My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Galau



Setelah aku bertemu dengan sahabat-sahabat Marchel kemarin, Marchel jadi lebih sering menghabiskan waktunya untuk Mujahadah. Bahkan Marchel jadi sulit untuk dihubungi. Aku dengar kabar bahwa adik dari Marchel mendapat sebuah masalah dengan kelahiran anaknya sebelum menikah. Marchel berkata, dia tengah sibuk mempersiapkan segala urusan untuk adiknya menikah karna ayah Marchel tidak peduli akan hal itu. Aku mencoba memahaminya walau di dalam hati kecilku, aku takut jika aku dibohongi. Hal itu menjadi ketakutan terbesarku mengingat aku baru saja dibohongi dan disakiti.


Disaat aku mencoba memahami justru Marchel terlihat sedang berlibur di sebuah tempat wisata di sekitar kota. Aku masih mencoba menahan diri untuk tetap bersabar. Sampai di malam hari aku bermimpi tentang Rudy. Memimpikan kejadian yang pernah terjadi di masa lalu ketika Rudy membohongiku. Aku begitu frustasi akan hal ini. Aku merasa tak ingin lagi memiliki perasaan seperti ini. Ketakutanku dan kebencianku kembali memuncak. Esoknya aku mencoba menghubungi Marchel namun belum ada jawaban. Perasaanku jadi kacau tak karuan. Aku tak bisa menahan diri lagi dan meluapkan segala emosiku pada Marchel. Dan hasilnya sudah bisa ditebak. Dengan sifat Marchel yang tidak ingin disalahkan dan egonya yang begitu tinggi, akhirnya Marchel begitu merasa kecewa padaku dan menganggapku tak bisa mengerti dan menghargainya. Perasaanku begitu kalut, aku begitu takut hal yang baru saja kumulai harus kembali berakhir.


Tak habis akal, aku mencoba melakukan segala macam cara untuk meminta maaf pada Marchel. Namun tak ada jawaban, bahkan Marchel men-delcont pin bb ku dengan alasan untuk sementara waktu saja karna ponselnya sedang ia gadai untuk keperluan adiknya. Dalam kesendirian, aku begitu merindukan Marchel. Entah rasa rindu itu benar-benar rindu akan kehadirannya atau hanya rindu akan perhatian seseorang padaku. Dalam keadaanku yang masih belum stabil, aku masih harus bersabar menghadapi sikap dari Marchel. Hal itu sungguh berat kurasakan. Akhirnya aku mencoba datang ke tempat Firza, adik Marchel yang sedang berjualan kopi di dekat rumahku untuk menemui Marchel. Sesampainya disana, aku tak melihat kehadirannya.


"Firza, apa Marchel nggak kesini?"


"Belum kak. Dia bilang lagi ada urusan di rumah tapi katanya sih mau kesini. Coba aku hubungi dulu."


"Oke."


Setelah Firza menghubungi Marchel, tak lama ia pun datang dengan wajah yang begitu datar. Marchel seperti tak ingin menemuiku.


"Kenapa kamu bisa sampe sini?" tanya Marchel.


"Aku nyari kamu. Pengen ngobrol."


"Mau ngobrolin apa sih?"


"Kan aku udah bilang, ada waktunya nanti kita bahas hal ini. Aku lagi sibuk."


"Aku nggak tau Marchel apakah yang kamu katakan itu benar atau pura-pura. Aku hanya nggak bisa digantungin."


"Sudahlah kamu nggak perlu khawatirin hal itu. Ayo aku antar kamu pulang."


Aku menuruti kata Marchel. Dia masih memasang wajah datar dan tak terlihat senyuman di wajahnya. Sebenarnya aku begitu bersedih melihat hal itu.


"Fanda, kan aku udah pernah bilang. Jangan keluar malem. Ini udah hampir jam 9 nggak baik ada cewek keluar jam segini."


"Tapi aku mau ketemu kamu Marchel."


"Apa kamu nggak sadar selama ini apa pernah aku bersikap kurang ajar sama kamu? Enggak kan? Itu karna aku peduli aku sayang sama kamu. Jadi kenapa kamu nggak mau nurut?"


"Bukan gitu....." sejenak aku terdiam. Aku berpikir jika aku kembali berkata akan ada pertengkaran. "Sudahlah. Maaf untuk sikapku."


Sesampainya di rumahku, Marchel langsung pamit untuk kembali pulang. Tiak ada pesan khusus atau sekedar basa-basi. Hatiku seakan ingin sekali menangis melihat keadaanku yang terombang-ambing di antara kesedihan dan ketakutanku.