
Hari sabtu akan segera berakhir.
Bagi yang punya pacar atau gebetan malam minggu adalah hal yang ditunggu. Jalan jalan dengan pasangan.
Bergendengan tangan menjelajahi jalan menuju tempat yang sudah di sepekati sebelumnya. Namun berbeda dengan para jomblo.
Berharap saja malam itu hujan dengan sangat deras. Biar pada dirumah aja dan gak pergi jalan. Begitulah nasib jomblo.
Jika memungkin disuruh untuk pindah ke mars mungkin sudah otw daripada lihat ke uwuan orang. HEH Capek curhat!.
Begitu yang terjadi dengan Gabriel. Dia tengah menyisir rambutnya dengan sisir kesayangannya. Malam ini dia akan jalan jalan dengan Aulia.
Hanya berdua tanpa ada para teman teman. Awalnya dia sudah menyiapkan mental ketika Aulia menolak.
Namun saat mendengar kata 'iya' dari mulut seorang Aulia. Gabriel merasa jiwanya diangkat ke langit saking tingginya rasa senangnya.
Karna terlalu bahagia. Dia yang jatuh karna lantai basah tetap terseyum. Rasa sakit akibat jatuh seakan menghilang.
Ini sebuah keajaiban dalam kehidupan seorang Gabriel. Tentu saja malam ini dia akan tampil dengan sangat tampan.
Rambut sudah rapi.
Baju sudah pas dan sepatu juga.
Naufal melihat kearah sahabatnya. Betapa hebohnya orang ini pikirnya.
Sambil bersiul siul Gabriel jalan keluar menuju motor 'Scopy' nya. Bermodalkan duit tabungan dari menghemat jajan.
Bismillah lancar.
Aulia duduk dibangku terasnya. Dia sibuk dengan Handphone ditangannya menunggu orang yang akan jalan dengannya.
Aulia juga bingung alasan dia menerima. Karna Ayah dan Bunda lagi kekondangan dan dia males ikut makanya Aulia mengiyakan ajakan seorang Gabriel.
Dia berpikir lebih tidak menyenangkan berkumpul dengan para orangtua. Ayah yang selalu membahas bisnis dan Bunda yang ngegosip dengan para teman temannya.
Mungkin dengan Gabriel akan terhibur. Walau dia sendiri kurang yakin.
Suara motor terdengar. Aulia menghampiri Gabriel. Dia menutup pagarnya.
"Ini helmnya cantik" ucap Gabriel.
Aulia mengambil dan langsung naik. Sepanjang jalan tidak ada pembicaraan apapun. Hanya ada suara motor miliknya juga pengendara lain yang melewati mereka.
Ingin rasanya Gabriel menarik tangan Aulia lalu menyuruhnya berpegangan dengan cara memeluknya dari belakang.
Namun itu hanya mimpi terindahnya saja. Mana mau sorang Aulia melakukannya. Jujur dia menerima permintaan ini saja sudah sangat menyenangkan.
Jadi, jangan berharap lebih untuk hal yang tidak pasti dan tidak akan terjadi. Kembalilah kepada kenyataan yang memang sedikit menyakitkan jiwa dan juga raga seorang Gabriel.
"Kira kira mau kemana?" tanya Gabriel membuka suara setelah perang batin dengan dirinya.
"Mana Gue tahu. Gue kira lo sudah nentuin tempat tadi"
"Gini. Aku mau melakukannya cantik. Tapi, takutnya kamu gak suka." perjelas Gabriel sebelum nanti salah paham. Kan bahaya.
"Kalo Gue setuju ikut sama lo. Berarti Gue setuju dengan tempat yang lo pilih. Kecuali-"
"Kecuali apa?" tanya Gabriel gugup.
"Lo milih tempat mesum atau gak baik buat Gue" jawab Aulia dengan nada agak tinggi.
"Mana mungkin Aku bawa kamu ketempat seperti itu. Aku laki laki baik baik kok. Tenang aja"
"Baguslah" balas Aulia.
Lagi dan lagi hanya ada keheningan yang menemani ini semua. Setelah muter muter Gabriel memutuskan singgah di tempat biasa dia dan kedua sahabatnya itu nongkrong.
"Sate ibu mumun" mungkin ini tempat yang tepat dan cukup untuk dompet tipisnya. Kalau harus ke restoran yang ada uang untuk satu bulannya habis seketika.
Aulia turun lalu menyerahkan helmnya. Gabriel menerima dengan senang hati. Terlihat gadis itu menerima tempat ini. Dan Gabriel berteriak bahagia dalam hatinya.
