
Hari itu aku bangun agak pagi. Aku sengaja memasang alarm untuk bersiap-siap pulang. Setelah sarapan, aku mulai memasukkan semua barang-barangku dibantu oleh Pak Budi. Setelah semua selesai kami pun bersiap-siap untuk berangkat. Akhirnya aku pulang, aku sudah sangat rindu dengan teman-temanku.
Selama perjalanan, aku lebih memilih untuk mendengarkan musik dan berkomunikasi dengan pacarku Rudy. Dea dan Pak Rudy begitu asik mengobrol.
"Wih hp baru nih. Dibeliin si Bos ya neng?" Kata Pak Budi mencoba menggoda Dea.
"Hp second itu Pak Budi." Aku menjawab perkataan Pak Budi ingin meledek si Dea.
"Kok neng Fanda bisa tau itu hp second?"
"Ya tau lah, aku pernah pake hpnya waktu Pak Harry nyuruh aku buat benerin hpnya biar bisa buka email."
"Oh gitu ya."
"Apaain sih! Syirik aja lu!" sahut Dea dengan kesal.
"Gua mah biasa aja. Orang gue lagi ngobrol sama Pak Budi ngapain lu sewot?"
Pak Budi hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuanku membuat kesal Dea. Tak memperdulikan ocehan Dea, aku pun kembali memasang headphone di telingaku dan memutar musik lagi. Dea dan Pak Budi masih saja mengobrol. Dea menceritakan kesenangannya memiliki pacar Bos. Dia memamerkan segala keuntungan yang dia dapat pada Pak Budi. Pak Budi menanggapinya dengan antusias. Aku masih bisa mendengar ocehan Dea samar-samar lalu aku mencoba untuk menyela ocehannya.
"Eh Dea...lu bangga punya pacar bos kaya tapi udah beristri dan punya anak?"
"Emang kenapa? Lu sirik ama gue?"
"Kagak. Gue cuma heran aja masih ada cewek nggak tau malu kayak elu."
"Maksud lu apa?" Dea mulai kesal.
"Apa nggak ada cowok lain yang masih single buat lu pacarin? Kenapa harus pacaran sama suami orang? Nggak takut karmanya balik ke ke elu?"
"Apa urusan lu? Hidup-hidup gue!"
"Terserah elu sih. Tunggu aja sampe waktunya tiba. Lu bayangin aja kalo lu jadi istrinya Pak Harry terus tau ada cewek lain yang jadi pacar suaminya."
"Bodo amat yang penting gue masih dicukupin segalanya."
"Cewek matre."
"Eh udah-udah ah jangan berantem di mobil, nggak baik!" sela Pak Budi menengahi percakapanku dengan Dea.
Saat jam makan siang, kami berhenti di sebuah restoran untuk makan. Kami memesan beberapa makanan. Setelah puas makan, Pak Harry mencoba menelepon Dea. Pak Harry meminta Dea untuk mentraktir kami makan. Dengan kesal, diapun mengiyakan permintaan Pak Harry.
"Ogah bgt sih gue harus traktir elu Fanda!"
"Terserah elu sih mau traktir apa nggak. Gue mah santai aja, tinggal buka kedok lo aja sama Pak Harry biar tau kalo lu itu cuma mau duitnya doang."
"Sialan!" Dea pun pergi ke kasir membayar semua makanan kami dengan begitu kesal.
Aku sangat senang membuat Dea kesal. Aku sengaja mengancamnya untuk mendapat keuntungan. Lumayan lah, uang bonus dari Pak Harry bisa utuh. Kami pun melanjutkan perjalanan kami. Bagai babi, setelah kenyang makan siang, aku langsung ketiduran. Aku terbangun saat langit mulai gelap. Aku melihat Dea masih terlelap. Aku mencoba mengobrol dengan Pak Budi.
"Dia beneran tidur Pak?"
"Iya neng."
"Aman deh."
"Emang neng Fanda mau ngapain?"
"Mau ngomongin dia."
"Hehehe. Neng Fanda kayaknya nggak suka banget sama neng Dea."
"Dia itu licik. Tau sendiri kan kelakuannya."
"Memang sih. Saya juga nggak suka ada cewek yang pacaran sama suami orang."
"Biasa pak dunia seperti itu. Para bos kesepian cari penghangat."
"Iya betul Pak."
Sedang asik ngobrol dengan Pak Budi, tiba-tiba Dea bangun.
"Lagi pada ngomongin siapa sih?"
"Ngomongin cewek matre yang suka morotin bos kaya beristri." jawabku meledek.
"Sialan lu!"
Sebelum mengantar Dea pulang ke rumahnya, kami terlebih dulu mencari makan malam. Dan lagi-lagi aku memakai trikku agar Dea mentraktir kami lagi. Sesampainya di rumah Dea, aku dan Pak Budi diminta untuk mampir sebentar. Sebenarnya sih aku malas harus mampir ke rumah si Dea, tapi demi menghormati permintaan ayahnya si Dea aku pun setuju untuk mampir sebentar. Setelah menghabiskan secangkir teh hangat, aku dan Pak Budi pun pamit untuk pulang. Di perjalanan pulang, Pak Budi mengajakku mengobrol.
"Neng Fanda kayaknya lagi kasmaran ya."
"Kok bisa tau sih pak Budi?"
"Keliatan jelas lah dari sikap neng Fanda yang senyum-senyum sendiri sambil mainan hp."
"Pak Budi ini merhatiin bgt."
"Pacarnya orang mana neng?"
"Masih satu kota aja sama saya Pak."
"Jaman sekarang hati-hati neng sama cowok. Cowok jaman sekarang mah bajingan semua, mau enaknya doang kalo udah bosen ya ditinggal gitu aja. Maaf nih ya saya cuma kasih saran aja. Biar neng Fanda nggak sampe kemakan rayuan cowok yang kayak gitu."
"Iya pak. Saya udah sering banget ketemu sama cowok kayak gitu."
"Saran saya nih, sebelum nikah jangan pernah cinta sama cowok dalem-dalem neng, nanti kalo bukan jodoh, sakit hati lama sembuhnya."
"Iya pak. Pak Budi ini kayaknya paham bgt masalah ginian."
"Iya neng. Dulu saya sempet jadi cowok yang kayak gitu. Tapi setelah dewasa baru sadar kalo kelakuan saya udah banyak nyakitin cewek."
"Wah dulu Pak Budi banyak bgt ceweknya ya pasti?"
"Ya bisa dibilang gitu neng. Hehehe."
Keasikan ngobrol sampai aku tak sadar sudah sampai di rumah. Waktu sudah begitu larut, Pak Budi membantuku membawakan barang-barangku ke dalam. Setelah selesai, beliau pamit pulang.
"Semuanya sudah saya bawa ke dalem ya neng."
"Terima kasih banyak ya pak."
"Iya neng. Kalo gitu saya pamit dulu ya neng."
"Buru-buru amat Pak. Ini saya baru aja bikinin kopi loh."
"Duh jadi ngrepotin neng Fanda. Boleh dibungkus aja nggak neng? Biar nanti saya minum di mobil aja."
"Oke tunggu bentar ya."
Aku pun kembali masuk untuk membungkus kopi untuk Pak Budi.
"Ini pak kopinya sama sedikit camilan."
"Wah makasih ya neng. Kalo gitu saya pamit."
"Iya Pak hati-hati. Terima kasih ya pak."
"Sama-sama neng."
Akhirnya aku kembali ke rumah..