My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Kabut Kelabu



Hari-hariku bersama Rudy memang kembali indah seperti sedia kala. Rudy tak lagi segan memperlihatkan kasih sayangnya padaku dihadapan banyak orang. Ya, meski aku tak tahu apa yang Rudy lakukan di belakangku. Aku hanya berharap, Rudy tidak akan lagi mengulangi kesalahannya setelah kita sempat putus waktu itu. Namun entah mengapa selama beberapa bulan kami kembali bersama, aku merasa jarak masih ada di antara aku dan Rudy. Aku selalu merasa tak bisa menggenggam Rudy.


Beberapa hari sejak terakhir kali kami berlibur, Rudy memberiku sebuah CD yang berisi foto-foto hasil pemotretan waktu itu. Rudy bilang foto-foto kami begitu bagus. Dia begitu memuji foto-fotoku, Rudy bilang di foto itu aku terlihat begitu mempesona. Tapi entah mengapa aku merasa pujian Rudy seperti memiliki pesan yang tersirat. Aku hanya ingin menyingkirkan pikiran burukku. Kami baru saja memulai hubungan kami lagi, mana mungkin hal itu akan berakhir lagi atau benar-benar berakhir.


Seperti biasanya, Rudy masih disibukkan dengan pekerjaannya. Sedangkan aku masih menjadi pengangguran. Ya, aku memang tak lagi meneruskan kontrak kerja sebagai SPG waktu itu. Setelah usai masa trainning, aku memang memutuskan untuk resign dikarenakan saat itu aku sedang putus cinta karna Rudy. Hari-hariku mulai menemani Rudy di tokonya. Namun kali ini Rudy jarang membuka tokonya lagi. Dia lebih sering memperjualbelikan dagangannya lewat online. Terkadang aku ingin ikut Rudy mengantarkan barang, namun Rudy selalu menolaknya dengan alasan bahwa akan memakan waktu lama saat bernegosiasi dengan kostumer. Dia tak ingin melihatku bosan menunggunya. Aku hanya bisa memakluminya, aku beranggapan bahwa Rudy sedang memperhatikanku.


Kabut kelabu mulai menutupi pemandanganku. Aku semakin sulit untuk menghubungi Rudy. Aku mulai merasa khawatir, aku begitu gelisah tak karuan. Aku tak lagi cerewet menanyakan kabarnya. Aku hanya takut ketika aku mulai banyak bicara, Rudy akan membuatku semakin menjauh dari jangkaunya. Aku masih bersabar dan terus berpikiran positif. Mungkin memang Rudy benar-benar sibuk. Aku tahu, kerja keras Rudy kali ini adalah sebagai penebus dosanya atas hobinya kala itu yang suka main judi online. Sejak kecanduan judi online itu, Rudy memang memiliki banyak hutang. Hal itulah yang membuatnya bekerja begitu keras.


"Sayang... Aku tu kangen tau nggak sih?? Keluar bentaran yuk yank." kataku sambil merengek pada Rudy.


"Nanti ya sayang. Aku bener-bener lagi sibuk yank. Nanti aku kabarin lagi kalo ada waktu luang ya."


"Oke deh."


"Jangan cemberut lagi ya sayang. Kamu harus mulai terbiasa."


"Maksudnya apa yank?"


"Ya kamu harus mengerti keadaanku saat ini ya sayang."


"Iya itu pasti. Aku hanya mau bilang, aku cinta banget sama kamu My Rud."


"Aku juga sayang kamu yank. Udah dulu ya, aku lanjut kerja. Tanggung lagi nyervice ini."


"Oke deh. Semangat ya.."


Rasa gelisah di dalam hatiku semakin menjadi-jadi. Entah apa yang sebenarnya akan terjadi. Apakah mimpi indahku akan benar-benar berakhir kali ini? Pikiranku terus dipenuhi oleh Rudy. Bayangan dirinya selalu hadir dipikiranku hingga terbawa mimpi. Perasaan ini semakin membuatku takut untuk kehilangan Rudy lagi. Aku selalu menunggu kabar dari Rudy hingga larut malam. Meski dia jarang sekali membalas pesanku. Aku terus saja menunggunya.


