
Hari-hariku di kantor sangat membosankan sekali. Tiap hari aku harus mendengar ocehan dari Direktur tua bangka itu. Pak Toni selalu menyuruhku diluar tugas yang seharusnya aku lakukan. Dalam hatiku, Sialan si tua bangka mau membuatku tak betah disini. Bukan hanya itu saja, Pak Toni juga sengaja memberiku bon-bon susulan yang membuatku harus me-revisi seluruh laporan dari awal. Gila ini orang emang niat banget mau bikin aku nggak betah kerja. Hal itu membuat Pak Harry mempertanyakannya, mengapa tiap hari laporannya berubah terus. Aku pun memberi jawaban sesungguhnya.
"Ini kenapa tiap hari berubah terus? Banyak banget bon-bon susulan. Masalah keuangan kan jadi ikut kacau."
"Iya Pak itu karna Pak Toni sering terlambat kasih bon. Jadi saya harus revisi dari awal lagi."
"Duh, bikin pusing aja."
"Oh ya mulai sekarang kamu kerja pake laptop aja ya. Komputer kamu biar dipakek si Deddy."
"Iya Pak."
"Laptopnya kamu bawa aja kalo udah selesai kerja. Nanti dimainin orang bahaya."
"Baik Pak. Terima kasih. Kalo gitu saya kembali kerja Pak.
" Oke silahkan."
Saat di mess, aku pun jadi tidak terlalu bosan dengan adanya laptop. Aku bisa memutar musik atau bermain. Yah, itung-itung biar tidak terlalu spaneng karna si Direktur tua bangka itu.
Selama beberapa hari menggunakan laptop, aku jadi ada hiburan di kantor. Seakan tak suka melihatku santai, Pak Toni pun kembali membuat ulah. Dia menasehatiku perihal inventaris kantor.
"Kamu tau nggak kalo laptop itu termasuk inventaris kantor?"
"Tau Pak."
"Lalu kenapa kamu seenaknya bawa laptop itu pulang?"
"Maaf Pak. Saya dapat ijin dari Pak Harry, katanya biar tidak bisa dimainin sembarang orang."
"Tapi saya tidak ijinkan. Kamu tau nggak atasan kamu disini itu saya!"
"Maaf Pak."
"Mulai nanti sehabis selesai kerja, laptop harus ada di meja saya!"
"Baik Pak."
Dengan perasaan kesal yang sampai ke ubun-ubun aku pun meninggalkan ruangan Pak Toni tanpa pamit. Kenapa si Direktur Tua itu rasanya nggak suka banget sama aku? Apa karna masalah pendidikanku jadi dia sentimentil? Yang pasti dia sudah berhasil membuatku tak betah di kantor tapi dia tidak bisa membuatku pergi dari kantor. Bagaimana bisa Pak Toni itu jadi Direktur padahal kerjanya aja bikin pusing orang, kebanyakan revisi suka perintah orang. Katanya sih dia orang kepercayaan CEO perusahaan tempatku bekerja, aku rasa CEO-nya buta. Bagiku tak masalah orang memandang rendah diriku karna memang aku tak begitu baik. Tapi aku tak terima jika orang menilai kemampuanku buruk hanya berdasarkan latar belakangku. Itu tidak adil!
Hari berganti hari, waktu terus berjalan dengan begitu berat. Keseharianku di kantor pun masih sama saja. Kerjaan penuh revisi dan pandangan rendah dari Pak Direktur Tua itu. Aku seperti ingin menyerah saat itu juga tapi aku masih ingin mencapai tujuanku. Ayolah Fanda kamu harus terus semangat! Dalam hati menyemangati diriku sendiri.
*Siang hari di ruangan Pak Harry.
"Fanda kamu kenapa? Udah sarapan belum? Kok kurang semangat gitu? Revisi lagi?"
"Ya begitulah Pak. Saya sebenarnya capek harus revisi terus tiap hari. Apalagi ini lebih parah. Banyak income yang baru saja disetorkan struknya."
"Waduh ini jadi susah saya. Mana coba lihat laporannya."
Aku langsung menyerahkan flashdiskku pada Pak Harry untuk diperiksa.
"Saya jadi pusing ini lihat laporannya revisi-revisi terus. Apa dia udah pikun kali ya sampe lupa kasih bukti income. Kalo gini terus jadi kacau balau. Saya udah pusing mikir kerjaan ditambah pusing laporan keuangan revisi mulu."
"Lalu gimana Pak?"
"Nanti biar saya bicarain sama Pak Toni aja."
"Baik Pak."
"Kamu udah makan belum Fanda?"
"Tadi baru sarapan sedikit Pak."
"Kalo gitu kamu panggil si Budi buat beli nasi padang gih. Kebetulan saya juga laper."
"Baik pak*."