My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Hang Out



Hubunganku dan Rudy masih cukup baik. Untuk urusan ranjang, aku tidak bisa menolak kemauan Rudy. Aku hanya takut jika aku menolak keinginan Rudy untuk bercinta justru dia akan pergi meninggalkanku. Separno itu pikiranku karna terlalu mencintai Rudy. Aku telah mencintainya benar-benar tulus di dalam hati. Dalam seminggu, kami bisa melakukan hal itu sekali, dua kali bahkan mungkin sampai tiga kali, sudah seperti pasangan suami istri saja.


Aku selalu berharap hubunganku dan Rudy bisa dibawa sampai ke jenjang pernikahan. Gadis mana yang tak berharap demikian jika ia pernah dibawa ke rumah seorang pria dan dikenalkan pada orangtua dan juga keluarganya. Aku masih ingat saat pertama kali aku bertemu dengan orangtua Rudy. Aku merasa sangat grogi. Aku cukup menyukai keluarga Rudy. Keluarga Rudy begitu hangat dan easy welcome. Bahkan aku merasa betah jika berada di rumah Rudy berbeda dengan keadaan di dalam rumahku yang begitu hampa dan banyak menyimpan kesan tak menarik disana.


Suatu hari Rudy memberitahuku bahwa kakaknya yang berada di Kalimantan akan pulang. Rudy bercerita bahwa kakaknya begitu penasaran padaku. Ya meski sebenarnya aku dan kakak Rudy sudah pernah saling kontak di facebook. Hari-hariku masih sama saja, aku selalu menemani Rudy di toko. Hubungan kami pun masih begitu harmonis hingga suatu ketika salah satu temannya datang menemuinya. Sebenarnya dia masih tetangga dekat Rudy. Aku tak begitu menghiraukan obrolan mereka berdua. Aku memang tak begitu ikut campur dengan obrolan para pria itu. Ketika sedang asik main ponsel, Rudy memanggilku.


"Eh yank sinian bentar deh."


Aku pun berjalan menghampiri Rudy dan temannya.


"Ada apa yank?"


"Ini nih kenalin. Dia temen aku, preman kampung nih. Hahaha."


"Sialan lo malah jelek-jelekin gue dihadapan pacar lo. Gue kan jadi tambah grogi." sahut teman Rudy.


"Hai kenalin, saya Joni teman kecilnya Rudy di kampung."


"Oh ya hai, aku Fanda. Salam kenal ya."


"Nggak nyangka pacar Rudy emang cantik banget ya. Ngiri gue."


"Iyalah siapa dulu pacarnya." sahut Rudy.


"Emang aku pacarnya siapa sih?" kataku mencoba menggoda Rudy.


"Ya pacar aku lah. Mana mungkin pacar orang lain ada disini sekarang sama aku tiap hari."


"Emang aku ini pacar kamu ya?"


"Iya lah. Aku cium kamu kalo becanda mulu."


"Hahahaha. Dasar lu Rud masih aja ambil kesempatan sama cewek." jawab Lutfi menengahi percakapanku dan Rudy.


"Yang penting kan sama-sama suka."


"Udah-udah silahkan kalian terusin ngobrol lagi ya. Aku mau selesaiin rekapan dulu ya. Mari mas Lutfi."


"Iya silahkan." jawab Lutfi.


Sesaat aku masih sedikit mendengar percakapan Rudy dan Mas Lutfi.


"Gila lu Rud. Dapet cewek model begiti darimana sih?" tanya Lutfi penasaran.


"Dari facebook. Gimana menurut lo?"


"Siplah. Jadi ngiri gue pengen dapet cewek cantik seksi kayak gitu."


Setiap sore seperti biasa, Rudy mengantarku pulang setelah selesai di toko. Tak seperti biasanya kali ini Rudy tak mampir ke rumah setelah mengantarku. Dia hanya bilang masih ada urusan yang harus diselesaikan. Malamnya aku mencoba menghubungi Rudy.


***Yank, lagi apa sih kamu dari tadi sore nggak sms aku?


Maaf yank, aku lagi sibuk banget ini. Ada yang telpon tadi mau service handphone. Ini aku lagi benerin handphone nya.


Oh gitu. Ya udah deh nanti kalo udah selesai telpon aku ya.


Oke siap yank. Bentar ya sayang. Love you..


Love you too yank***.


Aku menunggu telepon Rudy hingga tengah malam tapi Rudy tak jua meneleponku. Aku hanya berpikir mungkin dia benar-benar sibuk. Aku tak begitu mempermasalahkan lagi.


Esoknya Rudy menjemputku agak pagi. Dia ingin mengajakku untuk sarapan sebagai permintaan maafnya. Selesai sarapan, kami langsung membuka toko.


"Eh yank, hari ini mas Angga nyampe rumah."


"Syukurlah kalo gitu. Nyampe kapan?"


"Katanya sih udah nyampe tapi tadi pagi belum ke rumah. Mungkin lagi nemuin anaknya dulu."


"Oh gitu."


"Ntar malem ikut aku ya."


"Mau kemana yank?"


"Ya liet aja nanti. Mas Angga yang ngajakin soalnya."


