
Seminggu sebelum hari ulang tahun Rudy, aku mencoba membuat sebuah hadiah kejutan untuknya. Aku membuat sebuah video kolase untuk Rudy dengan kata-kata romantis yang menunjukkan ketulusanku. Aku begitu antusias dengan hal itu. Saat itu aku memang ingin memberikan hadiah yang lain yang bisa Rudy simpan dan bisa terus mengingatku. Alunan instrumen musik romantis dari Kenny G menjadi pilihanku untuk video kolase itu.
Esoknya aku mencoba menghubungi Rudy namun tak satupun chat dan teleponku yang ditanggapi oleh Rudy. Aku mulai cemas dan begitu gelisah. Rasanya ingin menangis setiap kali pikiran buruk memenuhi pikiranku. Aku mencoba menenangkan diri dengan berkunjung ke rumah Emma.
"Hai beb, gimana kabar kamu kok kayaknya lagi nggak baik sih."
"Iya..gelisah aku Ma, Rudy nggak ada kabarnya hampir seharian ini."
"Beb, aku mau kasih tau kamu sesuatu tapi sebenernya nggak enak juga mau kasih tau kamu."
"Mau kasih tau apa emangnya beb?"
"Aku sudah berkali-kali liat Rudy bareng sama cewek lain boncengan motor mesra banget. Aku nggak mau kasih tau kamu karna kamu begitu cinta sama Rudy, aku ngerasa nggak enak aja. Tapi aku kasian sama kamu karna selalu ditipu sama si Rudy itu."
"Makasih beb kamu masih perhatian sama aku meski aku udah jarang ngumpul sama kamu dan yang laen karna terlalu sibuk dngan Rudy."
"Iya sama-sama. Udah ya nggak usah galau lagi. Dibikin hepi aja beb. Jangan terlalu dipikir."
Hingga sore hari Rudy tak jua ada kabarnya. Mencoba untuk tetap tenang, aku pun iseng main facebook dan tak sengaja melihat foto profil Rudy dengan background pantai. Yang aku tahu, selama kami bersama kami belum pernah berfoto di pantai. Sambil menahan amarah dan rasa gelisahku, aku terus saja mencoba meneleponnya dan mengirim chat berantai. Dan tetap saja hal itu hanya sia-sia saja. Seakan ingin menangis, pikiranku begitu kacau tak tahu harus bagaimana lagi.
Hingga hampir tengah malam Rudy baru mengangkat teleponku. Aku tak bisa lagi menahan pedih dan emosiku.
"Halo Rudy, kamu kemana aja sih beberapa hari ini? Sulit bgt hubungin kamu."
"Maaf aku sibuk."
"Sesibuk apa sih kamu? Aku rasa kamu bukan seorang karyawan yang lagi deadline. Harusnya kamu masih punya sedikit waktu untuk sekedar kasih kabar ke aku kan yank. Ya ampun aku harus gimana lagi sih yank?"
"Coba dong kamu ngertiin sedikit posisi aku."
"Aku kurang ngerti gimana sih?"
"Capek aku yank. Jangan marah-marah lagi ya."
"Aku mau tanya sama kamu, itu foto profil kamu kok di pantai emang kamu kapan ke pantainya?"
"Kemaren."
"Sama siapa sih? Kok nggak ngajak aku."
"Ngapain juga ngajakin kamu. Aku pergi sama cewek."
"Maksudnya apa nih?"
"Iya kemaren aku pergi ke jogja jemput cewek aku di bandara terus liburan ke pantai."
"Wah hebat ya!"
"Terus sekarang kamu mau apa?"
"Aku mau penjelasan! Kenapa kamu bisa ngelakuin itu ke aku?"
"Itu karna kamu sendiri. Aku udah bosen sama kamu yang selalu marah-marah nggak bisa ngertiin aku."
"Jadi aku yang salah?! Apa kabar kamu dengan sikap kamu dulu yang suka main serong?"
"Kamu sendiri bisa selingkuh di belakang aku! Sekarang aku udah nyaman sama dia. Jadi lebih baik kita putus aja."
"Aku selingkuh? Kenapa kamu bisa bilang aku selingkuh padahal aku sama sekali nggak pernah selingkuh!"
"Sudah ya Fanda. Aku capek. Keputusanku udah bulat, kita putus aja mulai detik ini."
"Aku nggak mau!"
"Fanda, kamu itu cantik, kamu menarik. Kamu bisa dapetin yang lebih dari aku."
"Nggak bisa! Aku udah nyaman sama kamu, aku udah kasih seluruh hati aku dan dengan semudah itu kamu nyuruh aku pergi waktu aku bener-bener sayang sama kamu? Aku nggak nyangka kamu bisa kayak gitu."
"Maaf Fanda. Mungkin ini yang terbaik. Jika jodoh kita bisa ketemu lagi."
