My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Jalang (2)



Mungkin ungkapan Tiada Pacaran tanpa Nge-sex itu betul juga. Aku berpacaran dengan sebagian besar laki-laki selalu melakukannya. Begitupun yang sedang kujalani dengan Ryan, tiap kali bertemu kami selalu melakukannya. Aku cukup senang melakukannya dengan Ryan karna 'Aset'-nya cukup membuatku benar-benar puas. Sepertinya sekarang aku telah menjadi gadis jalang yang sesungguhnya. Aku sudah tidak lagi peduli akan nasib hidupku selanjutnya, bagiku semuanya telah hancur bersama hancurnya keluargaku. Kini aku hanya ingin merasa bebas melakukan apa saja untuk kesenanganku semata.


Suatu malam Ryan mengajakku jalan-jalan ke luar kota bersama dengan dua temannya. Sebenarnya rencana Ryan dan teman-temannya bukan hanya sekedar jalan-jalan tapi juga untuk pergi Ngamar. Salah satu teman Ryan telah menyewa seorang pelacur dan yang satunya lagi hanya sebagai pengantar saja meski aku tahu diapun ingin memiliki pasangan tempurnya. Selagi teman Ryan sedang bersenang-senang dengan wanita bayarannya, aku dan Ryan pun juga ikut bersenang-senang di dalam mobil. Itu satu pengalaman yang cukup menantang bagiku. Jika kuingat lagi sensasi bercinta di dalam mobil benar-benar membuatku merasa melayang. Merasa belum puas, kamipun melanjutkan aksi kami di dalam kamar losmen. Saat di kamar, kami berdua seakan diburu nafsu yang tinggi. Kami melakukannya dengan agak kasar namun ini yang aku suka, karna aku bisa meraih kenikmatan yang maksimal. Ryan berkata padaku bahwa kali ini dia kehabisan pengaman. Aku hanya bisa mengiyakannya karna nafsuku sudah sampai ubun-ubun. Baru setengah main, teman Ryan sudah beberapa kali mengetuk pintu untuk segera pulang karna ada sedikit masalah. Seakan tak peduli, kami melakukannya dengan cepat. Meski kali ini kami tidak benar-benar menikmati pertarungan kami tapi aku merasa cukup puas karna kami bisa berhubungan dengan liar.


Sepulangnya, salah satu teman Ryan mengajakku untuk ikut pesta makan durian namun Ryan menolaknya dan memintanya untuk segera mengantarkanku pulang. Dalam hati aku merasa senang karna Ryan begitu peduli denganku. Walau mungkin saja ada maksud lain, pikirku. Baru sampai di rumah, teman Ryan mengirimiku pesan untuk ikut bersama mereka setelah mengantar Ryan pulang. Belum sempat membalas, mereka sudah datang dan sayangnya saat itu ayahku yang keluar untuk melihat siapa yang meng-klakson malam-malam. Sejenak aku bisa lega karna aku tak jadi ikut dengan mereka. Sejujurnya aku agak takut jika sampai ikut mereka akan terjadi hal yang diluar kendaliku. Aku masih belum ingin senakal itu.


Suatu malam Ryan bilang ingin datang ke rumah dan bertanya apakah di rumah kosong atau tidak. Aku bilang iya karna memang malam itu aku sendirian di rumah. Ryan datang bersama temannya yang bernama Dikky kalau aku tidak salah ingat. Setelah sampai Ryan langsung saja mengajakku ke kamar dan menyuruh Dikky menunggu di ruang tengah. Aku bilang pada Ryan bahwa aku sedang datang bulan namun Ryan terus saja memaksaku.


"Ayolah sayang! Aku lagi pengen banget kenapa kamu nggak mau?!"


"Aku lagi dapet sayang."


Selesai bercinta, Ryan menanyakan padaku apakah masih ada makanan. Aku pikir setelah bertempur dia sampai kelaparan. Aku menyiapkan beberapa makanan di meja makan dan melayani Ryan seakan kami sepasang suami-istri.


"Sayang, ini kamu yang masak?" sambil terus mengunyah makanannya.


"Bukanlah. Itu makanan dari tetangga tadi sisa arisan. Aku mana sempet masak, di rumah aja jarang."


"Seneng deh kayaknya kalo ada yang masakin gitu ya. Yank, gimana kalo kita nikah aja? Nggak usah muluk-muluk deh. Kita nikah sederhana aja. Tapi nanti kamu yang sedia rumah buat kita ya. Gimana?"


"Menarik juga! Tapi aku lebih tertarik buat layanin Ryan junior aja." aku melangkah duduk dipangkuan Ryan sembari menggodanya dengan ciuman. Seperti tak peduli bahwa Dikky ada di sebelah kami, aku terus saja menggoda Ryan.