My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Masa Kecil Fanda



Mentari pagi bersinar membangunkanku dari tidurku. Masih begitu jelas bagaimana masa kecilku terngiang di kepalaku. Sejenak aku teringat akan semua hal yang kumiliki dulu sebelum semuanya hancur tak tersisa. Mataku kembali terpejam mengingat kembali apa yang sebenarnya tak ingin kuingat lagi. Disinilah awal cerita hidupku dimulai.


Pagi itu ibu dan ayahku sudah bersiap-siap bergegas akan berangkat bekerja. Ibuku bekerja di sebuah sekolah negeri sebagai TU dan ayahku bekerja di sebuah pabrik sebagai seorang "satpam". Saat itu mungkin usiaku masih berumur 4 tahun. Selayaknya anak seusia itu masih senang-senangnya bermain, terutama bermain boneka. Sambil menggendong boneka kelinci kesayanganku, aku menarik baju ibuku merengek ingin ditemani ibuku untuk bermain. Ibuku hanya berkata, "Nanti saja ya!". Tanpa menghiraukan perkataan ibu, aku terus saja merengek ingin ikut ibuku bekerja. Sikapku yang seakan mengganggu itu membuat ibuku geram dan memarahiku hingga merobek boneka kelinci kesayanganku. Seketika itu juga aku langsung menangis menjadi-jadi. Tak tega melihat aku menangis ayahku langsung memelukku dan menggendongku. Dia menenangkanku dan menjanjikan akan membelikan boneka lagi jika aku berhenti menangis. Entah mengapa bujukan ayah begitu menyejukkan hatiku.


Setiap hari ketika ayahku dan ibuku bekerja, aku selalu dititipkan di rumah nenekku. Aku tidak terlalu suka bersama nenek karena aku merasa nenek tidak pernah menyukaiku. Aku lebih suka ikut kakekku bekerja. Kakekku bekerja sebagai supir truk pemuat kayu. Betapa senangnya aku bisa naik mobil berkeliling. Saking senangnya aku sampai bernyanyi dan berjoget. Terkadang kakekku juga mengajakku ke sebuah warung untuk sarapan atau sekedar membelikanku camilan. Berbeda jika aku dengan nenek. Aku lebih sering dimarahi dan nenek agak kasar terhadapku. Aku begitu takut jika aku harus tinggal bersama nenek.


Masa kecilku mungkin bisa dibilang sangat kesepian. Tiap hari aku selalu ditinggal ayah ibu bekerja, di rumah nenek aku selalu bermain sendiri. Bahkan aku tidak punya teman satupun. Ah, rasanya aku ingin sekali merajuk saat itu. Tapi aku begitu takut.


Sore tiba, waktunya ibu menjemputku pulang. Begitu gembiranya aku menyambut kedatangan ibu. Namun yang kulihat hanya wajah cemberut ibuku saja. Tak ada sedikit senyum di wajah ibu. Walau rasanya sedih tapi aku tetap berusaha membuat ibuku tersenyum. Aku datang menghampirinya, memeluknya bahkan bersikap manja. Namun ibu selalu saja menolak dengan alasan "Ibu capek!


Malam harinya setelah kembali dari rumah nenek, aku menunggu ayahku pulang bekerja. Aku bermain bersama kakak-kakak penghuni indekos karna memang saat itu aku masih tinggal di sebuah indekos bersama ayah ibu. Rasanya begitu senang ada yang mengajakku bermain. Berbeda saat aku di tinggal ayah ibu bekerja atau berada di rumah nenek. Begitu sepi..