My Ex-Boyfriend

My Ex-Boyfriend
13. Gabriel. Ayo pacaran!



Sudah beberapa hari ini gadis cantik ini berusaha menghindari Gabriel. Dia tidak pernah marah atau kecewa dengan sosok itu.


Tapi, Dia hanya menjauh karna setiap berdekatan dengan Gabriel jantungnya berdetak dengan sangat kencang.


"Aulia" Panggil Bunda.


Aulia yang tengah mengerjakan PR berbalik menatap Bunda yang sudah berdiri didepan pintu.


"Bisa bantu Bunda gak. temani Bunda donk ke supermarket depan kompleks."


Dengan cepat Aulia dan Bunda menuju supermarket. Mereka berdua naik motor bebek.


Malam ini terlihat indah dengan bintang dan bulan yang bersinar. Tidak membutuhkan waktu lama mereka sampai.


Bunda masuk ke dalam sedangkan Aulia hanya duduk di bangku yang ada didepan supermarket menikmati langit malam.


Bunda sudah selesai dengan yang dibeli dan bersiap untuk membayar.


"Tante." Panggil seseorang.


Bunda terseyum ramah. Gabriel yang kebetulan ada didepannya ini langsung mempersilahkan bunda bayar duluan.


"Mba. Biar barang ibu ini dulu di hitung."


"Gak perlu nak. Kamu duluan saja. Jadi, kamu bisa temani Aulia yang ada diluar dulu."


Gabriel mengangguk mengiyakan. Dia berjalan keluar setelah berpamitan dengan Bunda.


Wanita itu tersenyum melihat kelakuan Gabriel. Jarang jarang ada anak muda sebaik dirinya.


Gabriel mendekati seorang Gadis yang tengah melamun melihat langit malam. Dengan pelan dia duduk disampingnya.


"Seriusan banget sih Lia."


Aulia membulatkan matanya kaget. Dia langsung berdiri. Gabriel memasang wajah sedihnya.


"Aku ada salah sama kamu." Tanyanya.


"Gak. Lo gak ada salah sama Gue." Jawab Aulia dengan cepat.


Gabriel menggeleng.


"Kalau kamu gak marah. Kenapa beberapa hari ini kamu kaya menghindari aku."


"Itu karna Gue cuma iseng aja sih." Bohong Aulia.


Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia perlahan kembali duduk disamping laki laki itu.


"Iseng. Kamu tahu gak aku selalu mikir keras kesalahan apa yang sudah aku buat sama kamu? sampai kepala aku pusing."


Aulia memegang kepala Gabriel. Kini giliran Gabriel yang kaget dengan tidakan dan raut wajah Aulia yang khawatir dengannya.


Ini tidak seperti Aulia.


"Lo jangan mikir keras lagi. Gue minta maaf ya. Setelah ini Gue janji gak gitu lagi."


"Kenapa?"


"Gue gak mau Lo sakit Gabriel."


Wajah mereka berdua sama sama memerah. Aulia menuduk memaikan tangannya dan Gabriel berusaha menatap ke sana ke sini.


Padahal dia sering mengatakan hal itu kepada Aulia tapi saat gadis ini mengatakan tentang itu membuatnya berdebar.


"Lia. Jangan menghindar lagi ya."


"Iya. Gue gak akan lakuin itu kok."


Aulia menatap ke arah supermarket. Kenapa Bundanya lama sekali?.


Hening beberapa saat dan datanglah orang yang ditunggu olehnya. Bundanya datang membawa barang yang dia beli.


"Aulia sepertinya Bunda mau martabak deh."


"Kalau begitu kita beli sekarang."


"Bunda harus pulang neh. Suami Bunda sudah nunggu dirumah. Jadi, Bunda minta tolong kamu belikan sama Gabriel ya. Bunda bisa pulang sendiri kok."


Bunda naik ke motor dan meletakkan barang barangnya.


"Bunda gimana sih? Gabriel mau pulang tuh."


Aulia melihat ke arah Gabriel meminta laki laki itu mengangguk mengiyakan. Namun, laki laki itu malah setuju membelikan Bundanya martabak.


Alhasil sekarang dia dan Gabriel berboncengan ke penjual Martabak.


Tempatnya lumayan jauh dari supermarket.


Sepanjang jalan Aulia gugup sekali. Apalagi dia disuruh memeluk laki laki ini.


"Hah tutup." Ingin rasanya menangis melihat tulisan itu menempel di sana.


