
Karna terlalu sering bersama Andika, aku jadi merasa benar-benar yakin telah menemukan seseorang yang aku cari selama ini. Sembari memutar lagu 'Akhirnya Kumenemukanmu', aku selalu membalas chat dari Andika. Andika seakan tahu bahwa aku butuh dihibur. Dia selalu saja bisa membawa kebahagiaan dalam suasana hatiku yang kalut. Meskipun aku sudah mulai menaruh hati dengan Andika, aku masih tidak mampu mengungkap kebenarannya pada Fery.
"Fanda, kamu bilang kan kalo kamu mau cari seseorang buat seriusan. Terus apa kamu udah menentukan pilihan?"
"Aku baru sadar selama ini aku hanya terbawa suasana hingga bisa bersama Fery. Kalo aku pikir lagi, aku memang tak punya rasa spesial pada Fery. Kenapa aku justru suka sama kamu padahal aku baru aja knal dekat sama kamu?"
"Ya nggak tau lah. Hehehehe. Tapi serius nih kamu suka aku?"
"Ya serius lah."
"I Love you sayang."
"Ih pake sayang sayang segala."
"Iya kamu kan sayangnya aku."
\*\*\*
Suatu hari Fery mengajakku untuk berjalan-jalan. Sebenarnya aku sudah merasa tidak nyaman bersama Fery, tapi aku masih menunggu waktu yang tetap untuk mengatakan kebenarannya pada Fery.
"Kamu laper nggak, Fanda?"
"Nggak begitu laper sih."
"Temenin aku makan yuk."
"Iya oke."
Fery pun mengajakku ke sebuah depot bakso. Kami memesan bakso dan es teh manis. Cuaca saat itu sedikit gerimis. Seperti mempunyai indra keenam, aku tahu alasan Fery mengajakku jalan-jalan kali ini karna suatu alasan. Hubunganku dan Fery memang sudah merenggang sejak Andika hadir dalam hidupku. Fery mengajakku bicara namun aku hanya membalas dengan sedikit kata. Saat itu aku pun mencoba menghindar dengan menyantap bakso dihadapanku. Dari tadi ponselku berbunyi terus, lalu Fery pun mencoba membuka ponselku. Tak kusangka, Fery melihat chat dari Andika yang selalu memanggilku sayang. Mengetahui hal itu membuatku jadi salah tingkah dan juga bingung. Aku merasa tak enak pada Fery karna harus mngetahui hal itu.
"Nih ada chat dari Sayang bebeb." kata Fery sambil menunjukkan ponselku sambil tersenyum pahit.
"Oh." Aku tak tahu harus berkata apa. Aku merasa malu karna ketahuan.
Sesampainya di rumah, aku langsung mengatakan pada Andika bahwa Fery melihat isi chatnya padaku.
"Mas, tadi aku ke gap sama Fery karna chat kamu."
"Terus reaksi dia gimana?"
"Biasa aja malah. Aku jadi bingung sendiri."
"Ngapain bingung? Kenapa nggak jujur aja sekalian?"
"Waktunya kurang tepat. Aku mau ngomong baik-baik sama dia nanti."
"Ya terserah kamu aja. Ngomong-ngomong kamu sampe sekarang masih antar jemput sama si Fery kan?"
"Iya mas."
"Aku nggak suka lietnya. Bikin sepet pemandangan aja."
"Cemburu ya?"
"Nggak, biasa aja."
"Kalo cemburu ngaku aja."
"Aku nggak mau liet kamu antar jemput lagi sama si Fery. Lebih bagus kalo aku yang antar jemput kamu tiap hari."
"Iya iya deh."
Sejak saat itu aku benar-benar mulai menjauh dari Fery. Bahkan chat dari dia juga aku jarang membalasnya. Aku jadi lebih sering berkumpul bersama Andika dan kawan-kawan.