"Ayo" ajak Gabriel.
Mereka duduk dibangku dekat pojok. Gabriel mendekati penjual dan memesan sate itu.
"Tunggu sebentar ya" ucap Gabriel duduk bersebrangan dengan Aulia.
Gadis itu mengangguk lalu sibuk dengan Handphonenya. Gabriel lagi memikirkan topik pembicaraan.
Dia menggerutu dalam hati. Sungguh suasana sunyi seperti ini tidak menyenangkan sama sekali. Dia mengutuk otak kecilnya ini. Saat seperti ini tidak berfungsi sama sekali.
"Hmm...Cantik"
"Kamu suka kan sama sate. Maaf ya gak bisa ajak ketempat yang bagus. Pasti ini pertama kali bagi kamu diajak malam mingguan ke tempat beginian" lesu Gabriel.
"Gue suka sate kok" balas Aulia.
Mata Gabriel langsung berbinar senang. Dia terseyum lega.
"Dan Gue baru kali ini pergi malam mingguan"
"Hah- Masa sih cantik. Kamu itu incaran semua orang masa baru pertama kali"
"Gue selalu nolak. Menurut Gue lebih haik rebahan dirumah dan baca Novel atau main hp" sahut Aulia dengan wajah datar andalannya.
"Lalu kenapa kamu nerima tawaran aku" tanya Gabriel dengan polos.
Aulia terdiam beberapa saat.
"Kenapa ya? Mungkin karena nyaman aja sama lo." balas Aulia dengan santai.
Jantung Gabriel menggila. Dia berusaha untuk tidak salting. Pasti wajahnya tengah memerah sekarang. Tangannya saja sampai gemetara saking gugupnya.
"Nyaman" gumam Gabriel namun terdengar oleh Aulia.
"Lo memang suka ganggu Gue. Tapi, keliatannya lo tulus mau temanan sama Gue. Jujur Gue bukan orang yang bisa beradabtasi dengan mudah. Dulu aja bisa dihitung berapa teman Gue."
Gabriel tertekun dengan jawaban Aulia.
"Gue hanya takut kalau punya teman munafik gitu. Tapi, saat kenal Dinda dan Laura Gue berusaha untuk menepis segala pemikiran itu dan berusaha membuka diri sama mereka dan hasilnya Gue jadi akrab sama mereka."
Gabriel mengangguk.
"Gak semua orang gitu Au. Jika lo butuh teman keluh kesah telpon aja Gue."
Perasaan hangat masuk kedalam lubuk hati seorang Aulia. Dia dapat merasakan itu. Rasa nyaman itu ada.
Segala ucapan yang diberikan Laura dan Dinda tentang Gabriel seakan masuk kembali kedalam pemikirannya.
Seakan yang mereka katakan itu benar dan dia sekarang ingin membenarkan. Apa selama ini dia salah telah berpikiran buruk tentang Gabriel?
Rasa bersalah itu terasa.
"Sorry sudah mikir buruk tentang lo"
"Gak papa cantik"
Sate datang. Mereka memakan dengan lahap. Sekekali Gabriel bercanda dan hanya ditanggapi Aulia dengan seyuman tipis.
"Ada kemajuan" batin Gabriel.
Mereka melanjutkan perjalanan hingga berhenti dipasar malam.
Gabriel dan Aulia jalan beriringan melihat lihat.
Tiba tiba tangannya ditarik ketempat orang jual gelang.
"Cocok buat kamu" Gabriel memasangkan.
"Gak perlu" balas Aulia.
"Gak papa. Sebagai hadiah dari Aku. Maaf ya kalau murah"
Gabriel membayar. Lalu mengajakku kembali jalan.
"Lebih baik kita pulang. Nyokap sama Bokap sudah pulang deh"
"Ya sudah. Ayo"
Gabriel mengantar pulang Aulia dengan selamat. Tidak ada cacat dan luka secuil pun.
Gabriel melepaskan helm yang dipakai oleh gadis itu tanpa ada berontakan.
"Makasih. Maaf jika buat lo harus ngeluarin uang"
"Wajar kali Au. Aku yang ajak kamu berarti berani nanggung biaya. Oke selamat malam. Mimpi yang indah. kalau boleh minta mimpiin Aku ya"
Aulia terkekeh pelan.
"Apaan sih lo. Bye"
Gabriel baru pergi setelah Aulia benar benar masuk kedalam rumahnya. Tanpa disadari sedari tadi ada yang memerhatikan.