
Aku mulai lelah menghadapi sikap Rudy yang selalu menarik-ulur perasaanku. Terkadang begitu manis kadang juga begitu acuh dan kasar. Kali ini aku mencoba untuk mengacuhkan Rudy. Selama beberapa hari, aku jarang sekali menghubungi Rudy. Begitupun sikap Rudy yang juga jarang menghubungiku. Hanya sesekali mencoba meneleponku tapi aku masih begitu cuek menanggapinya. Jarak mulai tercipta di antara hubunganku dan Rudy.
Suatu hari teman sepekerjaku mengenalkanku pada seorang temannya. Dia pun memberiku pin BB nya. Namanya adalah Ade, dia sosok yang begitu lembut dan penuh perhatian. Di kala hatiku sedang dirundung duka, Ade selalu ada untuk menyemangatiku. Dia tahu bahwa aku masih memiliki pacar. Aku selalu cerita padanya tentang hubunganku dengan Rudy. Ade selalu mencoba memberiku perhatian yang kubutuhkan saat ini. Bahkan tanpa aku minta, Ade selalu datang menjemputku ketika aku selesai kerja. Aku mulai terlena akan perhatian Ade padaku. Namun hatiku selalu menolaknya untuk berada di dalam hatiku. Hatiku sepenuhnya masih milik Rudy. Ketika Ade mengajakku untuk makan malam, aku begitu gelisah tak karuan. Aku masih saja memikirkan Rudy, aku begitu khawatir jika ketahuan Rudy atau teman-temannya.
Meski aku masih berhubungan dengan Rudy, namun aku juga mulai membuka jalan untuk Ade. Aku mulai merasa nyaman dekat dengan Ade. Sedangkan bersama Rudy, kami selalu saja bertengkar. Mungkin memang benar kata Stefia, aku harus berani tegas untuk diriku sendiri. Aku harus melepaskan Rudy yang sudah terlalu sering melukaiku. Perlahan jarak antara aku dan Rudy mulai melebar. Tak ada lagi komunikasi di antara kami. Dan di saat itu, aku mulai memberanikan diri untuk membuka hatiku untuk Ade. Aku mulai sering bertemu Ade. Ade begitu sering menggodaku dengan candaannya. Mungkin itu salah satu caranya untuk menghiburku dan menarik perhatianku.
Namun ketika aku sedang mulai dekat dengan Ade, Rudy kembali datang dengan permintaan maafnya. Rudy mencoba untuk membuatku kembali mempercayainya. Aku begitu jelas melihat ketulusan di dalam matanya. Antara senang dan juga sedih, aku tak tahu harus bagaimana saat itu. Aku benar-benar bimbang dengan perasaan ini. Aku takut jika aku kembali mempercayai Rudy, aku harus kembali kecewa dibuatnya. Namun hatiku masih saja memilih Rudy.
"Fanda, aku sadar selama ini aku selalu membuatku sakit dengan segala sikapku. Aku benar-benar sadar sikapku waktu itu benar-benar salah dan sudah membuatmu malu dihadapan banyak orang. Aku benar-benar menyesali itu sayang. Aku benar-benar menyesal udah bikin kamu terlalu kecewa dengan segala egoku. Maafin aku yank! Aku benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya."
"Janji nggak akan bikin aku kecewa lagi?"
"Kali ini aku akan menepati janjiku yank. Kamu mau kan maafin aku?"
"Iya aku maafin kamu."
"Terima kasih Fanda. Aku bener-bener cinta sama kamu." Rudy pun memelukku dengan erat dan aku pun membalas pelukannya.
Meski tak sepenuhnya percaya akan janji Rudy, aku mencoba untuk melihat sejauh mana keseriusan Rudy tentang janjinya padaku. Setiap hari Rudy mulai kembali memperhatikanku. Sikapnya kembali seperti semula ketika aku pertama kali bersamanya. Meski begitu, aku masih tak sepenuhnya percaBBM. Dibelakang Rudy, aku masih menjalin hubungan dengan Ade. Meski aku tak menjalin hubungan khusus dengan Ade, aku hanya menganggapnya sebagai teman dekat saja. Meskipun terkadang aku berharap lebih, nyatanya harapan itu sebenarnya aku tujukan pada Rudy. Berjalannya waktu, aku menyadari bahwa kehadiran Ade hanya sebagai pelarianku saja.
Suatu hari setelah Rudy pulang dari tokonya, dia mengajakku untuk pulang ke rumahnya dan malamnya dia ingin aku ikut menemaninya futsal bersama kawan-kawannya. Aku menurut saja dan ikut Rudy pulang ke rumahnya. Tiba waktunya untuk futsal, kami pun bergegas menuju tempat futsal di dekat rumah Rudy. Saat Rudy sedang bermain futsal, aku justru lebih asik bercanda dengan Ade lewat chat BBM.
"Kok tadi aku lagi main bukannya nyemangatin aku masih asik sendiri sama hp kamu sih yank. Senyum-senyum sendiri emangnya lagi chattingan sama siapa yank?"
"Aku becanda sama teman yank."
"Oh gitu. Ngomong-ngomong kamu laper nggak?"
"Masih kenyang aku yank tadi sebelum pergi disuruh makan sama ibu."
"Kalo gitu temenin aku makan di angkringan biasa ya yank."
"Oke deh."
Sampai di tempat angkringan, Rudy mulai memesan susu jahe dan mengambil beberapa nasi kucing dan gorengan. Tak lupa Rudy pun menawariku untuk memesan minum.
"Aku pesen susu jahe aja deh yank."
"Nggak makan nasi kucing nya yank?"
"Nggak ah yank."
"Biar gendutan dikit yank makan yang banyak."
"Emang sekarang aku kurus ya?"
"Iya sedikit. Tadinya kan chubby kamu yank." kata Rudy sambil mencubit pipiku.
"Itu karna kamu sih bikin aku sakit hati mulu."
"Iya maafin aku ya yank. Aku terlalu banyak salah sama kamu yank."
"Nah loh di skak mat. Makanya kalo udah punya cewek secantik itu jangan suka ganjen. Ntar nyesel kalo udah pergi." sambung salah seorang teman Rudy disambut tawa semua orang termasuk Rudy.
"Untuk sekarang aku nggak mau bikin kamu kecewa lagi dan pergi ninggalin aku. I love you yank."
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Rudy.
"Kok nggak dijawab sih? Udah ada yang lain ya yank?"
"Nggak ada kok."
"Terus kenapa nggak jawab?"
"Takut aku bilang I Love You setelah itu kamu kecewain lagi."
"Nggak akan lagi yank. Aku bener-bener bersumpah nggak akan bikin kamu kecewa lagi." kata Rudy sambil menggenggam tanganku begitu erat.
Semoga Rudy benar-benar telah berubah dan bisa menepati janjinya.