
Seringnya teman-temanku main ke kantor membuat mereka juga mengenal para karyawan kantor termasuk Pak Harry. Terkadang temanku Luna juga sering diajak jalan-jalan dan makan malam bersama denganku, Pak Harry dan juga Pak Roy. Awalnya aku tidak merasa ada yang aneh. Namun sejak Pak Roy mengajak Luna mengobrol di ruangannya membuatku merasa ada hal aneh yang sedang mereka sembunyikan dariku. Aku bisa merasakannya karna insting seorang wanita itu benar-benar kuat.
Setiap weekend, Pak Harry dan Pak Roy pulang ke Jakarta. Dan seperti biasanya, Pak Harry menanyakan ingin dibawakan oleh-oleh apa sepulangnya dari Jakarta.
"Fanda, nanti abis dari Jakarta kamu mau dibawain apa?"
"Ah nggak pak. Nanti malah ngrepotin Pak Harry."
"Nggak kok kamu tenang aja. Nanti biar Pak Roy beliin oleh-oleh buat kamu sama si Luna ya."
"Terima kasih Pak."
"Iya sama-sama."
Selama para karyawan mudik, aku lebih sering main bersama teman-temanku. Kebetulan Sabtu sore iti ada acara penggalangan dana di dekat rumahku dan mendatangkan artis ibukota Zivillia yang lagi hits kala itu. Sayangnya kala itu kami belum memiliki ponsel canggih seperti sekarang, jadi tidak bisa mengabadikannya. Setelah acara selesai, aku pun langsung pulang bersama teman-temanku. Malamnya kami pun melanjutkan menonton acara musik itu. Malam harinya masih ada acara dangdutan dengan Orkes Melayu Monata. Ya, walau sebenarnya aku tidak begitu suka musik dangdut tapi aku ikut-ikutan menonton saja daripada tidak ada hiburan di rumah.
Ditengah acara aku mendapat pesan dari Pak Harry. Aku begitu terkejut dengan isi pesannya.
*Fanda, boleh saya jujur sama kamu?
Boleh silahkan Pak.
Sebenarnya saya suka sama kamu. Bolehkah saya jadi pacar kamu. Apapun yang kamu mau bakal saya kasih*.
Astaga-naga, aku bingung dan takut bercerita dengan teman-temanku. Selama acara musik berlangsung aku sama sekali tak bisa tenang bahkan saat pulang dan sampai di rumahpun aku masih saya kepikiran. Bagaimana mungkin Bosku yang sangat kuhormati jatuh cinta padaku. Selama ini aku yang tidak sadar bahwa sikap Pak Harry yang begitu memanjakanku baik di kantor dan di luar kantor itu karna beliau menyukaiku. Oh Tuhan cobaan apa lagi ini? Aku sama sekali tak terpikir akan menerima perasaan Pak Harry dan hidup dengan kesenangan. Aku masih takut karma.
Kembalinya Pak Harry dan Pak Roy ke kantor membuatku merasa canggung. Saat kantor sepi Pak Roy memanggilku ke ruangannya.
"Fanda, jujur ya sebenarnya yang membuatmu tak bisa menerima Pak Harry kenapa?"
"Itu karena...."
"Apa karna status Pak Harry yang sudah menikah dan punya anak?"
"Iya Pak."
"Tapi kamu masih bisa kan bersikap biasa saja sama Pak Harry?"
"Bisa Pak. Tapi saya benar-benar canggung."
"Sudahlah tak apa. Anggap saja tidak pernah terjadi."
Selanjutnya aku menjalani hari-hariku di kantor seperti biasanya.