
Hari-hariku jauh lebih baik setelah segala rasa kesal, sedih, kesepian, kecewa dan juga rasa bersalah dengan semua yang telah kulewati. Aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi Fanda yang lebih baik lagi. Meski sampai saat itu aku masih belum bisa lepas dari penyakit Hypersex. Ya, aku masih saja mudah tergoda akan kenikmatan duniawi itu. Sebenarnya aku pernah merasa begitu takut akan penyakit AIDS, mengingat aku sudah berhubungan dengan banyak pria. Rasa bersalahku akan hal itu terus saja membayangiku. Masihkah ada yang mau menerimaku dengan segala kekuranganku. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku karna dalam keyakinanku setiap orang pasti memiliki pasangannya. Aku akan menerima bagaimanapun pasanganku nanti. Orang baik akan memiliki pasangan yang baik pula. Orang yang berlumur dosa sepertiku pastinya akan memiliki pasangan yang serupa denganku. Dan aku yakin suatu saat nanti kami bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan kami.
Khayalku akan kehidupan yang bahagia dan lebih baik terus terngiang setiap kali aku mengingat sosok Andika. Entah apa yang membuatku yakin bahwa Andika adalah satu-satunya yang bisa membuatku tenang. Kedekatan kami memang sudah tidak lagi kami tutup-tutupi. Orang lain boleh menilai ataupun menghujatku, menganggapku jahat. Namun masalah hati aku tidak bisa berpura-pura. Aku lebih klik bersama Andika dan seharusnya mereka bisa mengetahui hal itu.
Tiap hari tiap pulang kerja, Andika selalu mengantarku pulang. Bahkan sebelum mengantarku pulang, Andika sering mengajakku makan. Hal itu sebagai cara untuk kami saling mengenal satu sama lain. Tiap malam Minggu pun, Andika jadi sering mengajakku untuk keluar sekedar ngopi ataupun makan di Cafe.
"Fanda, malming besok aku jemput kayak biasa ya. Ngopi-ngopi gitu sambil ngobrolin tentang kita." kata Andika lewat pesan BBM.
"Oke siap. Kamu yang traktir ya. Hehehehe."
"Iya iya. Apa sih yang nggak buat kamu."
Hari yang dijanjikan pun datang juga. Sabtu malam tepat pukul 7, Andika sudah sampai di rumah untuk menjemputku. Cuaca malam itu begitu cerah dan cukup dingin. Andika mengajakku ke sebuah Cafe di dekat rumahku. Sesampainya disana, kami memesan secangkir Hot Chocolatte, secangkir Cappucinno dan seporsi roti bakar keju. Sambil menunggu pesanan kami datang, kami mengobrol mengenai hubungan kami. Bahkan kami sudah merencanakan hal mengenai sebuah pernikahan. Andika sudah begitu mantap untuk serius menjalani hubungan ini bersamaku.
"Jadi Fanda, kamu sudah yakin kan mau serius sama aku. Pokoknya rencanaku pasti nggak akan pernah gagal. Perkara meleset mungkin hanya masalah waktu saja." kata Andika mencoba menjelaskan.
"Aku mau kok." jawabku dengan senyum semringah.
"Perkara ijin sama ortu kamu, kalo diijinkan ya aku seneng bgt kalo nggak dapet ijin ya dengan cara paksa. Hehehe."
"Cara paksa?" kataku penasaran dengan ucapan Andika.
"Dasar kamu ini."
"Tapi kamu mau kan?"
"Enggak."
"Oh ya udah aku pulang aja deh kalo gitu." kata Andika sambil bangkit dari kursi.
"Yah jangan dong. Masa aku ditinggal sendirian." sahutku sambil menarik baju Andika.
"Duh kesayangan manja bgt ya." sambung Andika sambil memegang kepalaku dan mencium keningku.
Saat Andika mencoba untuk mencium bibirku, aku berusaha menghindar dan menahan wajah Andika dengan tanganku. Mengetahui sikapku yang malu karna grogi, Andika hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan senyumannya.
Usai mengobrol panjang lebar mengenai kepribadian kami masing-masing, Andika pun mengajakku untuk pulang karna waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Ayo sayang, kita pulang. Waktu hampir jam 12 malam." kata Andika sambil bersenandung lagunya Slank.
"Ayo sayang." sambungku sambil menggandeng tangan Andika.