"Oke deh siap."


"Dandan yang cantik ya yank."


"Emang aku nggak cantik ya yank?"


"Cantik lah banget malah. Pengen liet kamu yang spesial lagi."


"Oke deh sayangku."


"Cium dulu dong biar tambah semangat." kata Rudy sambil menunjuk bibirnya.


Aku pun langsung mencium pipinya.


"Kok cium pipi sih kan aku maunya cium bibir sayang."


"Ogah!"


Rudy pun langsung memelukku dan memaksa mencium bibirku.


"Makasih ya sayang untuk ciumannya."


"Apaan. Kamu yang maksa cium aku kok."


"Jangan goda aku terus yank. Ntar aku makan kamu."


"Ih kamu ya sengaja bikin aku gemes. Udah sana kamu duduk aja. Aku beres-beres dulu."


"Siap bos."


 


\*


 


Malamnya ketika aku sudah siap, Rudy meneleponku untuk bersiap karna dia akan menjemputku. Aku merasa sangat gugup untuk bertemu dengan mas Lutfi. Mungkin karna ini pertama kalinya aku bertemu dengan kakaknya Rudy. Sepuluh menit kemudian Rudy pun datang menjemputku di rumah. Aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumahku. Aku pun langsung mengambil mantel dan tas dan segera keluar. Suara bel rumah berbunyi dan aku pun membukanya.


"Hai sayang. Udah siap kan?"


"Udah kok."


"Oke ayo kita keluar sekarang."


"Ayo."


Rudy pun menggandeng tanganku dan berjalan menuju mobil.


"Tangan kamu kenapa dingin banget sih yank?"


"Aku keliatan banget gugupnya ya yank?"


"Ya ampun ternyata kamu itu gugup? Kamu tenang aja yank, mas Lutfi nggak nggigit kok. Hehehe."


"Kamu malah ketawa ih jahat."


"Udah kamu tenang aja sayang. Udah sana masuk mobil."


"Oke."


Ketika aku masuk ke dalam mobil, aku melihat ada adiknya Rudy yang bernama Farah duduk di belakang.


"Hai apa kabar mbak?"


"Oh hai aku baik aja. Kamu sendiri?"


"Seperti yang mbak liat, aku baik juga. Sini mbak duduk deket aku."


"Oh oke."


"Nah ini kenalin yank. Dia kakak aku, mas Lutfi." sambung Rudy.


"Salam kenal mas, aku Fanda."


"Salam kenal juga ya Fanda."


"Enaknya kita kemana nih?" tanya Farah.


"Cari makan aja yuk, laper nih." jawab mas Lutfi.


"Ide bagus itu. Yuk jalan." sambung Rudy penuh semangat.


"Kamu gimana Fanda?" tanya mas Lutfi padaku.


"Oke aku ngikut aja mas."


"Sip kita berangkat sekarang." sambung mas Lutfi dan segera menyalakan mobil.


Setelah berkeliling kota mencari tempat makan yang pas, kami pun akhirnya memilih makan di warung lamongan. Mas Lutfi pun segera memesan makanan dan minuman. Kami banyak mengobrol tentang banyak hal. Mas Lutfi pun mulai bertanya banyak hal padaku. Dia mencoba untuk bisa akrab denganku.


"Emang bener ya kamu sama Rudy kenalnya lewat fb?" tanya mas Lutfi penasaran.


"*Iya mas. Awalnya aku nggak tau kalo kita ini satu kota."


"Bisa kebetulan gitu ya."


"Dia yang suka stalking aku mas. Mas Rudy yang ngefans sama aku katanya."


"Ya pantes aja kalo Rudy sampe naksir kamu sih, aslinya kamu emang lebih cantik dari foto-foto kamu di fb."


*"Eh itu pesenannya dateng mas." sambung Farah.


"Oke yuk makan semuanya." kata mas Lutfi mempersilahkan semuanya untuk makan.


Kami pun segera menyantap makanan kami. Suasananya begitu hangat dan damai. Aku sendiri sudah seperti bagian dari keluarga Rudy. Kami begitu akrab satu sama lain.


"Pacar kamu nggak ikut Rah?" tanya mas Lutfi pada Farah.


"Ini lagi aku ajakin kesini. Katanya sih lagi di kota juga."


"Paksa suruh kesini disuruh mas Lutfi gitu."


Farah pun menelepon pacarnya.


"Katanya malu ketemu sama mas Lutfi." kata Farah sambil tertawa.


"Suruh kesini aja biar rame."


"Iya Rah biar makin rame." sambung Rudy.


Tak lama pacar Farah pun datang. Nama pacar Farah adalah Andy. Mas Lutfi pun menyuruh Andy untuk memesan makanan juga. Mas Lutfi begitu serius mengobrol dengan Andy dan Farah. Sesekali Rudy pun ikut menyambung. Aku dan Rudy lebih asik mengobrol sendiri sambil bercanda.


"Ini kenapa aku yang kelihatan ngenes ya nggak ada pasangannya." kata mas Lutfi.


"Makanya cari ibu baru buat Ari sama Lani." jawab Farah disambut tawa semua orang termasuk aku.