
Hubunganku dan Fery terlihat cukup baik. Mungkin karna kami memang ingin saling mengenal satu sama lain, kami jadi jarang sekali bertengkar. Tiap kali jam istirahat, kami selalu pergi ke kantin untuk makan atau sekedar ngopi bersama Mas Ramlan dan yang lainnya. Bahkan aku jadi lebih sering ngumpul dengan rombongan Mas Ramlan daripada dengan rombongan Fania. Aku masih belum terpikir apa yang membuatku merasa nyaman dengan Fery.
Suatu hari di Minggu pagi, Fery mengajakku untuk berjalan-jalan ke dieng. Waktu itu jalan menuju ke arah Dieng belum terlalu ramai seperti sekarang. Fery mengajakku ke beberapa tempat wisata yang belum pernah aku kunjungi. Aku masih merasa cukup nyaman bersama Fery saat itu. Liburan singkatku berakhir cukup menyenangkan. Aku bisa merefresh diriku sendiri setelah lelah dengan pekerjaanku. Waktu sudah cukup sore dan saat itu hujan turun cukup deras. Fery mengajakku untuk makan sebelum mengantarku pulang.
"Dingin gini enaknya cari yang anget-anget nih. Kamu mau makan apa? Aku traktir."
"Emmm...terserah kamu aja yang mau traktir aku."
"Gimana kalo makan bakso aja?"
"Oke boleh."
Kami pun berhenti di sebuah warung bakso di pinggir jalan. Sambil menunggu pesanan kami datang, kami mengobrol tentang banyak hal. Fery selalu menanyakan keseriusanku tentang hubungan ini. Aku hanya menjawabnya bahwa saat ini aku cukup nyaman bersamanya. Aku masih belum memberinya kepastian. Karna aku tak ingin salah pilih lagi.
***
Aku masih terlena dengan segala perhatian Fery padaku. Aku masih belum menyadari situasi itu untuk hubunganku dengan Fery. Aku sering bercanda tentang banyak hal dengan Fery. Bahkan kami pernah bercanda tentang hal yang cukup sensual. Hal itu membuat kami lebih sering membahas hal yang cukup sensual. Hingga suatu hari karna candaan kami yang sudah kelewatan membuat kami jadi terbius birahi.
"Apa kamu mau lanjutin ini?" kata Fery berbisik pelan.
"Ayo."
Aku mengajak Fery ke kamarku dan kami pun memulai aktifitas sensual kami. Karna sudah sama-sama terbius birahi kami langsung melakukan hubungan badan. Sudah cukup lama aku tidak merasakan kenikmatan duniawi sejak aku berpisah dari Rudy. Belum lama kami melakukan hubungan badan, Fery sudah mencapai puncak kenikmatannya.
"Nggak apa-apa. Hari ini bukan masa suburku."
"Kalo ada apa-apa kamu kasih tau aku ya."
"Iya."
Sesaat aku mulai kepikiran akan pendirianku yang tak ingin lagi mudah tersulut birahi. Lalu aku mulai berpikir tentang hubunganku dengan Fery. Semalaman aku terus berpikir bahwa kenyaman yang aku rasakan itu hanya karna kondisiku yang sangat menginginkan kasih sayang dan perhatian dari orang-orang di sekitarku saja. Aku sudah salah mengerti keadaan. Aku sudah terlanjur menciptakan harapan pada Fery. Aku baru sadar bahwa selama ini saat bersama Fery, aku tidak pernah merasakan getaran dalam hatiku. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Esok harinya aku memulai aktifitasku seperti biasa. Sikap Fery jadi semakin perhatian padaku dan aku hanya menanggapinya dengan biasa.
"Eh Nda, lu kenal kan sama Andika?" kata Fania sambil merangkulku.
"Iya kenal. Kenapa emang?"
"Dia bakal pindah ke bagian produksi loh bareng sama kita."
"Beneran?"
"Ya beneran lah. Lu inget kan dia yang suka banget godain elu loh."
Aku hanya menanggapi perkataan Fania dengan senyuman. Namun entah mengapa aku merasa begitu senang karna Andika akan pindah ke produksi dan lebih dekat denganku. Dari cerita yang pernah kudengar, Andika suka sekali bercanda dan dia suka sekali menggodaku walau tidak secara langsung. Dia suka sekali menitipkan salam untukku melalui Fania.
Suatu hari ketika aku tengah bekerja, Andika dan beberapa temannya datang ke produksi untuk mengambil beberapa kayu. Aku begitu antusias melihat Andika datang. Namun hal yang tak disangka-sangka, Andika malah menggoda temanku, Tika. Seketika aku merasa badmood. Aku kesal dengan sikap Andika yang menggoda Tika daripada aku. Entah mengapa aku merasa memiliki suatu kesan terhadap Andika meski aku belum mengenal lebih tentang sosok Andika ini. Aku tak tahu mengapa aku bisa merasa seperti itu padahal saat itu aku masih memiliki hubungan dengan Fery.
Hari itu akhirnya tiba, hari dimana Andika resmi pindah ke bagian produksi. Entah mengapa aku benar-benar antusias menyambut kedatangan Andika ke produksi. Aku selalu bercanda dengan Andika, bahkan aku sama sekali tak memikirkan perasaan Fery lagi. Aneh memang tapi itulah yang kurasakan saat itu. Hubunganku dengan Fery memang masih baik-baik saja. Namun aku jadi lebih jarang bersama dengan Fery sejak Andika mulai kerja di bagian produksi. Entah apa yang sebenarnya aku rasakan, saat itu aku justru lebih senang dan nyaman bersama Andika. Seorang yang belum lama aku kenal.