"Bullshit!! Aku baru sadar jadi selama ini kamu udah selingkuh di belakang aku iya kan. Dan ucapan-ucapan kamu akhir-akhir ini juga sebenarnya emang jadi pertanda ya. Feeling aku emang nggak pernah salah, kamu emang ada main sama cewek lain."
"Emang iya."
"Jahat kamu."
"Tapi aku nggak mau."
"Terserah kamu."
"Ng..nggak mau." aku mulai menangis terisak.
"Kenapa kamu masih mau sama aku sih? Kamu udah tau aku nggak baik buat kamu."
"Nggak tau. Kamu udah berkali-kali tanya tapi jawabannya tetep sama aja. Aku nggak tau kenapa bisa begitu cinta sama kamu."
"Tapi aku nggak bisa lagi sama kamu."
"Huhuhu.. nggak mau." aku kembali menangis terisak.
"Udah jangan nangis lagi. Setelah ini kamu udah nggak perlu lagi sakit hati karna aku."
"Aku bilang nggak ya nggak. Aku nggak mau kita putus. Enggak Rud nggak akan!"
"Iya oke oke kita nggak putus. Udah ya aku capek mau istirahat."
"Aku mau ketemu sekarang!"
"Besok ya sayang. Besok kita ketemu."
Semalaman aku tidak bisa tidur. Aku hanya bisa menangisi nasibku yang selalu tidak beruntung dalam hal cinta. Kenapa harus jadi seperti ini? Jika aku tahu akhirnya akan begini, aku lebih baik menjadi Fanda yang begitu keras hati seperti sebelumnya. Aku hanya ingin dicintai seperti aku begitu mencintai.
Esoknya aku menunggu Rudy datang. Namun ia tak juga datang. Aku coba menghubungi tapi tak ada jawaban. Bahkan kontak BBM ku sudah di delcont oleh Rudy. Hati dan pikiranku begitu kacau. Aku tak tau harus bagaimana lagi mengobati kacaunya hati ini. Aku mencoba untuk tetap tegar dihadapan keluarga ku. Pagi itu semua keluargaku mengadakan acara rekreasi ke sebuah tempat wisata bernama Lubang sewu. Sepanjang perjalanan pikiranku hanya tertuju pada Rudy, Rudy dan Rudy. Bisa dibayangkan rasanya ketika sedang putus cinta, pikiran dan hati kacau balau tapi kamu harus berusaha tegar dihadapan keluargamu berpura-pura tak terjadi apa-apa.
Sesampainya di Lubang Sewu, aku masih berpura-pura ceria dihadapan keluargaku. Saat acara makan-makan, berbincang-bincang, aku berusaha tetap tegar. Namun aku tidak bisa menyembunyikan rasa sedihku lagi. Aku menyendiri di bawah pohon memandang hampa ke tengah waduk. Saat itu cuaca masih begitu terik, lalu seketika langit mulai mendung seperti keadaan hatiku saat itu. Disesi foto-foto bersama keluarga, aku mencoba memasang senyuman agar mereka tak menyadari kepedihanku saat itu. Hari itu berakhir dengan rasa gelisah dihatiku. Aku mulai kesal karna Rudy tidak menepati janjinya. Tiba-tiba Frans bertanya tentang keadaanku.
"Hai Fanda apa kamu baik-baik saja?"
"Aku begitu kacau."
"Apa itu karna Rudy?"
"Ya siapa lagi kalai bukan dia."
"Fanda aku mau kasih tau kamu sesuatu. Sebenarnya Rudy melarangku untuk memberitahumu tapi aku kasian sama kamu."
"To the point aja."
"Tapi kamu nggak apa-apa kan?"
"Iya."
"Aku kasih liat kamu foto."
Tak lama, Frans pun mengirim sebuah foto padaku. Begitu hancurnya aku melihat foto Rudy bersama perempuan lain di tempat yang sama denganku saat itu.
"Jadi Rudy ingkar janji hanya karna perempuan ini." aku mencoba menahan air mataku.
"Kamu sekarang dimana, Nda?"
"Lubang sewu."
"Loh emang kamu nggak ketemu sama Rudy?"
"Enggak."
"Ya ampun sebenernya kalian ini kenapa sih?"
"Jangan tanya aku. Tanya aja sama si Rudy kenapa dia bisa nyakitin aku kayak gini."
"Kamu beneran cinta sama Rudy?"
"Sepenuh hati."
"Aku coba bantu kamu buat meyakinkan Rudy tapi kamu jangan bilang kalau aku yang kasih tau kamu foto itu ya."
"Oke."
Hari mulai gelap dan di sepanjang perjalanan aku selalu memikirkan Rudy. Aku terus mencoba meneleponnya tapi nomernya sudah tidak aktif. Apakah semuanya harus berakhir seperti ini lagi?