rumah Dikky. Sesampainya di rumah Dikky, Ryan langsung saja membawaku ke sebuah kamar dan melakukan hubungan badan. Saat itu aku kurang menikmati pertempuran kami, mungkin karna gelisah takut salah satu keluarga Dikky datang. Setelah selesai, kami bertiga pergi keluar rumah. Entah apa yang sedang Ryan dan Dikky obrolkan, aku tidak begitu mendengarkan. Tapi aku rasa mereka sedang ngobrol serius. Ryan mendekatiku dan ikut duduk di sampingku.


"Sayang, bisakah aku meminjam salah satu ponselmu? Kamu tau kan saat ini aku lagi benar-benar susah. Kamu mau kan nolongin aku lagi?"


"Boleh aja sih. Tapi sebenarnya kamu ini lagi kenapa sih? Kok kayaknya masalahnya serius banget."


"Yah, aku lagi berantem aja sama ortu. Aku lebih baik pergi."


Itu mungkin pertemuan kami yang terakhir karna setelah malam itu kami jadi jarang komunikasi. Entah apa sebenarnya masalah yang sedang dihadapi Ryan. Karna kesal aku mulai mendesak Ryan untuk berkata jujur, namun tetap tak ada jawaban. Aku masih mencoba untuk terus mengerti dan bersabar hingga tanpa sengaja seseorang mencoba menberitahuku bahwa Ryan sebenarnya sedang bersama perempuan lain. Tak habis pikir, disaat aku dibuat gelisah justru Ryan sedang bersenang-senang dengan perempuan lain. Sialan! Aku tak terima diperlakukan seperti itu apalagi aku sudah rugi banyak dalam hal materiil. Saat itu aku mencoba meneleponnya.


"Hei Ryan coba jelaskan kenapa kamu lakuin itu ke aku?!"


"Aku bosan! Kita putus aja lah ya."


"Oh oke! Kalo gitu balikin semuanya, handphone, uang, balikin!"


"Alah udah laku! Uangnya juga udah nggak ada."


"Sialan kamu ya! Dasar brengsek! Cowok nggak modal!"


"Toh aku udah dapet enaknya."


"Cih! Brengsek!"


"Fanda, bolehkah aku ke rumahmu sekarang?"


"Ada apa, Rid?"


"Ingin bilang sesuatu secara langsung."


"Oke kesini aja."


Tak lama, Farid pun sampai di rumahku. Aku menyuruhnya masuk ke dalam karna di luar cuacanya begitu dingin. Farid mulai mengobrol dan terus merayuku.


"Fanda, kamu tau kan aku sayang kamu. Aku udah lama jadi penggemar kamu. Apa boleh jika aku jadi pacar kamu?"


"Gimana ya?"


"Aku benar-benar suka sama kamu, Fanda."


"Ya udah kita coba jalanin dulu."


"Itu berarti kamu terima aku jadi pacar kamu?"


"Iya."