Hai Rudy sayang.. Jika kamu membaca chat ini, aku sangat berharap kamu bisa meluangkan waktumu untukku walau hanya sebentar saja untuk mengobati rasa rinduku. Entah mengapa perasaanku kali ini begitu takut untuk kehilanganmu lagi. Kegelisahanku ini mungkin hanya reaksi rasa takutku yang berlebihan. Aku hanya ingin bilang, aku benar-benar mencintaimu tulus dari hati yang paling dalam. Aku tak pernah meminta lebih, aku hanya ingin selalu bersamamu dalam suka maupun duka. Ya, aku hanya ingin kita seperti dulu saat kita pertama bertemu. Rudy, buatlah rasa gelisahku ini hilang dengan adanya kabar darimu. Selanjutnya aku hanya berharap tak ada lagi jarak di antara kita. Love u sayang.. Jaga dirimu baik-baik ya. Aku menantikanmu..


Esok harinya Rudy memberiku kabar dan mengajakku untuk menemaninya mengantar barang pada kostumer diluar kota. Rasa bahagiaku tak bisa terungkapkan lagi. Mendapat balasan chat dari Rudy membuatku melompat kegirangan seperti anak kecil mendapat hadiah. Aku mulai bersiap-siap untuk pergi. Setelah selesai mandi, tiba-tiba Rudy meneleponku.


"***Sayang, kayaknya aku nggak bisa jemput kamu deh soalnya ada banyak barang yang harus dibawa. Kalo kamu ke rumahku nggak apa-apa kan?"


"Iya nggak apa-apa kok yank. Tunggu bentar ya, aku siap-siap dulu."


"Oke deh. Aku juga lagi cari kardus buat kemas-kemas barang."


"Banyak banget kayaknya. Aku kesitu bawa mobil aja ya."


"Nggak usah yank pake mobilku aja. Kamu kesininya pake ojek aja."


"Udah nggak apa-apa yank. Sekali-kali pake mobilku aja ya biar nggak ngambek kelamaan di garasi nggak pernah dipake."


"Ya udah kalo itu maumu yank."


"Oke deh aku tunggu. Hati-hati di jalan ya nanti."


"Siap yank***."


Sesampainya di rumah Rudy, aku melihat Rudy sudah berada di depan rumah sedang berbicara lewat telepon.


"Yuk sayang kita langsung berangkat aja. Orangnya udah nungguin soalnya."


"Iya oke tapi aku pamit dulu sama ortu kamu."


"Oke deh aku tunggu disini aja ya."


"Iya."


Aku langsung masuk ke dalam dan bertemu dengan Ibunya Rudy dan berpamitan dengannya. Ibu Rudy mengantarkanku ke depan dan membawakan kami bekal.


Selama diperjalanan, Rudy selalu bercerita banyak hal bahkan sesekali kami bernyanyi diiringi alunan musik. Meski aku senang bisa bersama Rudy hari ini, tapi aku merasa ada hal lain pada pandangan Rudy. Dia sering sekali mengecek notifikasi ponselnya seperti sedang menunggu kabar dari seseorang. Aku pun mencoba untuk menanyakannya.


"Sayang, kamu tu dari tadi lietin hp mulu sih. Liat aja ke depan yank kan kamu lagi nyetir."


"Iya iya yank. Aku lagi nunggu kabar dari orang yang mau beli blower ku yank."


"Atau lagi nunggu kabar dari someone mungkin?"


"Tuh kan mulai lagi kamu yank. Nggak suka aku kalo kamu mulai ngajak berantem lagi."


"Aku bercanda sayang kenapa kamu jadi bete. Senyum dong."


"Kamu yang mulai sih."


"Just for fun yank. Habisnya dari kemaren kamu sibuk banget sih kan aku jadi galau sendiri."


"Iya maaf ya sayang. Aku lagi kejar target buat lunasin hutang-hutangku. Aku nggak mau nyusahin ortu lagi. Kamu jangan bilang sama Ibu kalo aku punya hutang ya."


"Tenang aja yank."


"Sebagai gantinya karna kemaren-kemaren aku nggak ada waktu buat kamu, nanti kita jalan-jalan kemana aja yang kamu mau. Kita habiskan waktu hari ini untuk seneng-seneng ya."


"Oke deh ayo ngebut biar cepet sampe."


"Siap bos."


Dan setelah mengantar barang, Rudy pun menepati janjinya untuk mengajakku berefreshing. Rudy benar-benar memberiku hari ini untukku.