
Hari pertamaku bekerja bagaikan berjalan di karpet merah dengan sorakan para fans. Di tempat kerjaku kali ini, aku bagaikan primadona. Banyak sekali pria yang terpesona denganku. Kali ini aku benar-benar menutup kehidupanku yang sebenarnya. Aku tidak ingin banyak orang tahu tentangku yang merupakan seorang yang cukup mampu. Bahkan aku tidak lagi menggunakan mobilku untuk berangkat kerja dan juga menggunakan pakaian yang tidak terlalu mencolok.
Bekerja di pabrik memang cukup berat. Di hari pertama bekerja saja sudah begitu terasa melelahkan. Namun rasa lelah itu terbayar dengan sikap ramah para karyawan yang lain. Baru sehari saja aku sudah cukup memiliki banyak kenalan. Bahkan ada yang begitu baik hati selalu mendukungku dan mengajariku pekerjaan di sana. Ini merupakan satu poin plus untuk membuatku betah bekerja disini.
Jam kerja hari itu telah usai. Aku pun langsung bergegas bersih-bersih dan langsung pulang. Aku menyalakan mesin motorku dan mulai melaju. Di sepanjang perjalanan, aku melihat banyak sekali yang mengikutiku dari belakang. Satu per satu dari mereka mulai menghilang karna arah tujuan kami berbeda. Saat sampai di dekat rumah, masih saja ada yang terus mengikutiku. Aku tidak bisa membiarkan seorangpun tahu dengan identitasku. Aku membalikkan laju motor menuju rumah Chika. Sampai di ujung gang mereka mulai pergi dan tak lagi mengikutiku. Sesampainya di rumah Chika, aku meminta orang-orang di sana untuk berpura-pura bahwa aku tinggal di sana. Setelah itu aku pamit untuk pulang dan beristirahat.
Hari pertamaku bekerja begitu melelahkan. Walaupun begitu aku harus bisa melalui itu semua. Aku tidak mau lagi bergantung pada Ayahku. Hari berikutnya, aku mulai beradaptasi dengan lingkungan keruntuk Lingkungan yang friendly membuatku begitu betah bekerja di pabrik meskipun waktuku sudah habis di pabrik. Sesampainya di rumah pun setelah bersih-bersih aku bisa langsung tidur karena begitu lelah. Bagiku hal itu sudah cukup untuk memulai awal yang baru. Pekerjaanku kali ini benar-benar bisa membuatku melupakan tentang rasa kecewa dan sakit hatiku. Keputusasaan yang tadinya menghantui setiap langkahku, kini perlahan telah hilang dan aku mendapat semangat baru untuk memulai hidup yang lebih baik lagi.
Di umurku yang sudah 25 tahun, aku tidak lagi begitu memikirkan tentang mencari seorang pacar lagi. Ini sudah waktunya untukku mencari pendamping hidupku yang bisa menerima segala kekuranganku. Aku sadar, waktu bermainku sudah habis. Kini aku hanya ingin memuaskan diriku sendiri sebelum langkah menuju hal yang lebih serius. Tapi apakah dengan keadaanku saat ini masih ada yang mau menerimaku? Aku hanya ingin berpasrah diri saja pada takdir. Hidupku baru saja dimulai.
Aku tak lagi menjalani hidup dengan begitu bebasnya. Aku tak ingin lagi dianggap sebagai play girl yang suka ganti-ganti pasangan. Kesendirianku kali ini bisa aku gunakan untuk menata lagi hidupku.
Akhir pekan ini aku mempunyai rencana untuk berlibur bersama teman-temanku. Ya, itung-itung untuk merefresh hati dan pikiranku. Lagi pula baru kali ini aku bisa berkumpul bersama teman-temanku.
Pagi itu, semua berkumpul di rumahku. Sebelum pergi, kami menyempatkan untuk sarapan. Walaupun hanya sepotong roti saja bagi kami sudah lebih dari cukup. Dalam lingkarang pertemananku sebenarnya ada 6 orang, tapi karna salah satu dari kami sudah kembali ke kampung halamannya di Medan, jadi kini kami hanya tinggal berlima.
Kami memulai perjalanan dengan beriringan. Saat itu aku hanya sendirian dan yang lainnya berboncengan. Udah jomblo tambah ngenes ya karna selalu sendirian, tapi tak apa lah aku tetap happy. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke Dieng. Selanjutnya kami menyempatkan diri untuk berfoto di tugu selamat datang. Saat sedang asik berfoto, datanglah rombongan komunitas vespa dari Magelang. Mereka meminta kami untuk bergabung bersama rombongan itu. Kami berfoto bersama bahkan saling bertukar pin bb dengan alasan untuk men-share foto-foto kami. Kami pun melanjutkan perjalanan kami dan berpamitan dengan rombongan komunitas vespa itu. Kami menjelajahi semua wisata di Dieng dan mengabadikan moment kami dengan berfoto. Kami pun mengakhiri liburan kami dengan makan mie ayam dan mencoba minuman khas Dieng yang rasanya seperti jahe, yaitu Purwaceng. Aku lebih suka minum purwaceng yang ditambah susu. Rasanya sama seperti susu jahe di angkringan. Terima kasih sahabat-sahabat terbaikku untuk waktu kalian.