
Suasana kantor masih begitu sepi. Semua karyawan telah kembali ke kotanya masing-masing. Ya, wajar saja karna proyek sudah selesai. Aku hanya tinggal menunggu proyek selanjutnya di kota lain, jadi kali ini aku kembali bebas dengan segala kesenanganku.
Kegiatanku masih seperti biasanya, menghabiskan waktu di rumah Chika bersama teman-temanku dan teman laki-laki yang lain termasuk Sony. Dihadapan semua orang, aku dan Sony bersikap biasa layaknya teman main. Kami tidak terlalu menunjukkan sikap lebih. Kami sama-sama mengerti bahwa kami tak ingin ada orang lain tahu dengan kedekatan kami. Kami tidak ingin menciptakan suasana kurang nyaman di antara yang lainnya.
Saat di rumah masing-masing kami masih terus berkirim pesan, saling bercanda bahkan saling menggoda. Kami seakan tenggelam dalam dunia kami saat tak ada orang lain yang tahu.
*Fanda, kenapa sekarang kayaknya lu lagi sendiri aja? Kemana cowok-cowok lu yang kemaren?
Udah gue pecat semua.
Kenapa? Udah bosan atau nggak ada yang bisa puasin lu?
Sialan lu Son! Lu sendiri aja masih jomblo pake ngatain orang!
Gue lagi bosen aja. Gue lebih seneng sama lu sekarang.
Modus lu.
Nggak lah beneran. Gue suka karna kita pernah ngesex. I love you Fanda *emoticon kiss*
Emang iya?
Iya lah. Yuk kita ngesex lagi. Lagi pengen nih. Rumah kosong kan?
Iya. Coba sini aja.
Oke tunggu bentar.
Tak lama Sony pun sampai di rumahku. Dan tanpa basa basi kami langsung melakukan pemanasan. Kami bergulat cukup lama. Setelah selesai kami mengobrol sebentar dan Sony pun pamit untuk pulang. Aku merasa hubungan ini hanya saling membutuhkan saja. Tidak ada yang spesial. Aku merasa cukup bosan.
Beberapa hari pun berlalu. Saat aku sedang santai di depan rumah, salah seorang teman lamaku datang menghampiriku. Dia adalah teman sekolahku dulu, namanya Fandy. Nama kami memang sedikit mirip tapi sifat kami bertolak belakang. Jaman sekolah dulu Fandy suka sekali menjahiliku. Namun kini justru kami jadi akrab.
"Eh Fanda apa kabar lu?"
"Baik. Dari mana Fan? Tumben mampir."
"Ini habis nganter sohib gue. Oh ya nih kenalin katanya dia naksir elu."
"Oh ya. Hai aku Fanda."
"Sialan pake formal segala lu Nda. Hahaha."
"Udah-udah nggak apa-apa. Hai namaku Ronald. Senang bisa kenal kamu." Sela Ronald.
"Dia naksir sama elu dari pandangan pertama katanya." Sahut Fandy menggoda Ronald.
"Apaan sih lu Fan pake ngomong sama Fanda segala."
"Ah pake malu-malu. Elu tu malu-malu mau."
"Sialan lu Fan."
"Eh udah lah. Emang bener Ronald suka sama aku?" Aku mulai menggoda Ronald.
"Iya Nda. Aku suka kamu."
"Pacar aku banyak loh."
"Nggak apa-apa kalo aku bukan satu-satunya yang penting kamu satu-satunya di hati aku."
"Gombal kamu Ron."
"Sialan lu Ron. Gombalan lu norak bgt." Fandy tertawa geli mengejek Ronald.
"Biarin namanya aja usaha. Aku boleh minta nomor telepon kamu nggak Nda?"
"Boleh tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?"
"Jangan gombalin aku terus."
"Oke lah asalkan aku bisa dapet nomer telepon kamu."
Aku dan Ronald pun saling bertukar nomer telepon. Kala itu masih belum jaman Whatsapp atau aplikasi messenger lainnya. Kami pun mengobrol cukup lama di teras. Karna ada sedikit urusan, Fandy dan Ronald pun pamit pulang.
Malam harinya Ronald meneleponku. Dia bertanya banyak hal tentang aku. Dia benar-benar mencoba untuk dekat denganku. Aku sudah sangat paham dengan cara setiap laki-laki yang mencoba dekat denganku, rata-rata mereka hanya ingin memanfaatkanku saja. Namun entah aku memang bodoh atau sengaja sama-sama memberi keuntungan, aku masih saja terlena dengan gombalan-gombalan mereka.
Tak perlu waktu lama untuk pendekatan, aku dan Ronald pun akhirnya resmi berpacaran. Selama berpacaran pun kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk saling memuaskan satu sama lain. Ya, pertemuan kami hanya untuk bercinta saja. Bahkan kami pernah melakukan hal itu di dalam bilik warnet. Ronald mengajakku ke warnet untuk menonton film porno online dan kami langsung mempraktekkannya. Kadang aku merasa bosan juga tiap kali berpacaran selalu dengan bercinta. Tidak ada keuntungan lain yang kudapat selain kenikmatan duniawi saja. Aku pikir aku lebih buruk dari seorang pelacur yang tiap kali bercinta dapat uang.