"Mau cari ditempat lain." Tawari Gabriel.


"Lebih baik kita pulang saja." Aulia melangkah ke motor dengan lesu.


"Pinjam bentar boleh gak."


"Kenapa?" Tanya Aulia.


"Gak sih. Cuma pinjam bentar." Gabriel melepaskan tangan Aulia setelah dirasa berhasil mengukur ukuran tangan gadis itu.


Aulia menahan pegangan tangan itu. Dia menatap kedua mata Gabriel dengan tulus.


"Jangan dilepas. Gue suka saat lo pegang tangan Gue seperti ini. Rasanya hangat dan ini menyenangkan."


Aulia menuduk lalu kembali mendongak. Gabriel masih diam membisu.


"Lo mau tau alasan Gue menghindari lo beberapa hari ini."


Dia mengangguk.


"Karna setiap dekat sama Lo jantung Gue berdetak sangat kencang. Awalnya Gue gak terima dengan perasaan ini dan selalu menyangkalnya. Tapi, sekarang Gue paham."


"Paham tentang apa?"


"Gue suka sama Lo Gabriel. Munafik jika Gue gak suka sama cowk sebaik dan seperhatian sama Lo. Dulu Gue orangnya tertutup tapi saat sama Lo semua berubah. Yang Gue harapkan diberikan oleh Lo."


Astaga rasanya Gabriel ingin menangis.


"Gabriel. Gue suka banget sama Lo. Gabriel, Ayo pacaran."


Aulia terseyum. Dia sudah dititik ini dan tidak peduli akan diterima atau ditolak. Setidaknya dia sudah mengatakan apa isi hatinya.


Gabriel masih tidak percaya dengan kata dan ajakan pacaran yang di lontarkan oleh Aulia.


Dia benar benar tidak menyangka ini akan terjadi. Mimpi apa dia semalam sampai sampai Aulia seperti ini.


Dengan cepat Gabriel memeluk Aulia.


"Harusnya Gue yang nembak Lo."


Dia menangkup pipi Aulia.


"Rasa suka aku sama kamu itu setiap hari makin bertambah. Lia adalah orang yang paling aku sayang. Terima kasih sudah membalas perasaanku."


Aulia menangis.


"Kita ulang ya. Aulia mau gak pacaran sama Gabriel."


Gadis itu mengangguk. Gabriel menghapus air mata gadis itu dan memeluknya dengan erat.


Sungguh ini mengharukan walau salah tempat. Setidaknya sekarang mereka memiliki hubungan.


Gabriel berjanji akan selalu menjaga Aulia dan membuatnya bahagia setiap saat.


Begitu juga dengan Aulia. Gadis itu berjanji pada dirinya akan selalu bersama dengan Gabriel dan tidak akan meninggalkan laki laki setulus ini.


Kini, Aulia sudah sampai dirumah.


Dia terseyum senang melihat pesan yang masuk itu dari Gabriel pacarnya.


Memikirkannya saja sudah membuat hati nya berbunga bunga.


"Gue gak pernah sebahagia ini. Tadi, memang memalukan tapi tidak papa. Gue bahagia sekali."


Aulia memeluk erat handphonenya. Andai dia tadi pulang dan tidak mendengarkan permintaan dari Bunda mungkin dia harus menghindari Gabriel lagi.


Sekarang dia tidak perlu lagi melakukan itu. Sungguh menyenangkan sekali.


Bunda masuk.


"Belum tidur."


"Belum Bun." Aulia bangun dari berbaringnya.


"Tidur gih. Besok harus sekolah dan harus ketemu sama Gabriel kan."


"Bunda apaan sih."


"Memangnya kenapa? Kalian cocok kok."


Bunda menutup pintu sambil tertawa kecil. Ayah yang kebetulan ingin kekamar melihat Bunda tertawa mendadak bingung.


"Kenapa Bun."


"Bunda gemes deh sama drakor tadi."


Bunda memeluk erat lengan Ayah.


"Kapan Bunda lihat drakor. Bukannya tadi setelah pulang dari supermarket sibuk di dapur."


"Ini drakor versi nyata sayangku."


Ayah menggelengkan kepalanya. Dia tidak paham dengan drakor versi asli yang dimaksud Bunda.


Sedangkan dikamar Aulia. Gadis itu menahan rasa malunya. Bundanya itu berhasil membuatnya malu setengah mati.